Rayuan Pecas Ndahe
April 28, 2008 § 34 Komentar
Kenali lawan bicara sampean sebelum menelepon, kecuali sampean memang ingin akan ngakak bersama di akhir pembicaraan. Begitulah pelajaran yang baru saja saya peroleh dari seorang Ibu.
Ibu itu tadi tiba-tiba menelepon ke nomor handphone pribadi sewaktu saya hendak istirahat makan siang. Tanpa sungkan-sungkan lagi dia langsung memperkenalkan diri dari PT Blablabla Kapital yang bergerak dalam jual-beli saham.
Dalam hati saya bertanya-tanya. Saham? Sejak kapan saya main saham? Dari mana ibu itu tahu nomor saya? Saya curiga ibu ini pasti cuma mau jualan.
Karena penasaran, saya biarkan saja dia mengeluarkan jurus-jurus pembukaannya. Saya ingin tahu sampai di mana ilmunya.
“Bapak sudah pernah mendengar tentang saham, Indeks Han Sheng, Dow Jones, Wall Street, Nasdaq, Pak?” begitu ibu itu membuka percakapan.
“Indeks? Saham? Han Sheng? Wah, belum tuh. Itu apa ya? Han Sheng itu menteri apa ya?” saya balik bertanya. « Read the rest of this entry »
3D Pecas Ndahe
April 14, 2008 § 69 Komentar
Para blogger mengeluh tak bisa membuka blognya yang indekos di Blogspot dan Multiply. Saya cuma bisa ikut prihatin. Tapi, jangan khawatir. Hidup jalan terus.
![]()
Kalau blog sampean diblokade, ya tinggal pindah saja. Ada banyak beberapa blog hosting di dalam negeri yang bebas blokade. Salah satunya Dagdigdug. Halah. Promosiiiiii … hihihi … « Read the rest of this entry »
Current Pecas Ndahe
Desember 22, 2007 § 18 Komentar
Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!
Ini? Iya! « Read the rest of this entry »
Sabu-sabu Pecas Ndahe
November 21, 2007 § 42 Komentar
Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.
Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.
“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.
“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.
“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”
“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”
“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”
“Lain piye?” « Read the rest of this entry »
Gelinjang Pecas Ndahe
November 15, 2007 § 52 Komentar
Pada suatu siang yang muram, di pintu masuk sebuah plasa. Di atas, mendung tebal menggantung. Sebentar lagi pasti hujan tumpah.
Saya melihat lelaki itu dengan keanggunan seorang Arjuna yang tengah berdiri di atas kereta sambil mengangkat gandewa, sesaat sebelum anak-anak panahnya melesat dan menerjang tubuh Bhisma hingga terjungkal di Padang Kurusetra.
Tubuh gagahnya dibalut kemeja kotak-kotak kecil warna hijau, senada dengan pantalon hijau tuanya. Parasnya bersih. Rambutnya yang ikal dipotong pendek.
Lelaki itu terlihat gelisah, berkali-kali melihat arloji di pergelangan tangan kiri. Sebentar kemudian pandangannya beralih ke pelataran depan plasa, memperhatikan setiap pengunjung yang datang.
Saya menduga lelaki itu tengah menunggu seseorang, mungkin temannya, istrinya, pacar, atau kekasih gelapnya. « Read the rest of this entry »
