Home Pecas Ndahe

Juni 18, 2007 § 23 Komentar

There’s no place like home. Itu sebabnya ada ungkapan home sweet home. Tapi, saya baru benar-benar merasakannya malam itu, setelah mengantarkannya pulang ke rumah ibunya.

Yeah, I am finally homeafter all of those jumpin’ around feelin’.

Saya mendapati rumah dalam keadaan gelap. Anak-anak dan ibunya pasti sudah dari tadi terlelap. Saya lirik arloji. Hm, sudah hampir pagi. Pelan-pelan saya membuka garasi dan pintu rumah biar ndak membuat mereka terbangun.

Benar saja. Di dalam kamar, saya lihat anak-anak sudah tidur dengan gaya masing-masing. Si sulung, seperti biasa, bergaya bebas. Ranjangnya berantakan. Bantalnya di mana, gulingnya di mana, dia sendiri telentang ndak keruan.

Si bungsu, juga seperti biasanya, tidur dalam posisi yang tak pernah berubah, nyaris tak bergerak. Saya menduga ini pasti turunan ibunya. Hanya perutnya yang naik turun saja yang menunjukkan bahwa dia masih bernapas. Mungkin memang begitu beda anak perempuan dan anak laki-laki kalau tidur.

Tapi, bagaimana pun gayanya, saya selalu merasa bagaikan mandi air dingin di siang yang panas setiap kali melihat mereka tidur. Benar-benar menyegarkan.

Mungkin benar nasihat ayah dan ibu saya dulu. “Menikahlah, Nak. Segeralah punya anak. Anak-anak itu di atas segalanya,” begitu selalu mereka memberi wejangan.

Saya membuktikannya sekarang. Anak-anak memang obat paling manjur untuk semua rasa lelah, kesal, stres, dan semua gejala psikosomatis lain. Merekalah penawar lapar dan dahaga saya dalam kehidupan. Saya selalu menikmati saat-saat seperti ini, menatap mereka tidur. Pelan-pelan saya cium kening mereka satu per satu.

Being home is relieving indeed.

Ah, saya jadi ingat teman perempuan saya itu. Apakah dia juga sudah tidur? Nyenyakkah tidurnya setelah saya tinggal pulang?

Dulu, memang ada masa-masanya ketika dia sulit tidur. Dan, kalau sudah seperti itu, biasanya saya harus siap-siap jadi korban, menjadi tempat sampah buat semua uneg-uneg yang ada di kepalanya, sekaligus teman menjelang ia masuk ke gerbang mimpi.

Mula-mula hanya sekadar pesan pendek, lama-lama berubah menjadi percakapan panjang. Biasanya itu terjadi kalau layar telepon genggamnya sudah tak mampu lagi menampung ketergesaan dan ketidaksabarannya, atau saya agak ogah-ogahan mengetik teks balasan.

Suatu malam, misalnya, dia mengirim SMS berisi pertanyaan semacam ini, “Mas, kenapa sih dulu menikah?”

Saya yang masih di tengah jalan, dalam keadaan letih, lemah, dan lesu setelah seharian melayani perintah ndoro-ndoro juragan di pabrik, tentu saja setengah ogah-ogahan melayani pertanyaan itu. Siapa juga yang masih cukup energi buat menjawab pertanyaan “kelas berat” macam itu. Memangnya saya masih ingat alasan menikah?

Tapi, saya toh ndak tega juga untuk tak segera membalas SMS itu. Masalahnya, apa yang harus saya tulis?

Seorang teman pernah memberi nasihat begini. Kalau kau mendapatkan pertanyaan yang susah dijawab atau tak ingin kau jawab, lebih baik kau balik bertanya kenapa dia menanyakan pertanyaan itu. Aha, sekarang mungkin saat yang tepat untuk memakai nasihat itu.

“Kenapa sih, nanya itu, Jeng?” saya balik bertanya.

Dia langsung membalas, “Pengen tau aja, Mas.”

Saya diam dan tak membalasnya. Eh, pesan pendeknya masuk lagi. “Jadi kenapa, Mas? Answer it, please.”

Halah, ngeyel.

Saya pun menjawab sekenanya. “Wah, saya lupa, Jeng. Sudah lama sih.”

Apa yang saya dapat? Handphone saya langsung berdering. Saya lihat layar monitornya, ehm … “Diajeng calling”.

“Halo … Ada apa, Jeng?” tanya saya pura-pura bego.

“Halah, pakai nanya. Si Mas nggak asyik sih. Lah wong ditanya kok jawabnya asal-asalan … Bla-bla … ”

Begitulah dia, selalu bertanya apa saja. Tapi, begitu dijawab asal-asalan, pasti langsung menelepon. Kapan saja, di mana saja. Kadang-kadang memang merepotkan, tapi saya susah menolaknya. Soalnya saya ndak selalu punya alasan tepat.

Apalagi dia bukan tipe perempuan yang mudah menyerah begitu saja. Selalu saja ada celah buat bertanya. Kalau jawaban saya ndak memuaskan, pasti dia akan kejar terus. Kadang saya heran, kok ya ada perempuan yang selalu penasaran, bertanya-tanya, ingin tahu banyak hal?

Pernah saya bertanya mengapa dia sering menanyakan ini dan itu. Eh, dia menjawab, “Karena aku ndak tahu dan aku tahu Mas punya jawabannya.”

Gemblung! Punya hobi kok takon. Apa ndak ada pekerjaan lain? Dia cuma nyengir, memamerkan wajahnya yang polos.

Tapi, dari situlah saya kemudian tahu bahwa dia tipe orang yang selalu ingin tahu. Seseorang yang selalu bertanya-tanya — seseorang yang gelisah. Dan, dia butuh seseorang yang bisa diajak ngomong, minimal menenangkan kegelisahannya.

Kali lain dia pernah bertanya, dan lagi-lagi membuat saya pusing memikirkan jawabannya. Lah mosok dia tanya begini, “Kenapa sih Mas, kamu ndak mau meninggalkan Mbakyu dan menikahi aku saja? Memangnya dia bisa membuatmu tertawa … seperti yang selalu kulakukan?”

“Mungkin dia memang jarang membuat saya tertawa, tapi dia tak pernah membuat saya menangis, Jeng,” jawab saya setengah jengkel, setengah males, sedikit ketus.

Skak mat. Tampaknya dia menyadari kesalahannya. Sejak itu dia tak pernah bertanya-tanya lagi tentang istri saya, apalagi membanding-bandingkan dengan dirinya. Tapi, hobinya mengajak saya diskusi ndak pernah berhenti, malah kian menjadi.

Well, suka ndak suka, kadang-kadang saya memang menikmati acara ngobrol dengannya. Nyaris selalu ada waktu buat dia. Kapan saja. Di mana saja.

Saya merasa mendapatkan sparing partner yang menyenangkan. It’s about sharing. It’s about being a man.

Pertanyaannya membuat saya berpikir. Otak saya berputar lebih kencang ketimbang ban-ban mobil Formula 1 yang tengah bersicepat di Sepang. Dia membuat saya hidup, bahkan membuat hidup saya jadi lebih hidup lagi. Saya sering merasa jadi laki-laki sejati.

Saya penasaran. Bagaimana dia bisa jadi seperti itu?

Pertanyaan itu baru terjawab kemudian ketika akhirnya saya bertemu ibunya di rumahnya yang asri, beberapa tahun silam.

“Mam, ini kenalin si Mas, temen baruku. Mami pasti suka, deh. Orangnya asyik lo, Mam,” begitu dia memperkenalkan saya kepada ibunya sambil menarik tangan saya.

Saya jengah dan misuh-misuh dalam hati, “Asyik dari Hong Kong.”

Ibunya berumur hampir enam puluh waktu itu. Seorang perempuan Jawa dari Solo. Tapi, sudah lama sekali meninggalkan kampung halamannya karena mengikuti suaminya, seorang pengusaha macam-macam, yang kerap berpindah-pindah kota.

Parasnya mengingatkan saya pada aktris lawas Citra Dewi, bintang film Tiga Dara. Meski sudah memasuki usia lanjut, saya berani bertaruh, waktu muda dulu ibunya pasti secantik putri-putri keraton itu. Pembawaannya lemah lembut, hangat, ramah, dan sabar. Dan, ini yang penting, maminya pintar memasak. Jari-jari ajaibnya mampu menyulap apa saja menjadi masakan yang menggoyang lidah. Setiap kali saya datang, mami menyuguhkan masakan baru.

Ia sering mengajak saya berbicara dalam bahasa kromo inggil — sesuatu yang kadang membuat saya malu karena ndak mampu mengimbanginya. Bahasa Jawa saya belepotan. Akhirnya, supaya ndak terlalu kelihatan ngawur dan wagu, saya sengaja memakai bahasa Indonesia. Netral dan aman.

Yang membuat saya heran, ibunya suka musik jazz. Koleksinya CD dan piringan hitamnya lumayan banyak, rapi tersusun di sebuah lemari besar di ruang keluarga. Saya sampai ndomblong dibuatnya. Dari swing sampai acid jazz. Dari Glenn Miller Big Band hingga Fourplay. Dari Duke Ellington sampai Ella Fitzgerald. Lengkap deh, pokoknya.

Kalau sudah diajak ngobrol soal jazz di pinggir kolam renang berukuran Olympic di bagian belakang rumahnya, wah bisa-bisa sehari semalam pun ndak cukup. Maminya itu hapal betul album-album jazz, nama-nama musisinya, termasuk kehidupan pribadi, juga gosip-gosip mereka.

Tapi, air cucuran atap rupanya tak jatuh ke pelimbahan. Kedua anak perempuannya, terutama si bungsu teman saya itu, sama sekali tak suka jazz. “Ndak mudeng,” katanya. Dia lebih suka pop, yang manis-manis, juga para penyanyi Idol itu. Belakangan ia tergila-gila pada Beyonce.

Dari maminya jugalah sedikit demi sedikit saya tahu perihal keluarga dan teman perempuan saya itu. Dia bungsu dari dua bersaudara perempuan semua. Kakaknya dokter bedah tulang yang bermukim di Jerman bersama suaminya yang dokter juga. Saya pernah bertemu mereka sekali di airport Frankfurt ketika kebetulan mendapat tugas dari pabrik ke Swedia. Mami menitipkan sambal teri kering buatan sendiri untuk anak sulungnya itu.

Saya sempat bingung mesti memanggil kakaknya itu apa, mbak atau dek? Usianya jelas di bawah saya, tapi saya kan temen adeknya. Akhirnya saya panggil namanya saja. Toh dia oke-oke saja.

Papi mereka pria Italia, tapi kemudian menjadi warga negara Indonesia setelah menikah dengan maminya. Waktu si bungsu masih kanak-kanak dulu, papinya selalu menyebutnya faccia d’angelo. Wajah malaikat. Julukan itu membuat saya teringat tokoh Lucia Carmine dalam novel The Sands of Time karya Sidney Sheldon.

Papinya sangat sayang padanya. Semua yang dia inginkan, sang ayah memenuhinya. Berapa pun ongkosnya, bagaimana pun sulitnya. Dia tak pernah ditolak.

Hubungan mereka sangat dekat. Ke mana pun sang ayah pergi, hal pertama yang dilakukan begitu sampai di hotel adalah menelepon anak bungsunya. Begitu juga sebaliknya.

Papinyalah pusat kehidupan perempuan berwajah malaikat itu. Di matanya, papinya adalah lelaki paling tampan sedunia. Pekerja keras yang mencintai keluarga. Itu sebabnya, dunia seolah berhenti baginya ketika papi meninggal karena serangan jantung. Ia kehilangan bukan saja seorang ayah, melainkan figur, sandaran, pusat perhatian, pendeknya hampir segalanya.

Saya ndak tahu mengapa ibunya merasa cocok dengan saya dan mau menceritakan semua tentang keluarganya, bahkan meski saya tak bertanya. Mungkin karena saya dari Yogya, mungkin karena saya juga berbahasa Jawa, bisa jadi karena dia ingin menjodohkan saya dengan anak bungsunya, barangkali oleh sebab lain. Saya ndak tahu dan ndak mau menduga-duga.

Sepekan saja saya ndak ke rumahnya, dia pasti menyuruh anaknya menelepon atau mengirim SMS untuk meminta saya ke datang menjenguk. Alasannya macam-macam, karena mau menunjukkan CD jazz koleksi barunya kek, baru saja memasak lasagna kesukaan saya kek, atau lantaran mau ngajak ngobrol saja.

SMS-nya biasanya singkat, padat, jelas. “Mami nyari kamu, Mas.”

Itu artinya saya harus ke rumah ibunya di pinggir selatan Jakarta itu, mengarungi kemacetan. Terus terang saya tak selalu mampu menolak permintaannya untuk berkunjung. Selain karena segan, keluarga itu memang membuat saya nyaman. Setiap kali ke datang, rasanya saya pulang ke rumah.

Lama-lama saya merasa tempat tinggal mereka adalah rumah ketiga saya, setelah rumah orangtua saya di Yogya dan rumah yang saya tempati bersama anak dan istri sekarang.

Sampai suatu ketika akhirnya teman perempuan saya itu punya apartemen sendiri. Dan, segalanya tak pernah sama lagi …

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 23 Responses to Home Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Home Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: