Temaram Pecas Ndahe

April 3, 2009 § 67 Komentar

Seseorang pernah bercerita tentang cinta dan air mata. Malam sunyi diwarnai bintang-bintang membisu ketika kisah itu meluncur pelan dari bibirnya yang merekah. Mirip sebuah desah yang syahdu.

Cinta, katanya, adalah sepotong senja yang temaram. Langit gulita. Kerlip bintang di kejauhan. Api unggun yang menari-nari. Goyang bayang-bayangan. Sebuah sofa kulit empuk. Sepasang lelaki dan perempuan berbaju putih. Kepala menyandar di dada bidang. Pelukan hangat. Sedikit kecupan di kening. Dan, senyum bahagia.

“Tapi itu hanya ada di film-film,” kata lelaki berkotak pandora. “Di dunia nyata, cinta itu darah dan sumpah serapah. Kita hanya mendapat remah-remah.”

Perempuan selaksa senyum menautkan alis matanya. Lelaki berkotak pandora ternyata belum berubah. Ia masih sama seperti yang dulu. Lidahnya sarkastik. Tapi, dia mungkin benar. « Read the rest of this entry »

Mimpi Pecas Ndahe

Januari 22, 2009 § 45 Komentar

Syahdan pada sebuah malam yang basah. Perempuan berkalung pelangi menunggang kereta angin, membelah jalanan lempang nan lapang di jantung Kota Cahaya menuju pulang.

Matanya menatap keluar jendela, memandang keredep sinar lampu-lampu neon yang bersicepat dengan gelap. Gedung-gedung jangkung berdiri jemu. Patung-patung kota melengkung lunglai ketika ia melewatinya.

Bulan sepotong mengintip di balik awan hitam. Angin mendesir-desirkan sunyi di dalam kabin. Imaji berkelebat silih berganti dalam benaknya yang masygul. Rusuh. Potongan-potongan adegan kehidupan berkelindan antara jemu dan riang, antara tawa dan air mata.

Dari pemutar musik di dekat kemudi mengalun suara Sting yang nglangut,

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are …

Kenangan perempuan berkalung pelangi melayang pada lelaki bermahkota mimpi yang pernah menjerat kupu-kupu dalam perutnya. Lelaki itu telah mengubahnya jadi kepompong, lalu masa hibernasi yang panjang. « Read the rest of this entry »

Suluk Pecas Ndahe

Januari 16, 2009 § 33 Komentar

Kali ini aku akan bercerita tentang perempuan perajut malam. Dialah perempuan yang bertemu dengan lelaki rudin dari pulau gosong pada sebuah musim gugur. Dari lelaki rudin pulau gosong itulah aku mendapatkan kisahnya.

Konon perempuan perajut malam lahir dari rahim benang dan sepotong kayu. Mimpi dan imajinasi adalah bidan kelahirannya.

Perempuan perajut malam suka mengembara, dari satu bukit ke bukit lainnya. Dari satu lurah, ke lurah berikutnya.

Lelaki dari pulau gosong menggambarkan sosok perempuan itu seperti suluk, puisi yang dinyanyikan dalam pertunjukan wayang. Suluk tidak bercerita apa-apa tapi menggambarkan suatu suasana: murung, senang, perang, damai. « Read the rest of this entry »

Kupu-kupu Pecas Ndahe

Januari 15, 2009 § 43 Komentar

:: untuk mereka yang ditinggal sendiri ::

Orang tuanya menjuluki perempuan itu Balam Penari. Meski parasnya sama sekali tak mirip burung balam, perempuan itu memang pintar menari. Geraknya luwes. Gemulai. Dan setiap kali dia menari, bunga-bunga di taman bermekaran. Matahari bergilar-gilar. Angin melambai-lambai.

Perempuan Balam Penari lahir pada musim semi. Ketika langit dipulas selarik pelangi. Wajahnya berpendar-pendar bagaikan baiduri. Rambutnya harum mewangi.

Ia dibesarkan oleh hujan dan diasuh oleh peri-peri hutan nan rupawan. Embun di pucuk daun adalah menu sarapannya. Cahaya menemani siangnya. Gelap malam menyelimuti tidurnya.

Setelah beranjak dewasa, paras Balam Penari kian bercahaya, seperti sinar rembulan di musim panas. Tubuhnya nyaris sempurna, mulus seperti patung pualam yang dipahat para seniman Yunani. Matanya yang hitam kelam membuat semua lelaki yang menatapnya pasti bakal rela melakukan apa saja. Bahkan memetik bintang pun mereka akan dengan senang hati melaksanakan.

Tapi Balam Penari bukan perempuan sembarangan. Ia satu bintang di langit kelam. Begitu jauh, tapi begitu cemerlang. Sinarnya rimba pesona bagi banyak pria. Terasa dekat, namun tak terjangkau. Ia datang setiap malam, tapi bukan demi satu orang. « Read the rest of this entry »

Elegi Pecas Ndahe

Januari 10, 2009 § 37 Komentar

Sepucuk surat jatuh ke sungai. Arus yang liar menghanyutkannya ke sana kemari. Seorang pengelana menemukannya pada sebuah pagi, ketika gerimis jatuh setengah hati.

Diambilnya surat yang ditulis di atas kertas biru itu lalu dibacanya. Pelangi mewarnai langit di cakrawala ketika pengelana itu mulai membaca kalimat pertama.

“Kepada perempuan wangi melati yang selalu menanti di dini hari. Dari lelaki pengejar matahari.”

Pengelana mengernyitkan dahinya saat membaca larik-larik kalimat yang tak biasa itu. Ia lalu merebahkan badannya yang penat ke atas hamparan savana yang masih basah oleh gerimis. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with metafora at Ndoro Kakung.