Petrus Pecas Ndahe

November 11, 2008 § 23 Komentar

Dia lahir di fyord yang dingin di sebuah dataran tinggi, di bawah bayang-bayang gunung yang gersang. Tapi ia tak hidup di dunia nyata. Ia bernapas dan berjalan di negeri dongeng … sebagai perempuan salju.

Di cuaca pegunungan yang tak begitu melimpah sinar suryanya, dia tampil bagaikan bidadari yang datang ke bumi untuk mengubah arah sejarah, setelah mengubah hati.

Bahasanya mata pisau yang tajam. “Bila kusentuh mataku, keduanya pun meledak dalam cahaya, dalam curahan kilauan yang putih.”

Perempuan salju selalu merindukan udara gunung, sinar surya, embun, dan harum pinus yang pernah menjadi bagian kehidupannya di masa lalu.

Adakah kenangan yang tersisa dari masa lalunya? Tidak. Kecuali seorang lelaki pengembara yang menunggang angin.

Lelaki itu pernah berjumpa dengan perempuan salju di lembah hijau pinus. Mereka bahkan sempat bercengkerama dalam buaian angin yang mendesah, di bawah rimbun pepohonan.

Di atas bangku mahoni hitam yang liat dan keras, mereka pun bertukar tangkap dengan lepas, berbicara tentang ini dan itu.

“Duhai lelaki pengembara, ceritakanlah kepadaku tentang kekerasan, kebengisan, pertempuran, dan hati nurani,” perempuan itu meminta.

Lelaki pengembara yang tengah mengupas sebutir apel terpaksa menghentikan gerakannya yang halus. Ia menatap lurus dua mata bidadari yang berkeredep bagaikan ratna mutu manikam. Sejenak lalu luruh bergeming.

Tentang kekerasan, terkenanglah lelaki itu sekelebat bayangan tentang kehidupan yang buas di tanah Barat. Tentang dua orang jagoan yang, seraya memegang pistol, berhadap-hadapan demi hidup atau mati. Senjata sudah dikokang dan sebentar lagi menyalak. Tapi, di bawah bayang-bayang pohon yang gelap, seorang penembak lain telah bersiap. Ia membidikkan senapan di tangan, lurus ke leher target.

Dan sejenak kemudian: Dor! Salah satu jagoan terjengkang dengan sebutir peluru menerobos dada. Tepat di jantungnya. Jagoan yang satunya terkulai tangannya. Tapi dia selamat.

Kekerasan semacam itu senantiasa terjadi, dalam dongeng maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang terpaksa menggunakan bedilnya, agar apa yang mengerikan dapat diubah. Tapi sang hero harus bertindak tanpa diketahui siapa pun, juga tidak oleh orang yang ditolongnya. Ia jadi penembak misterius (petrus).

Apakah cara yang gelap itu halal? Mungkin ya. Barangkali juga tidak. Dalam setiap dongeng, yang terjadi, ketika jalan sepi dan dua pihak berhadapan untuk saling dor, ialah suatu “kesenian”. Sang jagoan tak sekadar melakukan kekerasan, karena si musuh juga bersiap dengan senjata — suatu “equalizer” — untuk membela diri dan punya kemungkinan menang.

Dalam setiap pertempuran ada taktik dan strategi bagaimana menumpas lawan. Dan pada akhirnya toh kepandaian bertempur seperti yang diperlihatkan Musashi, dalam kisah samurai Jepang yang legendaris itu, adalah cara untuk tetap hidup dalam proses yang mengerikan.

“Jalan pedang” yang ditempuhnya hanyalah kata penghalus untuk kehidupan yang keras: antara dibabat atau membabat, dipancung atau memancung, disodet atau menyodet.

Kitab Lima Cincin yang ditulisnya pun tak lain sebuah buku petunjuk: bagaimana menjadi brutal secara sistematis.

Sebab bukankah itu memang yang diperlukan dalam hidup yang nyata? Dalam kehidupan kita sehari-hari, apa boleh buat, yang menang pada akhirnya yang benar. Might is right.

Sejak kita bersekolah di SD — dengan Pak Guru yang sangat berkuasa dan karena itu selalu benar — kita sudah diajar bagaimana celakanya berada dalam posisi yang cuma menampung ludah orang.

Maka tak heran bila kita sendiri pun, dalam kehidupan sehari-hari, suka melamun kepingin jadi John Wayne, sang penembak misterius dalam film koboi yang hambar, The Man Who Shot Liberty Valance. Terutama ketika kita mengkal, merasa digampari, diteror, dan disikang-sikang.

Untunglah ada peradaban, yang melunakkan wajah manusia. Ada memang rumusan nilai-nilai luhur yang memberitahu agar kita tidak cepat naik darah, mencintai harmoni dan orang sabar dikasihani Tuhan. Ada juga buku-buku aneh tulisan Karl May, yang berkisah tentang “Daerah Barat yang biadab” dan sang jagoan, Old Shatterhand, toh tak mau membunuh siapa pun biarpun dia penembak ulung.

Hidup rupanya tak melulu ditulis dengan darah dan air mata. Ada kasih, cinta, dan hati nurani. Itulah yang membuat kita tetap berdiri tegak biarpun badai menghumbalang.

Ketika lelaki pengembara selesai mengenang kisahnya, perempuan salju itu telah tertidur seraya tersenyum ….

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean mengikuti berita tentang operasi pemberantasan kejahatan jalanan (perang melawan preman)?

Iklan

Tagged: , , , , , , ,

§ 23 Responses to Petrus Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Petrus Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: