Cerpen Pecas Ndahe
Maret 5, 2007 § 24 Komentar
Utang yang belum dilunasi bisa bikin ganjalan di hati. Janji yang belum ditepati juga bisa bikin kesal hati. Untuk melunasi janji itulah saya hari-hari ini saya terpaksa semedi. Semedi?
Iya, saya pernah berjanji menulis satu cerita pendek untuk mengisi majalah dinding di pabrik seorang kawan. Dasarnya saya ndak punya waktu banyak, janji itu tertunda-tunda. Ada saja alasan untuk tak menepati utang itu, sampai akhirnya saya tak bisa mengelak lagi.
Celakanya, meski sudah semedi tujuh hari tujuh malam, poso mutih, ide dan gagasan itu tak kunjung datang. Entah sudah berapa banyak kertas kosong yang sudah saya buang ke keranjang sampah. Akhirnya saya cuma mondar-mandir di pabrik ndak keruan. « Read the rest of this entry »
Sepekan Pecas Ndahe
Maret 1, 2007 § 29 Komentar
Senin
Mata rembulan. Wangi Bvlgari. Lambaian tangan dan sederet angka di atas sobekan tisu.
Selasa
SMS. Email. Telepon singkat sepanjang siang dan malam hari. “Udah maem?” … Buzz and emoticons.
Rabu
Kinokuniya. Plaza EX. Starbucks. Dragonfly. Kerling berbinar. “See you tomorrow and sleep tight, dear.”
Kamis
Lantai 9, Apartemen Rasuna. Room service. Don’t disturb mode on.
Jumat
Ranjang yang lusuh. Blinking light … “Home calling.”
Sabtu
Incoming message: “I am leaving.”
Minggu
“Jangan lupa anak-anak dimandiin … “
Bahagia Pecas Ndahe
Februari 28, 2007 § 32 Komentar
Gara-gara menemukan berita tentang Dian “Indonesians Sweet Heart” Sastro yang dobel-dobel di dua koran — juga dua situs — itu, saya senyum-senyum sendiri sepanjang hari kemarin. Apalagi ketika saya melihat foto Dian yang ehm-ehm itu. Rasanya gimana gitu …
Teman-teman saya di pabrik bahkan sampai terheran-heran melihat saya yang tampak gembira seperti pejudi ulung yang baru saja menang jackpot. Sampai-sampai Paklik Isnogud pun penasaran dan menghampiri saya.
“Tumben sampean tersenyum terus hari ini. Ada apa, Mas? Baru dapat lotere ya? Naik gaji?” tanya Paklik sedikit curiga. « Read the rest of this entry »





