Monyet Pecas Ndahe

Maret 10, 2008 § 53 Komentar

Perang [iklan] tarif antaroperator telepon selular memang sudah ndak masuk akal. Yang satu mengiming-iming tarif nol koma sekian rupiah per detik, satunya lagi ndak mau kalah masang ongkos nol koma sekian-sekian rupiah per detik.

Akibatnya, para pelanggan, terutama sekali, kartu pra bayar seperti monyet beneran: pindah sana pindah sini mengikuti tarikan sang dalang. Gimana ndak kayak monyet coba? « Read the rest of this entry »

Tag Pecas Ndahe

Maret 9, 2008 § 10 Komentar

Dari daftar tag sebuah portal blog, kita beroleh moral dari sebuah cerita, bahwa sesuatu yang berlebihan kadang bisa terpelanting jadi error — secara kebetulan.

Asus Pecas Ndahe

Maret 8, 2008 § 40 Komentar


Asus Eee PC
benar-benar produk yang layak dicoba. Mungil, ringan, ringkas, sederhana — dan harganya cukup terjangkau. Begitulah kesan saya setelah mencoba subnotebook itu milik seorang kawan di pabrik.

Asyik juga bikin posting pakai perangkat ini. Cuma saya masih agak kesulitan mengetik di keyboard yang ukurannya lebih kecil dari milik notebook biasa. Beberapa kali salah pencet. Mungkin hanya karena belum biasa saja. « Read the rest of this entry »

Sssttt Pecas Ndahe

Maret 7, 2008 § 16 Komentar

Catur brata penyepian: amati gni (tanpa api), amati karya (tanpa kegiatan), amati lelungaan (tanpa perjalanan), amati lelanguan (tanpa hiburan).

Untung ndak ada amati blog. Tapi, jangan-jangan blog itu dianggap lelanguan ya? Jadi ndak boleh nge-blog juga dong …

Ah, selamat Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu yang merayakannya …

>> Pic taken from here.

Bencana Pecas Ndahe

Maret 6, 2008 § 29 Komentar

Bencana adalah pelanggan rutin bagi sejumlah kawasan di Tanah Air. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir bandang, datang silih berganti.

Bencana banjir, misalnya, telah menghumbalang sejumlah daerah di Indonesia beberapa bulan terakhir ini. Genangan air merendam ribuan rumah, gedung, serta ribuan hektare sawah, juga infrastruktur seperti jalan dan jembatan selama berhari-hari.

Ribuan warga terpaksa tergesa mengungsi. Mereka menyelamatkan harta benda dan jiwa sesempatnya. Sebagian beruntung dan ditampung di barak-barak pengungsian. Sebagian lagi hidup keleleran di ruang-ruang kosong yang belum terjamah bandang.

Kehidupan para pengungsi sangat mengenaskan karena kiriman bantuan dari pemerintah dan LSM belum semuanya menjangkau, terutama mereka yang berada di lokasi terpencil. Hari demi hari, mereka menanti dengan tak pasti kapan sumbangan sampai ke tangan mereka.

Apakah sampean tergerak untuk mengirimkan bantuan kepada mereka? Lihat dulu foto-foto para pengungsi banjir itu di sini. Jangan lupa siap-siap tisu atau lap basah dulu. Ough!