Lirboyo Pecas Ndahe
Mei 21, 2009 § 113 Komentar
Apa hubungan antara santri dan Facebook? Bertanyalah pada para peserta forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Dalam acara yang membahas tema-tema sosial itu, para santri membicarakan media sosial daring yang sedang naik daun itu.
Saya membaca berita perihal itu di sini. Menurut berita tersebut, peserta juga membahas soal pencalonan perempuan menjadi caleg, hukum mempercayai khasiat batu dukun cilik Ponari.
Mengapa Facebook ikut dibicarakan? « Read the rest of this entry »
Boediono Pecas Ndahe
Mei 16, 2009 § 93 Komentar
Penunjukkan Boediono sebagai calon wakil presiden yang akan mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono memicu kontroversi. Ia dianggap menganut paham neoliberal, antek asing, dan bertanggung jawab atas pengucuran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.
Benarkah Boediono pendukung neolib dan antek asing? Apakah dia bukan figur yang cocok menjadi pendamping pemimpin pemerintahan?
Saya ndak tahu. Tapi rasanya benar apa kata para ahli ekonomi dan orang-orang pintar yang berpendapat bahwa tantangan terbesar bagi Presiden Republik Indonesia mendatang — siapa pun dia — lebih banyak datang dari sektor ekonomi. Reformasi ekonomi masih jauh dari selesai. Angka kemiskinan masih cukup tinggi. Dampak krisis global akan terus berlanjut. Masalah tersebut harus mampu diselesaikan oleh semua kandidat yang ingin menjadi pemimpin pemerintahan.
Boediono, seorang teknokrat dan ekonom, dianggap Yudhoyono sebagai figur yang mempunyai kemampuan menjawab tantangan itu. Apa dasarnya? Doktor ekonomi bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, Amerika Serikat, itu sudah membuktikan kemampuannya di bidang moneter. « Read the rest of this entry »
Rani Juliani Pecas Ndahe
Mei 12, 2009 § 77 Komentar

Blog milik Rani Juliani (di ijazah tertulis Rhani Juliani) terus memanen kunjungan dan komentator. Ketika saya lihat pagi ini, salah satu postingnya memperoleh 1197 komentar. Halaman profilnya sudah dilihat 360.000 kali. Seperti yang saya perkirakan sebelumnya, statistik ini pasti bakal terus melejit ….

Ini imbalan sebuah perbuatan atau konsekuensi popularitas?
>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah sampean juga ingin punya blog dengan statistik seperti milik Rani?
Melayu Pecas Ndahe
Mei 11, 2009 § 67 Komentar
Band-band beraliran Melayu membuat gerah sebagian musisi. Lalu kabarnya ada gerakan menolak band-band Melayu segala. Ini soal bisnis atau selera yang menolak diseragamkan?
Saya bukan pengarang lagu, pemain band, atau konduktor orkestra. Saya bahkan ndak bisa memainkan satu alat musik pun. Pendeknya saya bukan musikus. Soal musik, saya nol besar. Pengetahuan musik saya payah. Begitu pula suara saya. Lah wong kentut saja fales, apalagi menyanyi. Saya tak bisa membaca not balok, membedakan tanda kres dan mol, maupun tanda birama. Jadi jangan tanya pula soal cresendo maupun pianisimo segala.
Tapi saya tahu bagaimana mendengarkan musik. Saya tahu mana musik yang enak dan cocok di kuping atau yang bikin saya senewen. Saya mampu membedakan jenis musik rock, jazz, R&B, Ska, dangdut, atau keroncong. Saya pun tahu lagu apa yang sedang populer atau masuk chart. Kalaupun lupa, saya tahu di mana harus mencari informasinya.
Lantas apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba saya menulis soal musik? « Read the rest of this entry »
LA Lights Indiefest 2009 Pecas Ndahe
Mei 8, 2009 § 45 Komentar
Sampean suka jenis musik apa? Pop? Rock? Jazz? R&B? Keroncong? Dangdut? Apa pun jenis musik yang sampean sukai, kita mungkin satu selera. Barangkali juga berbeda. Tak ada yang benar atau salah. Musik itu universal.
Orang bilang mengkotak-kotakkan genre atau style bermusik hanya akan membuat banyak band malah tak berkembang. Mungkin karena mereka terpaksa mengikuti aliran atau gaya bermusik yang sudah ada. Padahal barangkali saja ada banyak jenis musik yang tak bisa dan perlu dikotak-kotakkan.
Sebagai pendengar, konsumen, kita hanya perlu menikmati musik tanpa basa-basi. Tapi sebagai kreator, tentu sampean dituntut mampu menciptakan musik yang kreatif. Nah, sampai di mana cita rasa dan kreativitas musik sampean? « Read the rest of this entry »
