Selingkuhan Pecas Ndahe

September 4, 2007 § 38 Komentar

Bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua, perempuan yang bukan istri atau pasangan yang “sah” dari seorang lelaki?

Menyedihkan atau justru menyenangkan?

Saya beruntung punya seorang teman perempuan, seorang “mahmud” alias mamah muda [selingkuhan gitu deh …], yang bersedia saya ajak berdiskusi tentang hubungannya dengan lelaki yang sudah beristri.

Demi alasan keamanan dan nama baik, saya memilih tak menyebutkan siapa teman perempuan saya itu, juga url blognya. Kecuali dia berubah pikiran. Hehehe …

Saya beri gambaran saja, profil teman perempuan saya itu seperti ini: lajang, social smoker, usia 30+, lulusan perguruan tinggi negeri ternama, dan sekarang bekerja di lingkungan yang sangat terhormat di Jakarta. Err .. ada lagi, I considered her as a nice and good looking person. Halah … « Read the rest of this entry »

Darkness Pecas Ndahe

Agustus 31, 2007 § 18 Komentar

Seorang ibu dan anaknya terjun dari lantai 35 apartemen Ambasador, Jakarta. Seorang ibu memaku kepala anaknya dan kepalanya sendiri. Sebelumnya, seorang ibu membakar diri bersama anak-anaknya.

Duh Gusti, kenapa kehidupan jadi begini muram? Inikah nujum yang pernah dinyanyikan Simon dan Grafunkel dengan lirih, seperti melamun, “Hello, darkness …”?

Ada yang bilang, banyak orang zaman sekarang yang terganggu jiwanya karena menderita stres, putus asa, dan frustrasi. Penyebabnya bisa kemiskinan, korupsi, diskriminasi, kebodohan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidaksabaran. Mungkin juga oleh sebab lain. Saya ndak tahu.

Jakarta, juga kota-kota besar lain di Indonesia, memang seperti tak pernah sabar. Klakson memekik-mekik di jalan. Kemiskinan, juga korupsi, merajalela. Di sisi yang lain, banyak orang yang kian rakus dan suka merampas hak orang lain yang lebih lemah. Pertanda apakah ini? « Read the rest of this entry »

Pohon Pecas Ndahe

Agustus 24, 2007 § 20 Komentar

Sebatang pohon bisa bercerita tentang banyak perkara: seks, kemasyhuran, uang, juga kekuasaan. Saya beroleh kisah ini setelah melihat kiriman foto-foto dari kawan lama saya, Mas Gandrik.

Adalah Paklik Isnogud yang bercerita tentang pohon itu. Seperti biasa, menjelang salat Jumat, sebagai bekal menghadapi siraman rohani dari khatib di masjid nanti, saya memang sering meminta Paklik bertutur tentang hidup dan lain-lain.

“Kalau sampean mau belajar tentang hidup, dengarlah dongeng tentang kalpataru, Mas,” kata Paklik memulai ceritanya.

“Kalpataru? Kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »

Hizbut Pecas Ndahe

Agustus 13, 2007 § 33 Komentar

Minggu kemarin, Hizbut Thahir Indonesia menggelar Konferensi Khilafah Internasional di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Sore harinya, ketika kebetulan melintas di kawasan dalam Senayan, saya terjebak di tengah kemacetan peserta konferensi itu. Tapi, bukan kemacetan itu yang membuat hati saya bergetar melainkan apa yang bergemuruh di acara itu.

Pagi ini, saya baca di koran-koran, Hizbut Thahir ternyata menyatakan menolak demokrasi, tapi setuju terhadap pluralisme. Mereka menolak demokrasi karena ideologi ini berprinsip kedaulatan di tangan rakyat, padahal mereka menganggap kedaulatan itu milik Allah.

Mereka juga menuding bahwa demokrasilah penyebab terpuruknya Indonesia saat ini. “What has democracy brought us? Democracy only brings us secular policies, like what’s happening nowdays,” kata Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Thahir, seperti dikutip Jakarta Post.

Demokrasi?

Ah, tiba-tiba saya ingat Paklik Isnogud. Dia pernah bercerita tentang demokrasi. Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, mungkin asyik juga mendengar cerita Paklik tentang Indonesia dan demokrasi … « Read the rest of this entry »

Kuldesak Pecas Ndahe

Agustus 3, 2007 § 19 Komentar

Satu-satunya yang lebih sulit dari menulis adalah mulai menulis.

Saya tahu Ki Sanak karena saya juga sering mengalaminya. Tiba-tiba kita merasa ndak tahu mau nulis apa. Mendadak di depan kita hanya ada selembar kertas putih atau layar monitor yang kosong, tanpa satu kata apa pun.

Saya paham betul masalah sampean. Saya juga sering mengalaminya. Mati ide, gaya, dan kata-kata. Rasanya seperti bertemu kuldesak, jalan buntu, dan ndak tahu mau ngapain.

Untuk sebagian orang, menulis memang lebih sulit dari apa pun. Sampean mungkin lebih jago masak, mengganti kran air yang rusak, memperbaiki sepeda anak-anak, menambal ban kempes.

Tapi, menulis? Halah. Tobat … tobat … « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Piwulang category at Ndoro Kakung.