eNovel Pecas Ndahe
Januari 6, 2010 § 66 Komentar
Pada mulanya adalah sketsa. Cerita-cerita pendek dan ringan yang muncul beberapa hari sekali di blog ini. Lama-lama menjadi cerita bersambung karena setiap bagian berkaitan dengan bagian berikutnya.
Terbit pertama kali dengan judul Lajang pada 13 Juni 2007 dan diakhiri oleh Harapan pada 17 September 2007, kisah bersambung ini mengambil tokoh sentral bernama Diajeng.
Sketsa-sketsa itu bercerita tentang cinta yang pedih antara seorang family man dan perempuan urban. Sebuah kisah klise tapi selalu memancing perhatian orang. Saya ingat, setiap kali cerpen tentang Diajeng terbit, para pembaca seperti sampean berkomentar macam-macam. Dan beberapa pembaca terus terang mengaku selalu menunggu kelanjutan kisah itu — sesuatu yang membuat saya terharu. « Read the rest of this entry »
Ramalan Pecas Ndahe
Januari 2, 2010 § 44 Komentar
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Presiden Indonesia keempat ini wafat Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB, di RSCM Jakarta. Dan kita pun merundukkan kepala untuk menghormatinya.
Lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940, Gus Dur adalah cucu K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Di pentas nasional, Gus Dur Gus Dur dikenal sebagai tokoh nasional, pembela kelompok minoritas, pelopor kemajemukan, dan guru bangsa. Ketika menjadi presiden, Gus Dur mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa. Dia juga menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui, serta Imlek sebagai hari libur nasional. « Read the rest of this entry »
Vonis Pecas Ndahe
Desember 29, 2009 § 57 Komentar
Hari ini, sejarah ditulis di Pengadilan Negeri Tangerang. Majelis hakim menjatuhkan vonis bebas murni kepada Prita Mulyasari yang didakwa mencemarkan nama baik dokter dan Rumah Sakit Internasional Omni.
Dan pengunjung pun meneriakkan, “Allahu Akbar!”
Siang tadi, saya ikut menjadi saksi ketika sebuah sejarah peradilan kita ditulis dengan tinta emas. Bersama pengunjung sidang lainnya, saya melewatkan detik demi detik, menunggu majelis hakim yang bergantian membacakan putusan.
Kalau saya tak salah ingat, inilah untuk pertama kalinya hakim memutus perkara pidana dengan dakwaan yang memakai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektonik. Dan, untungnya, putusan itu membebaskan terdakwa secara murni. Artinya, Prita tak terbukti mencemarkan nama baik siapa pun dan melanggar pasal-pasal yang dikenakan kepadanya. « Read the rest of this entry »
Brand Pecas Ndahe
Desember 24, 2009 § 81 Komentar
Paras Fany Ariasari terlihat berseri-seri siang itu. Meski peluh membanjir di tubuhnya, senyum selalu terkembang di bibirnya. “Capek sih, tapi senang,” kata narablog asal Semarang itu.
Fany, juga dua narablog lainnya, Pitra Satvika dan Aulia Halimatussadiah alias Ollie, tengah mengikuti fun game yang diselenggarakan oleh PT Acer Indonesia di Gili Trawangan, Lombok. Fun game adalah acara selingan dari workshop teknologi termutakhir yang digelar oleh produsen laptop merek Acer itu pada 15-17 Desember lalu. « Read the rest of this entry »
Infotainment Pecas Ndahe
Desember 21, 2009 § 111 Komentar
Makhluk apakah gerangan infotainment itu? Apa motif yang menggerakkan mereka? Apa nilai-nilai yang mereka anut?
Amerika, 1997. Para jurnalis yang bertugas di pos Washington memperoleh bocoran informasi kelas A1. Sebuah berita panas. Kabar yang berembus dari sebuah sudut di Gedung Putih itu menyebutkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjalin hubungan gelap dengan salah satu staf bernama Monica Lewinsky.
Para jurnalis pun bagaikan tersengat setrum listrik ribuan watt. Ini skandal kakap, Bung! Begitu pikir mereka. Merasa seperti melihat durian runtuh di depan mata, para jurnalis itu pun bergerak cepat. Mereka segera melakukan perburuan informasi sampai ke jantung pemerintahan. Di era Internet, hasil perburuan itu pun langsung dimuat di semua media dalam sekejap.
Semua?
Tidak! Kendati skandal yang dijuluki Monicagate atau Lewinskygate merupakan berita paling panas saat itu, Newsweek memilih menahan diri. Majalah berita ini justru seperti tiga ekor monyet bijaksana yang menutup mata, telinga, dan mulut itu (see no evil, hear no evil, speak no evil).
Mengapa? Apakah Newsweek mempraktekkan swasensor? « Read the rest of this entry »
