Suluk Pecas Ndahe

Januari 16, 2009 § 33 Komentar

Kali ini aku akan bercerita tentang perempuan perajut malam. Dialah perempuan yang bertemu dengan lelaki rudin dari pulau gosong pada sebuah musim gugur. Dari lelaki rudin pulau gosong itulah aku mendapatkan kisahnya.

Konon perempuan perajut malam lahir dari rahim benang dan sepotong kayu. Mimpi dan imajinasi adalah bidan kelahirannya.

Perempuan perajut malam suka mengembara, dari satu bukit ke bukit lainnya. Dari satu lurah, ke lurah berikutnya.

Lelaki dari pulau gosong menggambarkan sosok perempuan itu seperti suluk, puisi yang dinyanyikan dalam pertunjukan wayang. Suluk tidak bercerita apa-apa tapi menggambarkan suatu suasana: murung, senang, perang, damai. « Read the rest of this entry »

Iklan

Kupu-kupu Pecas Ndahe

Januari 15, 2009 § 43 Komentar

:: untuk mereka yang ditinggal sendiri ::

Orang tuanya menjuluki perempuan itu Balam Penari. Meski parasnya sama sekali tak mirip burung balam, perempuan itu memang pintar menari. Geraknya luwes. Gemulai. Dan setiap kali dia menari, bunga-bunga di taman bermekaran. Matahari bergilar-gilar. Angin melambai-lambai.

Perempuan Balam Penari lahir pada musim semi. Ketika langit dipulas selarik pelangi. Wajahnya berpendar-pendar bagaikan baiduri. Rambutnya harum mewangi.

Ia dibesarkan oleh hujan dan diasuh oleh peri-peri hutan nan rupawan. Embun di pucuk daun adalah menu sarapannya. Cahaya menemani siangnya. Gelap malam menyelimuti tidurnya.

Setelah beranjak dewasa, paras Balam Penari kian bercahaya, seperti sinar rembulan di musim panas. Tubuhnya nyaris sempurna, mulus seperti patung pualam yang dipahat para seniman Yunani. Matanya yang hitam kelam membuat semua lelaki yang menatapnya pasti bakal rela melakukan apa saja. Bahkan memetik bintang pun mereka akan dengan senang hati melaksanakan.

Tapi Balam Penari bukan perempuan sembarangan. Ia satu bintang di langit kelam. Begitu jauh, tapi begitu cemerlang. Sinarnya rimba pesona bagi banyak pria. Terasa dekat, namun tak terjangkau. Ia datang setiap malam, tapi bukan demi satu orang. « Read the rest of this entry »

Elegi Pecas Ndahe

Januari 10, 2009 § 37 Komentar

Sepucuk surat jatuh ke sungai. Arus yang liar menghanyutkannya ke sana kemari. Seorang pengelana menemukannya pada sebuah pagi, ketika gerimis jatuh setengah hati.

Diambilnya surat yang ditulis di atas kertas biru itu lalu dibacanya. Pelangi mewarnai langit di cakrawala ketika pengelana itu mulai membaca kalimat pertama.

“Kepada perempuan wangi melati yang selalu menanti di dini hari. Dari lelaki pengejar matahari.”

Pengelana mengernyitkan dahinya saat membaca larik-larik kalimat yang tak biasa itu. Ia lalu merebahkan badannya yang penat ke atas hamparan savana yang masih basah oleh gerimis. « Read the rest of this entry »

Mawar Pecas Ndahe

Desember 17, 2008 § 36 Komentar

Lanskap itu seperti mural-mural muram di dinding gereja Santo Basilika. Burung-burung berkelintaran dalam diam. Tumpukan perdu yang rebah. Daun-daun pucat. Laut yang beku. Sapuan warna pastel nan banal.

Perempuan mawar merah berdiri tegak menatap lanskap itu dengan hati rusuh. Air matanya merabas ke pipi. Badannya meretek ditikam hawa dingin. Hatinya renyek oleh kenangan yang pahit. Kenangan tentang lelaki pecinta mimpi yang pernah memetik rembulan dan bintang ke pangkuan.

Kenangan itu berawal pada sebuah musim semi, ketika lelaki pecinta mimpi hendak mengajaknya berlawalata ke ujung cakrawala — ke tanah nirmala. “Aku ingin kau menemaniku menghabiskan sisa hidupku,” begitu lelaki pecinta mimpi memberinya janji.

Tapi janji itu ternyata tak pernah ditunaikan. Langkah mereka berhenti begitu saja di tengah jalan tanpa tanda-tanda apa pun sebelumnya. Tujuan bahkan belum ada separuhnya. « Read the rest of this entry »

Murung Pecas Ndahe

Desember 15, 2008 § 27 Komentar

Mereka datang dari pertikaian berpuluh musim yang lampau. Tubuh-tubuh yang renta dari negeri air mata.

Matahari, juga rematik, wazir, dan encok, mengeremus tubuh mereka. Keriput telah mengentara di kulit mereka.

Mereka berjumpa di sebuah tempat pegadaian jiwa. Jiwa-jiwa yang terluka kemudian bersekutu dengan sepi.

Sepi telah meranggaskan mereka di ujung senja. Senja menelan waktu. Satu demi satu, seperti puisi murung T.S. Eliot. « Read the rest of this entry »

Naga Pecas Ndahe

Desember 11, 2008 § 56 Komentar

Pada sebuah siang yang meradang, lelaki naga berbulu merak berangkat ke timur. Ia hendak menantang matahari dengan segerobak pertanyaan. Tentang cinta, hidup, perempuan, dan hati yang remuk berjebai.

“Untuk apa kau datang kepadaku, lelaki?” matahari bertanya seraya meredupkan sinarnya.

“Aku ingin menjadi seperti dirimu. Memberi tak mengharap kembali. Engkau bersinar sepanjang hari, memberi napas dan kehidupan bagi penghuni bumi, tapi tak pernah berharap imbalan. Begitu ikhlas. Bagaimana kau bisa begitu?” tanya lelaki naga berbulu merak.

Matahari tersenyum, lalu bertanya, “Kenapa engkau hendak menjadi seperti diriku. Memberi tak meminta kembali?”

Lelaki naga berbulu merak terdiam. Ia tak segera menjawab. Ingatannya melayang pada perempuan bermafela kelabu yang menjerat kalbu. Lelaki dan perempuan itu berjumpa di awal musim semi. Pertemuan mereka laksana sebuah upacara — seperti ketika malam meminang rembulan. Udara wangi setanggi. « Read the rest of this entry »

Alegori Pecas Ndahe

Desember 8, 2008 § 50 Komentar

Pada senja yang muram, perempuan bermafela kelabu itu datang. Hujan baru saja lesap bersama matahari di barat. Rembulan dan bintang sebentar lagi datang. Senja sedang termangu di tepi cakrawala – singgasananya yang nirmala.

Perempuan mafela kelabu itu melangkah gaduh. Kakinya dihiasi giring-giring yang selalu berdering setiap kali melangkah. Parasnya rusuh. Tubuhnya kuyup oleh rindu yang kian membeku.

“Duhai Senja sahabatku, aku datang hendak mencuri waktu dan kesediaanmu mendengar,” perempuan bermafela kelabu itu meminta.

“Ada apa? Angin apa yang mengantarmu ke sini?” Senja bertanya dengan suara baritonnya.

“Aku menunggang badai,” jawab perempuan mafela kelabu itu.

Bibirnya kelu. Dadanya mendadak bergemuruh dipicu resah. Ia merasa tak nyaman. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with metafora at Ndoro Kakung.