Ndoro Kakung


Beranda | Arsip


Elegi Pecas Ndahe

Januari 10, 2009 12:54 am

Sepucuk surat jatuh ke sungai. Arus yang liar menghanyutkannya ke sana kemari. Seorang pengelana menemukannya pada sebuah pagi, ketika gerimis jatuh setengah hati.

Diambilnya surat yang ditulis di atas kertas biru itu lalu dibacanya. Pelangi mewarnai langit di cakrawala ketika pengelana itu mulai membaca kalimat pertama.

“Kepada perempuan wangi melati yang selalu menanti di dini hari. Dari lelaki pengejar matahari.”

Pengelana mengernyitkan dahinya saat membaca larik-larik kalimat yang tak biasa itu. Ia lalu merebahkan badannya yang penat ke atas hamparan savana yang masih basah oleh gerimis.

Lelaki pembuat surat ini mungkin sedang mengigau ketika menulis. Barangkali setengah majenun. Begitu pengelana membatin. Tapi ia penasaran juga, lalu meneruskan membaca surat yang tulisannya nyaris memudar itu.

“Perempuan wangi melati, kutulis surat ini setelah tujuh purnama kau terbang bersama bayang-bayang. Kau bilang butuh ruang, juga jarak.

Untuk apa? Aku bertanya.

Kau jawab demi kita.

Kita adalah gagasan yang rumit. Antara ada dan tiada. Pernah ada masanya kau dan aku satu. Tapi tak menjadi kita.

Kita mungkin seperti matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi, tapi tak selalu di ranjang yang sama.

Kita barangkali sebuah angan yang absurd. Tentang unifikasi sebuah relasi yang menggetarkan, sekaligus memedihkan.

Itu sebabnya, mungkin, kau butuh jarak dan ruang. Demi kita.”

Pengelana mengambil jeda. Diembuskannya napas yang panjang, lalu matanya menerawang, ke arah langit yang sebentar lagi memerah. Ia seperti mendengar angin mendesah-desahkan nyanyian, sebuah elegi pagi.

Sekali lagi dipandangnya surat itu. Lalu disusurinya setiap baris kalimat yang tertera. Embun baru saja lekas ditiup cahaya, secepat mata pengelana melahap setiap kata.

“Duhai perempuan wangi melati. Aku tahu kita tak hidup di taman tempat berteduh. Pun juga di telaga yang tenang. Hidup kita adalah kereta harapan yang bersicepat dengan waktu.

Aku juga mengerti penantianmu di setiap dini hari — menungguku mengejar matahari, memburu cerah hati — membuatmu ditikam sepisau sepi.

Kau boleh sebut diriku Sisipus dari Negeri Dongeng. Kau boleh katakan diriku pecundang tolol dari Bukit Sia-sia. Tapi perlu kau tahu, aku pun melakukannya demi kita.”

Ugh, kita. Pengelana itu mencibir. Ia seolah mendengar kicauan pungguk yang merindukan bulan.

“Duhai perempuan wangi melati. Tujuh purnama kulewati seraya meringkus sepi. Sendiri. Aku sesat dalam tanya dan … ”

Hanya sampai di situ kalimat itu terbaca oleh pengelana. Tulisan selanjutnya pudar tersapu air. Pengelana jadi penasaran dan menebak-nebak apa gerangan kalimat berikutnya.

Adakah perempuan wangi melati sempat membacanya? Adakah lelaki pengejar matahari beroleh jawab? Pengelana terus bertanya dan bertanya …

>> Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah melihat matahari?

Beri peringkat:

Diposkan oleh: Ndoro Kakung

Kategori: Sketsa

Tag: , , , , ,

37 Tanggapan to “Elegi Pecas Ndahe”

  1. elegi pasti tidak sama dengan epahit apalagi ekecut 😀

    By mantan kyai on Januari 10, 2009 pada 1:08 am

  2. karena ini masih dini hari, aku belum liat matahari, hujan deras pula 😛

    By hedi on Januari 10, 2009 pada 1:10 am

  3. perempuan wangi melati? kok kayak kuburan ya, ndoro? 😛

    By cK on Januari 10, 2009 pada 1:34 am

  4. Sepertinya lelaki pengejar matahari itu tak bertanya pada perempuan bermelati, dia hanya tampak gundah pada dirinya sendiri.

    By Gage Batubara on Januari 10, 2009 pada 1:35 am

  5. malem-malem baca cerita panjang..

    By sandal on Januari 10, 2009 pada 1:41 am

  6. *ngguyu dhewe baca komennya mantan kyai*

    saya tadi menikmati sore hari yg basah ditemani alunan konser burung blekok, kenari, gereja, entah apalagi, plus ditabuhi kecipak kolam, kodok yg lg pemanasan utk konser malam, dan orong-orong.
    tanpa matahari. dan damai.

    By restlessangel on Januari 10, 2009 pada 1:57 am

  7. makan bakso di pinggir pesarean.
    banyak rasa campur ngeri.
    mau ngaso dari pekerjaan.
    iseng-iseng komen saya isi.

    hanya sekadar.
    😛

    By Mas Kopdang on Januari 10, 2009 pada 3:08 am

  8. Sebuah elegi yang indah dan menggetarkan, Ndoro.
    Saya belum lihat matahari sekarang Ndoro, lha wong, masih dini hari, mana ada matahari? hehehe… 😀

    By amril on Januari 10, 2009 pada 3:19 am

  9. “Duhai perempuan wangi melati. Tujuh purnama kulewati seraya meringkus sepi. Sendiri. Aku sesat dalam tanya dan … “

    Dasar lelaki kurang kerjaan… hik….3x

    By abu salam on Januari 10, 2009 pada 6:13 am

  10. selamat hari sabtu juga ndoro … sudahkah kita usir sepi kita hari ini?..

    By sobatsetia on Januari 10, 2009 pada 6:20 am

  11. Wuih, puitis banget ik … jan ciamix tenan jee hahohahoheho

    Salam
    Ben,
    yang ada pula di http://benagewe.blogdetik.com

    By Ben on Januari 10, 2009 pada 10:13 am

  12. ini masih ada sambungannya jugakah eleginya ??

    matahari di luar sedang panas, tak sanggup ku menatapnya, hanya bisa menikmati kehangatannya

    By rayearth2601 on Januari 10, 2009 pada 10:45 am

  13. so sweet

    By ikhsan on Januari 10, 2009 pada 11:42 am

  14. tulisan akhir pekan yang penuh kata-kata indah. menghanyutkan dan menentramkan.

    By abdee on Januari 10, 2009 pada 12:15 pm

  15. saya boleh jadi pengambara nya ngg ndoro?

    By opappi on Januari 10, 2009 pada 12:43 pm

  16. upsss….suratnya nyaris sama 😦 dan saya lom posting. pasti tar dikira niru2 ndoro…

    By yati on Januari 10, 2009 pada 2:04 pm

  17. Baru tujuh purnama Om, belum kerennnnn… Aku sudah ngerasain yang 90 purnama 🙂 hi.. hi.. hi..

    By bodrox on Januari 10, 2009 pada 2:14 pm

  18. Saya da menatap matahari mulai pagi tadi ndoro… hmmm…

    By Frenavit Putra on Januari 10, 2009 pada 2:40 pm

  19. ya saya setuju banget…

    By londri on Januari 10, 2009 pada 5:04 pm

  20. ngerti aku, kalo ketemu pasti udah dihadang KPK…

    By suryaden on Januari 10, 2009 pada 6:45 pm

  21. kyakyakya…
    dongeng permintaankuuuuuu….. (dance)

    By Genduk on Januari 10, 2009 pada 7:32 pm

  22. aku pernah menjadi seorang pengelana yang bertanya pada perempuan wangi melati, pertanyaan yang tak terdengar dan takkan pernah dia menjawabnya, mengapa kau tinggalkan ruang hatiku yang hangat tuk mengejar bule impian di lembah bersalju, putih membekukan, dingin dan mengharap kehangatan..

    By JalanSempit on Januari 10, 2009 pada 9:57 pm

  23. aih aih…
    puitis sekali kiranya kisanak ini

    heheu.
    mampiir… ?>.<

    By karina on Januari 11, 2009 pada 2:31 am

  24. malam ini muncul bulan purnama

    By antown on Januari 11, 2009 pada 3:18 am

  25. Terperangkap di antara warna nyata dan mutiara damba, perempuan wangi melati beranjak pergi sejenak… tuk lebih memahami sebuah kata “kita”.
    Lalu, ia kembali… dengan setangkup haru dalam rindu…

    By silent reverie on Januari 11, 2009 pada 9:46 am

  26. e-legi,
    hari pasaran legi ya?

    By pecinta Indonesia on Januari 12, 2009 pada 8:35 am

  27. Terik, Ndoro.. Terik matahari hari ini!
    Disitu terik ndak..? Terik tahu apa terik tempe..? 🙂

    By Donny Verdian on Januari 12, 2009 pada 9:02 am

  28. masih bersambungkah cerita ini ?

    ditunggu sambungannya ndoro

    By rayearth2601 on Januari 12, 2009 pada 9:19 am

  29. si lelaki tak lagi mengejar matahari, karena perempuan itu tak lagi memiliki wangi melati…

    By mayssari on Januari 12, 2009 pada 10:03 am

  30. saya tak perlu melihat matahari. cukup merasakannya.

    By hanny on Januari 12, 2009 pada 11:05 am

  31. Sisa kalimat di ujung surat memaku mata pengelana.

    “Surga ini tidak sempurna, kasihku. Tapi dia milik kita. Dan hanya ini yang kita punya.”

    Pengelana terpaku. Tergugu.

    By Puteri Angin on Januari 12, 2009 pada 11:26 am

    1. masa sih?????????????

      By uli on Oktober 14, 2009 pada 9:15 pm

  32. walah, ga mudheng 😕

    By Blog Instan on Januari 13, 2009 pada 6:56 pm

  33. hmmmmmmmm keren juga imajinasinya

    By Blog Competition 2009 on Januari 28, 2009 pada 8:56 am

  34. ????????????????????????????????????????????????????????????????????

    By uli on Oktober 14, 2009 pada 9:14 pm

  35. perempuan wangi melati lg baca ni ndoro,, hehhe
    puitis bgt ndoro,,

    By nining on Juli 20, 2010 pada 2:40 pm

  36. If she’s dumber than a fence post she is smart enough.

    By IRS Attorney on Mei 20, 2012 pada 2:50 pm

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.