Penipuan Pecas Ndahe

Mei 16, 2008 § 28 Komentar

Awas, aksi penipuan dengan modus baru mulai mencari korban. Pelaku mencatut nama Pesta Blogger dan membujuk calon korban mentrasfer sejumlah uang sebagai bukti keikutsertaan sebagai peserta.

Sofyan, blogger Semarang, mengisahkan bagaimana trik si penipu di blognya. Untung Sofyan tak terbujuk oleh penipu yang, katanya, menelepon dari nomor +6285865345142.

Pengumuman singkat ini dibuat agar sampean semua berhati-hati dan jangan sampai menjadi korban penipu sontoloyo itu. Bila sampean hendak mengecek informasi dan pengumuman resmi yang berkaitan dengan Pesta Blogger, silakan kunjungi blog Pesta Blogger.

Ariel Pecas Ndahe

Mei 16, 2008 § 30 Komentar

Rubrik Asal Usul yang terbit setiap Ahad menghilang dari harian Kompas mulai awal Mei 2008. Saya beroleh kabar itu dari tulisan teman saya Retty di wikimu.

blog ariel heryanto

Mungkin tak banyak yang menyadarinya, terutama mereka yang bukan pembaca rutin Kompas edisi Minggu. Barangkali juga sudah ada pembaca setia yang bertanya-tanya, tapi belum mendapat jawaban memuaskan.

Dari blog Ariel Heryanto saya memperoleh sedikit gambaran mengapa Asal Usul tak diteruskan lagi. Ariel yang saya maksud bukan penyanyi band Peterpan itu, melainkan Ariel yang akademisi, pengajar di University of Melbourne.

Dari penjelasan Ariel, saya mendapat kesan penghentian itu agak mendadak dan — anehnya — redaksi Kompas tak memberi penjelasan resmi sedikit pun kepada khalayak. Sampean juga bisa membacanya di tulisan berjudul Akhir Sebuah Cerita di blog Ariel itu. « Read the rest of this entry »

Senandika Pecas Ndahe

Mei 15, 2008 § 22 Komentar

Baiklah Dinda, kupersembahkan sebuah senandika. Tentang anak-anak yang menuju mega-mega. Tentang para bidadari yang menemaninya bermain di tepi sorga.

Anak-anak adalah mereka yang mencintai debu, yang berlari di jalan kupu-kupu. Mereka menolak beku dan jemu.

Anak-anak selalu sama di mana-mana. Seperti Totto-chan yang suka menatap ke luar jendela. Buka-tutup buka-tutup daun meja. Entah untuk apa.

Anak-anak mungkin sebuah pesan. Bahwa Tuhan belum bosan pada kita, manusia. Dia beri kita titipan, sebentar saja, untuk segera dipanggil pulang ke haribaan-Nya.

Mungkin Tuhan punya rencana. Kita tak selalu bisa menebaknya. Sebab memang betapa susah sungguh mengingat Dia penuh seluruh.

Mungkin kita cuma bisa meminta agar Dia berikan waktu pada kita untuk tumbuh di jalan cinta dan menyemainya bersama mereka kelak di nirwana …

>> untuk Dinda dan Papin yang baru saja kehilangan putri pertamanya yang tercinta.

Puzzle Pecas Ndahe

Mei 14, 2008 § 20 Komentar

Di pinggir-pinggir jalanan Jakarta, pohon-pohon muda mencoba bertahan dari cuaca. Dahan pada pokok-pokok tua masih tegak, memang, dan daun-daunnya melanjutkan suasana teduh.

Tapi kota metropolitan yang bulan depan berumur 481 tahun itu, yang terdiri dari gedung-gedung jangkung dan gubug-gubug reyot, tiap kali harus menghadapi apa yang telah banyak mengikis peninggalan leluhur: iklim.

Di atas Jakarta, udara lembap, matahari terik. Dan kemudian ada polusi — tanda perubahan hari ini. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan jika ada yang harus dipertahankan di antara tembok-tembok menjulang itu?

Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Tentang amuk dan kerusuhan. Penjarahan. Tentang tangis dan kesedihan. Tentang jasad-jasad gosong. Tentang perempuan-perempuan yang diperkosa.

Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Di hadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan.

Sementara itu, kita tak mau lupa. Kita tak mau dilupakan. Sejarah ditulis. « Read the rest of this entry »

Kenangan Pecas Ndahe

Mei 13, 2008 § 34 Komentar

Hari ini, langit Jakarta masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu. Awan berarak pelan dalam kelabu. Udara lembap.

Tak banyak potongan ingatan tentang hari itu yang masih saya simpan hingga detik ini. Samar-samar, dalam gudang memori yang kian padat ini, berkelebat bayangan-bayangan masa lalu yang semakin lindap.

Ah, betapa pendek ingatan. Betapa kencang waktu beranjak ke depan. Entah sudah berapa ribu fragmen kejadian menghilang, sudah berapa juta momen kepedihan melayang.

Hari ini saya terlontar ke satu dasa warsa yang lalu. Pada sebuah masa ketika Jakarta berkelimun asap dan kebingungan. Dalam lingkungan pabrik yang mencekam, kami bertanya-tanya, apa yang terjadi di luar sana? Siapa yang terbunuh, terpanggang, lari lintang pukang di jalanan? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Mei, 2008 at Ndoro Kakung.