Sisifus Pecas Ndahe
Januari 25, 2008 § 31 Komentar
Dengan kata apakah kita sebut orang yang jatuh, bangun, jatuh, bangun, dan jatuh lagi, lalu bangun lagi? Tabah? Konsisten? Penuh determinasi? Atau tolol?
Saya ndak tahu. Tapi hampir setiap hari saya melihat orang-orang seperti itu. Artis X menikah, cerai, menikah lagi, lalu cerai, menikah lagi, beberapa kali. Dan akhirnya, impian tentang keluarga yang bahagia itu tak pernah terjangkau.
Ada lagi Bapak Y yang mencoba-coba berusaha jualan, tapi bangkrut dalam sekejap. Dagang lagi, bangkrut lagi. Buka usaha baru, tutup juga. Begitu seterusnya. Dan cita-cita menjadi kaya itu terbang dibawa angin.
“Ah, mungkin karena kita kini hidup tak lepas dari dongeng Sisifus, Mas,” kata Paklik Isnogud. « Read the rest of this entry »
Ingatan Pecas Ndahe
Januari 16, 2008 § 36 Komentar
Haruskah Soeharto dimaafkan? Pertanyaan inilah yang menjadi perdebatan hari-hari ini. Orang ramai bingung menentukan status hukum jenderal bintang lima itu.
Para pendukungnya tentu saja menjawab ya dengan mengajukan sederet pembelaan. Ada yang berpendapat Soeharto diampuni saja karena toh, di luar kesalahannya, ia juga berjasa bagi negeri ini. Kita harus seperti orang Jawa yang memegang ajaran mikul duwur, mendem jero.
Sebagian lagi merasa tak rela Soeharto pergi begitu saja dengan status forgiven. Bagi mereka, dinamo Orde Baru itu dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas karut-marut negeri ini. Ia juga dianggap memikul daftar dosa lainnya yang tak mudah dihapus begitu saja.
Bagaimana kita harus bersikap? « Read the rest of this entry »
Tanda Pecas Ndahe
Januari 6, 2008 § 32 Komentar
Benarkah ada hubungan antara perginya seorang tokoh dan resahnya alam? Saya ndak tahu. Saya bukan ahli nujum.
Tapi, Bengawan Solo juga meluap dan bandang menghumbalang daerah sepanjang aliran sungai yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur; tanggul penahan lumpur Lapindo pun sempat jebol; ketika bekas orang nomor satu negeri ini masuk rumah sakit dan sempat kritis.
Adakah hubungannya? Mungkin tidak, barangkali juga ada hubungannya.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah bercerita bahwa alam memang sering menunjukkan tanda-tanda yang aneh ketika terjadi peristiwa luar biasa. « Read the rest of this entry »
Pesta Pecas Ndahe
Januari 1, 2008 § 42 Komentar
Baiklah, sekarang pesta sudah usai. Lampu padam. Piring kotor menumpuk di dapur. Kembang api hangus. Mercon gosong. Tapi, kenangan itu belum pergi juga.
Saya terkenang pada wajah-wajah lesi para pengungsi korban banjir di Bojonegoro. Mereka melewatkan malam pergantian tahun dalam dingin dan lapar di dalam gerbong kereta api yang menjadi tempat penampungan sementara.
Saya teringat pada guratan kesedihan warga yang rumahnya terendam luapan Bengawan Solo. Mereka termangu menatap layar kaca televisi yang memamerkan pendar-pendar cahaya warna-warni di kota lain.
Sebuah pesta. Sebuah tragedi. Keduanya lahir dalam kenangan yang berbeda. « Read the rest of this entry »
Kenangan Pecas Ndahe
Desember 26, 2007 § 29 Komentar
Setiap kali kalender disobek, dan almanak berganti yang baru, setiap kali pula saya merenung dalam-dalam. Begitu banyak yang sudah lalu, begitu deras yang telah mengalir.
Seperti halnya dengan sampean semua, mungkin juga cuma sebagian, saya sering jadi sentimentil menjelang pergantian tahun. Mengingat waktu yang lewat, mengenang 365 hari yang kemarin.
Saya ingat, Paklik Isnogud pernah menceritakan waktu yang berlalu, juga kenangan, dengan sendu — dulu, di masa lalu.
Ia bilang, “Selalu ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita masa lampau yang hilang, Mas. Di sana-sini terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal belum berubah. « Read the rest of this entry »