Ndoro Kakung


Beranda | Arsip


Max Pecas Ndahe

Mei 21, 2008 2:10 pm

Max Moein. Nama itu tiba-tiba jatuh dari udara ke pangkuan saya pada sebuah siang yang lengas. Jangan tanyakan bagaimana prosesnya sebab saya pun tak tahu — dan ndak terlalu peduli.

Mungkin tak banyak di antara sampean yang mengenal Max Moein, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, karena kamera televisi jarang menampilkan wajahnya.

Meski lama berkarier di Senayan, sosoknya memang kalah pamor ketimbang, misalnya, Megawati Soekarnoputri atau Pramono Anung, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal partai berlambang banteng hitam dalam lingkaran merah itu.

Max Moein pernah menjadi Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004. Beberapa anggota Komisi yang dipimpin Max ini disebut-sebut media massa menerima aliran dana dari Bank Indonesia. Kasus aliran dana ini masih ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sejauh ini, kasus aliran dana itu belum tuntas diungkap. KPK baru menetapkan tiga tersangka dari kalangan Bank Sentral dan dua dari DPR, yakni Antony Zeidra Abidin dan Hamka Yamdu.

Tapi, Max membantah Komisi tersebut menerima aliran dana Bank Indonesia. Menurut dia, tuduhan itu tidak logis karena Komisi itu justru membatasi wewenang BI.

Sekarang Max adalah Wakil Ketua Komisi XI (Keuangan dan Perbankan) DPR RI. Komisi ini ramai dibicarakan media massa ketika bersilang pendapat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai calon gubernur Bank Indonesia.

Beberapa saat sebelum Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Boediono akhirnya terpilih sebagai Gubernur Bank Sentral yang baru menggantikan Burhanuddin Abdullah, Maxlah salah satu wakil rakyat yang terang-terangan menolaknya.

Menurut Max Moein, partainya akan menolak jika Boediono dicalonkan. Ia mengakui Boediono memiliki kemampuan moneter yang mumpuni dan dikenal luas di dunia internasional.

Tapi, menurut Max, Boediono lebih pas di posisinya sekarang. Ia lalu secara blak-blakan meminta Presiden mengusulkan minimal satu nama calon dari internal BI.

Siapakah calon pilihan Max?

Dia terang-terangan menyebut Miranda Goeltom, yang saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior BI, sebagai kandidat yang paling layak dicalonkan.

Kita tahu akhir cerita itu. Boedionolah yang akhirnya terpilih sebagai Gubernur Bank Indonesia lewat voting dengan perolehan suara mutlak.

Dari 46 anggota Komisi yang hadir dan memberikan suara, hanya satu suara yang menolak Boediono. Max? Bukan!

Drajad Wibowo dari Partai Amanat Nasional adalah satu-satunya anggota Komisi yang menolak Boediono.

Lantas, mengapa sekarang Max ditulis di sini? Apakah ada hubungannya dengan posting sebelumnya? Kalau iya, terus yang satunya lagi siapa dong?

Hush, hush … ssssssssssttt … sudah, sudah … Jangan melebar ke mana-mana. Itu memang pertanyaan yang bagus. Tapi, maaf, saya ndak punya jawaban yang bagus, hehehe …

Saya hanya ingin mengajak sampean melakukan tamasya politik. Max, bagaimanapun perannya, adalah sepotong puzzle dalam lanskap politik Indonesia — tak peduli besar atau kecil perannya.

Ia bagian kecil dari sebuah peristiwa besar yang sejatinya saling bersambungan. Kita tahu, tak ada satu pun peristiwa politik yang berdiri sendiri. Sebuah peristiwa selalu berkaitan dengan peristiwa lainnya.

Saya bukan hendak mengajari sampean tentang ilmu politik, melainkan hanya ingin menunjukkan bahwa politik punya banyak wajah. Kita bahkan bisa melihatnya dari pelbagai sisi.

Seperti sebuah prisma, politik memantulkan beragam sinar dalam pelbagai spektrum warna. Dengan mengenali sosok politik yang seperti itu, barangkali kita jadi bisa lebih arif memahami setiap gelora dan dinamikanya.

Salam pencerahan.

Beri peringkat:

Diposkan oleh: Ndoro Kakung

Kategori: Indonesiana

Tag: , , , , , , , , ,

39 Tanggapan to “Max Pecas Ndahe”

  1. oh ini toh jawaban dari sms ku kemarin itu, hehehe…trus yang pere nya ituh sapah ndoro ? keukeuh berusaha mengorek jawaban dari ndoro inih 🙂 kali aja ada next posting yang akan menjawabnya, gitu ? 😉

    By tamansari on Mei 21, 2008 pada 2:28 pm

  2. Wah koq belum beredar yang gambar2 hotznya, bakalan masuk inpoteinment ga ndoro?

    By daaan on Mei 21, 2008 pada 3:36 pm

  3. Wis cepak tancep kayon temenan to ndoro?

    By Nayantaka on Mei 21, 2008 pada 4:14 pm

  4. ini ada kaitannya dengan posting sebelumnya Ndoro??

    By yuswae on Mei 21, 2008 pada 4:46 pm

  5. aku kok ra mudheng ya ndoro?
    😀

    By sluman slumun slamet on Mei 21, 2008 pada 4:57 pm

  6. akh, politik penuh intrik…

    By silent reverie on Mei 21, 2008 pada 5:08 pm

  7. Pecunnya anak mana ndorooo.. jawaaab cepat hahahaha

    By balibul on Mei 21, 2008 pada 5:46 pm

  8. Gitu toh Ndoro. Politik ya politik. Sekotor apa itu politik ya? Atau barangkali sangat jorok.

    By Rafki RS on Mei 21, 2008 pada 6:08 pm

  9. tapi tidak berarti harus antipati kan ndoro?

    By herman saksono on Mei 21, 2008 pada 6:50 pm

  10. aaaaahhhh…mata saya masih berkabut. tapi buat anak daerah, wajar dong agak buta :p
    bagi gosipnya dong, Ndoro…

    By munyuk pemalu on Mei 21, 2008 pada 6:59 pm

  11. ternyata temen sepabrik ada yg punya fotonya. keponakannya katanya? trus foto yg satunya ndak diaplot juga? hihihihi

    By arya on Mei 21, 2008 pada 7:31 pm

  12. ohhhhhhhhhhh

    By indra on Mei 21, 2008 pada 7:33 pm

  13. satu hal yg tetap konsisten dalam dunia politik adalah inkonsistensi, jadi gak heran kalau apa yang dikatakan seringkali berbeda dengan yang dilakukan … ah max moein, ayo siapa lagi yg menyusul???

    terus sing cewek sopo ndoro? (seperti yg laen, berharap ada postingan lanjutan)

    Salam kebangkitan nasional, Indonesia bisa!

    By Aris Heru Utomo on Mei 21, 2008 pada 7:58 pm

  14. Tuh kan….
    Tadi di dpr juga ramai. Duh ‘ajaib’ saja kelakuan orang-orang senayan. Hahaha

    By atta on Mei 21, 2008 pada 11:21 pm

  15. Bolehkah aku melihat sari wajahmu
    Ai.. Ai.. Siapa dia….

    Ndoro ini bikin rindu ama acaranya kang Aom itu aja. :mrgreen:

    By hariadhi on Mei 22, 2008 pada 12:06 am

  16. Lho kalau mbaca makna tersiratnya, si cewe juga tersurat, ndoro?

    By hariadhi on Mei 22, 2008 pada 12:22 am

  17. lalu ?

    By Dedi Dwitagama on Mei 22, 2008 pada 2:39 am

  18. Hwaaa…ka….ka…. 😆

    Ndoro emang pinter “menyesatkeun” orang buwat ngenalin photo “ituh”…

    😆

    By Mbelgedez on Mei 22, 2008 pada 4:36 am

  19. ayo ndoro, paparkan fakta sebenarnya yang tak bisa kau tuliskan di pabrik… 🙂

    By kw on Mei 22, 2008 pada 7:48 am

  20. Max Moein, wah orang ini kayaknya dari dulu malang melintang di komisi basah, eh anggaran terus tuh.

    By Prenjax on Mei 22, 2008 pada 7:50 am

  21. hmmm…politik yang smangkin menggelitik…
    duhh,itu perempuannya sapa sih ndorooo… arteis bukan? :))

    By dilla on Mei 22, 2008 pada 7:58 am

  22. Ndoro tolong bahas dong soal penggeledahan angpao waktu sultan HB mantu kmaren….kayaknya terlalu berlebihan pake meriksa angpao segala,toh kmaren kayaknya waktu SBY mantu nda diperiksa sgala tu….

    Rakyat Yogya….

    By bedjo on Mei 22, 2008 pada 8:28 am

  23. Tapi yang cewe ini emang udah pernah kesandung kasus selingkuh dan yang aneh-aneh lainnya kan, ndoro? Gila… masih aja berkibar dia. @_@

    *gosip.. gosip…. makin digosok makin sipppp :mrgreen:

    By hariadhi on Mei 22, 2008 pada 9:18 am

  24. inikah jawaban ituh?

    By dobelden on Mei 22, 2008 pada 9:20 am

  25. Iki ngomongin soal opo seh??

    By pns gila on Mei 22, 2008 pada 9:47 am

  26. yak saya pun tercerahkan,.,. 😀

    By ika on Mei 22, 2008 pada 9:57 am

  27. Max, bagaimanapun perannya,….
    Ehm…saya harus mengartikannya bagaimana Kung…hehehe

    By Anusapati on Mei 22, 2008 pada 10:06 am

  28. wartawan serius tergoda berita selangkangan..
    ah, itu kapling kabar-kabari sebetulnya.

    By Mas Kopdang on Mei 22, 2008 pada 11:37 am

  29. oalah…ular berkepala dua?

    By merahitam on Mei 22, 2008 pada 5:33 pm

  30. dulu anthony zebra, eh zedra, sekarang max moein. mau bikin serial anggota dpr, ndoro ? 😀

    By adi on Mei 23, 2008 pada 9:21 am

  31. Ndoro, apa ini gandengan M di komplek TVRI simpruk, Senayan?

    By si-bango on Mei 23, 2008 pada 12:22 pm

  32. ya… anggota dpr/apr kan kayak artis. ya ga ndoro?

    By ivan on Mei 23, 2008 pada 1:04 pm

  33. Konfirm Ndoro. Max Moein sudah ngaku itu memang bener foto dia. Diambilnya 7-8 tahun lalu, di ruang ganti pakaian kolam renang….(tapi kalo dilihat-lihat koq lebih mirip kamar hotel ya?)

    By Anusapati on Mei 23, 2008 pada 1:14 pm

  34. udah beredar heheheheh

    By starboard on Mei 23, 2008 pada 1:59 pm

  35. gambarnya mana oom??hehe
    mau dunk..

    By BabimuT on Mei 23, 2008 pada 2:39 pm

  36. saya pernah nyaris jadi korban pelecehan anggota DPR MM.ngadu ke BK? malah kita yang ditangkap atas tuduhan pencemaran nama baik. orang kecil kayak saya bisanya diam.

    By nisa on Mei 26, 2008 pada 12:48 pm

  37. nyumbang link aja deh
    http://tribunbatam.co.id/Search?searchword=max+moein

    By agus on Mei 26, 2008 pada 6:42 pm

  38. yg paling menggelikan pernyataan si MAX yg di Kaskus tu lho Ndoro..
    Heran saya, politikus apa beneran tikus kali yah..
    ngakunya poto2 narsis di kolam renang tapi koq ada selimutnya..
    mbo’ya kalo BENERAN GUOBLOG jangan terlalu berterus terang tho..
    *ini mesti gambar mongki lagi.. hayo Ndoro, diganti gambare DEWI PERSIK ae..*

    By Julia on Mei 28, 2008 pada 3:01 am

  39. sorih Ndoro.. ternyata saya koment salah kamar..
    koment ituh harus nyah ada di sinih : https://ndorokakung.com/2008/05/19/selangkangan-pecas-ndahe/#comment-26569

    halaaah.. saya koq jd berterus terang mengaku blo’on..
    kuwalat inih

    By Julia on Mei 28, 2008 pada 5:53 pm

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.