Hujan Pecas Ndahe
Juni 21, 2007 § 30 Komentar
Matahari kian tinggi. Sinarnya menyilaukan mata. Sudah lebih dari sepekan Jakarta tak disiram hujan. Kemarau mungkin memenuhi janjinya mulai bulan ini.
Saya berkemas dalam gegas. Setumpuk pekerjaan pasti sudah menunggu di pabrik.
Sebelum berangkat, saya menaruh satu set mobil-mobilan Hot Wheel dan satu boneka Barbie yang saya beli kemarin di atas meja belajar anak-anak.
Tadi malam saya lupa memberi tahu mereka. Lagi pula percuma membangunkan mereka hanya untuk sesuatu yang bisa ditunda itu. Mereka pasti kaget jika sepulang sekolah nanti melihat kado itu di meja belajar masing-masing karena tak ada yang ulang tahun hari ini.
Saya tersenyum memikirkan kejutan yang bakal mereka temukan itu. Sudah sejak beberapa hari yang lalu saya memang berniat membelikan mereka sesuatu. Kenaikan kelas memang masih sebulan lagi, tapi tak ada salahnya juga memberi hadiah sekarang. Mereka toh pasti naik kelas. Seandainya nanti setelah menerima rapor mereka minta kado lagi, yah tinggal nyari lagi. Apa susahnya? « Read the rest of this entry »
Waktu Pecas Ndahe
Juni 20, 2007 § 18 Komentar
Kepada waktu yang mengapung antara ada dan tiada. Antara pagi, siang, dan malam. Adakah luka yang terhapus?
“Apa kabar, Mas?” tanya Mami di seberang sana.
Saya tergagap. “Eh, eng … baik … baik, Mam. Mami sendiri gimana kabarnya? Saya kira tadi Diajeng yang menelepon.”
“Ah, dia sudah pergi dari tadi, Mas. Ndak tahu dijemput siapa tadi. Tapi, sebelum pergi, dia sempat cerita. Katanya Mas yang mengantarnya semalam ya? Kok Mami ndak dikasih tahu?
“Iya, Mam. Maaf. Tadi malam saya buru-buru. Lagi pula sudah terlalu malam. Mami pasti sudah tidur.”
“Iya sih, Mami kecapekan sehabis pengajian di rumah tetangga. Tapi, lain kali mampirlah ke rumah, Mas. Sudah lama Mami ndak lihat kamu. Nanti Mami masakin deh makanan kesukaanmu. Sampean pengen apa, Mas? Lasagna? Gudeg?” « Read the rest of this entry »
Daun Pecas Ndahe
Juni 19, 2007 § 23 Komentar
Daun-daun kenangan berdesah sedih dalam gelap — Longfellow.
Saya bangun ketika rumah sudah sepi. Anak-anak pasti sudah berangkat ke sekolah diantar ibunya sejam yang lalu.
Angin merayap pelan melalui jendela mengelus badan. Saya menengok keluar dan melihat daun-daun rontok satu-satu di halaman. Kemarau tampaknya sebentar lagi datang.
Setengah mengantuk, agak keliyengan, saya ke dapur, mencari-cari toples kopi dan gula. Ah, rasanya tak perlu. Saya lihat ada secangkir kopi hangat masih mengepul di meja. Istri saya tadi pasti sempat membuatkan sebelum pergi. Ritual setiap pagi.
Saya memang suka kopi. Rasanya ada yang kurang jika bangun pagi dan tak menyesap cairan hitam berkafein itu. Biasanya saya menikmatinya menjelang mandi. Baru setelah itu berangkat ke pabrik. « Read the rest of this entry »
Home Pecas Ndahe
Juni 18, 2007 § 23 Komentar
There’s no place like home. Itu sebabnya ada ungkapan home sweet home. Tapi, saya baru benar-benar merasakannya malam itu, setelah mengantarkannya pulang ke rumah ibunya.
Yeah, I am finally home … after all of those jumpin’ around feelin’.
Saya mendapati rumah dalam keadaan gelap. Anak-anak dan ibunya pasti sudah dari tadi terlelap. Saya lirik arloji. Hm, sudah hampir pagi. Pelan-pelan saya membuka garasi dan pintu rumah biar ndak membuat mereka terbangun.
Benar saja. Di dalam kamar, saya lihat anak-anak sudah tidur dengan gaya masing-masing. Si sulung, seperti biasa, bergaya bebas. Ranjangnya berantakan. Bantalnya di mana, gulingnya di mana, dia sendiri telentang ndak keruan.
Si bungsu, juga seperti biasanya, tidur dalam posisi yang tak pernah berubah, nyaris tak bergerak. Saya menduga ini pasti turunan ibunya. Hanya perutnya yang naik turun saja yang menunjukkan bahwa dia masih bernapas. Mungkin memang begitu beda anak perempuan dan anak laki-laki kalau tidur. « Read the rest of this entry »
Ruang Pecas Ndahe
Juni 15, 2007 § 37 Komentar
Hati yang luka. Jiwa yang kosong.
Ke mana harus berlabuh.
Sedang daun-daun kering pun terbawa angin …
Saya pernah membaca bait-bait itu di buku harian kawan perempuan saya itu, bertahun yang lalu. Ia memamerkannya ketika kami sama-sama sedang keranjingan belajar menulis puisi.
Saya lupa kenapa waktu itu kami seperti itu. Mungkin gara-gara kami baru saja menyaksikan sebuah pertunjukkan baca puisi di Taman Ismail Marzuki. Atau barangkali setelah kami menonton DVD lawas, Dead Poets Society untuk yang kesepuluh kalinya. Entah. Saya tak ingat.
Malam itu, anehnya, saya tiba-tiba ingat puisi itu ketika dia meminta saya menemaninya tinggal sejenak di apartemennya. Saya tahu hatinya sedang terluka. Karena itu, ia pasti membutuhkan seseorang untuk berbincang — seperti biasanya dulu. Tapi, menuruti permintaanya cuma akan membuat persoalan kian rumit. Saya ndak mau memanfaatkan kesempatan.
Sesaat, saya tertegun dalam bimbang. Saat itulah, handphone-nya menjerit nyaring. Sebuah SMS masuk. Ia kaget. Aha, saved by the bell. « Read the rest of this entry »


