Permintaan Pecas Ndahe

September 30, 2009 § 47 Komentar

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah memintamu menghalangi jalanku di sudut toko itu. Waktu, kesempatan, takdir, mungkin yang mengaturnya. Dan ketika kau terpana memandang parasku yang lesi, itu juga kehendakku. Janganlah kau sesali pertemuan itu. Hidup, juga persilangan, terjadi setiap saat. Kalau bukan di sudut itu, mungkin di tikungan yang lain. Bukankah ombak juga bertemu karang tanpa mengeluh sejak dulu?

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah berharap kau mengantarku siang itu. Aku sudah cukup bahagia berjalan sendiri di bawah cakar panas matahari yang memanggang Jakarta. Kau bilang aku tak berhak teriksa oleh panas yang menderai-derai. Tapi sebetulnya aku selalu baik-baik saja. Dengan atau tanpa terpaan cahaya berdaya jutaan kilowatt itu. Matahari dan angin sahabatku sehari-hari. Aku hidup bersama mereka.

Duhai lelakiku,
Aku tak pernah bermimpi waktu kau tawarkan segelas es lemon segar. Senyummu sudah lebih dari cukup. Bahkan jauh menyejukkan dibanding semua yang hijau di bumi ini. Mungkin kau tak tahu betapa aku terpana ketika tanganmu menggenggam uluran tanganku yang ragu-ragu. Lenganmu yang berotot kencang, tapi lembut, menyiratkan kau pekerja tangguh berhati sutra. Aku seperti kapas yang melayap ke langit dihembus topan kebahagiaan. « Read the rest of this entry »

Hati Pecas Ndahe

September 28, 2009 § 40 Komentar

Seperti apakah hati seorang lelaki? Cuaca yang mudah berubah atau lempung yang lembek?

Syahdan pada sebuah malam yang bisu, perempuan terakota duduk di atas bukit kelam. Ditatapnya nyaris tak berkedip lanskap langit yang bertabur gemintang. Sepi di sekitarnya. Hanya ada helaan napasnya sendiri. Dan desir-desir pasir yang terbang bersama angin. Kunang-kunang terbang kian-kemari. Terangnya mengerjap sebentar, lalu padam.

Di sebelahnya, lelaki wangi pandan rebah dalam buaian rumput lembut. Membeku. Tapi resah. Hatinya puspas. Malam ini saat terakhir mereka bersama. Esok, lelaki wangi pandan akan pergi meneruskan langkahnya, mengejar bayang-bayang.

“Look at the stars, dear. So untidy. I want to rearrange them,” kata perempuan terakota tiba-tiba. Suaranya memecah sunyi yang tipis seperti beling.

Lelaki wangi pandan seketika tertegun mendengarnya. Ia menganggapnya sebagai kegaduhan yang mencekam. Sebuah teror.

Hening. Jeda panjang. Detik berubah ke menit. “Begitukah yang selalu kau inginkan, perempuan? Kau selalu ingin menata kembali semua yang sudah menjadi puing-puing berserakan?” tanya lelaki wangi pandan kemudian. « Read the rest of this entry »

Temaram Pecas Ndahe

April 3, 2009 § 67 Komentar

Seseorang pernah bercerita tentang cinta dan air mata. Malam sunyi diwarnai bintang-bintang membisu ketika kisah itu meluncur pelan dari bibirnya yang merekah. Mirip sebuah desah yang syahdu.

Cinta, katanya, adalah sepotong senja yang temaram. Langit gulita. Kerlip bintang di kejauhan. Api unggun yang menari-nari. Goyang bayang-bayangan. Sebuah sofa kulit empuk. Sepasang lelaki dan perempuan berbaju putih. Kepala menyandar di dada bidang. Pelukan hangat. Sedikit kecupan di kening. Dan, senyum bahagia.

“Tapi itu hanya ada di film-film,” kata lelaki berkotak pandora. “Di dunia nyata, cinta itu darah dan sumpah serapah. Kita hanya mendapat remah-remah.”

Perempuan selaksa senyum menautkan alis matanya. Lelaki berkotak pandora ternyata belum berubah. Ia masih sama seperti yang dulu. Lidahnya sarkastik. Tapi, dia mungkin benar. « Read the rest of this entry »

Selingkuh Pecas Ndahe

Februari 14, 2009 § 107 Komentar

Apakah arti cinta dan keluarga yang bahagia? Benarkah keluarga yang berselimut cinta pun tak luput dari kisah perselingkuhan?

Paklik Isnogud hanya cengar-cengir ketika saya menanyakan perihal itu. Tanpa membuka mulutnya, dia malah berdiri, lalu membuka lemari di belakang meja kerjanya. Wah, ada apa nih, saya membatin.

Saya lihat Paklik mengambil sebuah tape recorder kecil, kemudian meletakkannya di depan saya.

“Dengarkan, Mas,” katanya.

“Oh, apa ini, Paklik?”

“Rekaman pembicaraan seorang konsultan perkawinan dengan seorang suami yang sedang digugat cerai oleh istrinya. Saya mendapatkannya dari seorang teman. Sampean ndak perlu tahu siapa nama konsultan dan pasiennya,” jawab Paklik seraya menekan tombol “play”.

Wah … pasti asyik nih, saya membatin.

Kami lalu duduk dengan tenang. Saya mengunci mulut rapat-rapat karena penasaran dan ingin segera mendengarkan isi rekaman itu. Mendengar perbincangan orang lain memang selalu menggoda perhatian saya. « Read the rest of this entry »

Mimpi Pecas Ndahe

Januari 22, 2009 § 45 Komentar

Syahdan pada sebuah malam yang basah. Perempuan berkalung pelangi menunggang kereta angin, membelah jalanan lempang nan lapang di jantung Kota Cahaya menuju pulang.

Matanya menatap keluar jendela, memandang keredep sinar lampu-lampu neon yang bersicepat dengan gelap. Gedung-gedung jangkung berdiri jemu. Patung-patung kota melengkung lunglai ketika ia melewatinya.

Bulan sepotong mengintip di balik awan hitam. Angin mendesir-desirkan sunyi di dalam kabin. Imaji berkelebat silih berganti dalam benaknya yang masygul. Rusuh. Potongan-potongan adegan kehidupan berkelindan antara jemu dan riang, antara tawa dan air mata.

Dari pemutar musik di dekat kemudi mengalun suara Sting yang nglangut,

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are …

Kenangan perempuan berkalung pelangi melayang pada lelaki bermahkota mimpi yang pernah menjerat kupu-kupu dalam perutnya. Lelaki itu telah mengubahnya jadi kepompong, lalu masa hibernasi yang panjang. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cerpen at Ndoro Kakung.