Citra Pecas Ndahe
November 9, 2007 § 38 Komentar
Pernah mengalami seperti ini: sampean mengidolakan seseorang, tapi ternyata orang itu ndak seperti yang sampean bayangkan semula? Citra orang itu sama sekali berbeda dari aslinya.
Bagaimana seandainya pahlawan sampean ternyata cuma seorang begundal gombal?
Eh, eh … Hari Pahlawan itu sekarang atau besok sih?
Sensasi Pecas Ndahe
November 8, 2007 § 60 Komentar
Bagaimana tips jitu menarik pengunjung, memanen komentar, dan menaikkan traffic blog?
Beberapa blogger kondang membocorkan rahasianya ke saya. Menurut mereka — tentu saja sambil bisik-bisik supaya ndak terdengar blogger lain — resep sukses nge-blog itu adalah bla … bla … bla … bla …
Halah, ternyata sangat mudah. Semudah membalik tangan. Tapi saya ndak mau percaya begitu saja. Karena penasaran, saya lalu iseng-iseng mempraktekkan ilmu ajaran mereka itu.
Sampean juga bisa melihatnya melalui posting-posting saya beberapa hari ini, termasuk soal lelucon perempuan dan bola yang “keterlaluan” dan “a tribute to Sarah” itu. Hasilnya?
Gotcha! Tips itu ternyata terbukti manjur. Saya panen komentar. Traffic melonjak bak harga minyak dunia. Sukseskah saya? « Read the rest of this entry »
Bola Pecas Ndahe
November 7, 2007 § 37 Komentar
Bukan maksud saya mau melecehkan perempuan, Ki Sanak. Tapi, saya cuma mau meneruskan obrolan dua penyiar iRadio, Poetri Soehendro dan M. Rafiq.
Menurut mereka, perempuan itu bisa diibaratkan olahraga/permainan bola. Maksudnya?
>> Perempuan berumur 20 tahunan itu seperti sepak bola. Bolanya satu, yang berebut 22 orang.
>> Perempuan usia 30-an seperti olahraga basket. Bola satu buat rebutan sepuluh orang.
>> Perempuan yang sudah 40-an tahun seperti pingpong. Yang main cuma dua orang, bolak-balik mukul satu bola yang sama.
>> Nah, kalau perempuan 50-an tahun itu katanya mirip olahraga golf. Mainnya sendirian. Kalau ketemu bola langsung dipukul jauh-jauh. Halah!
Apa benar begitu, Ki Sanak?
Ekspresi Pecas Ndahe
November 7, 2007 § 39 Komentar
Tahukah sampean, mengapa ketika sedang kecewa, marah, atau bersedih hati orang lebih suka menulis untuk melampiaskannya?
“… Menulis tentang peristiwa di suatu senja, tentang tangis, dan akhirnya airmata. Tentang sebuah perjalanan, pertemuan, dan perpisahan.” [© Buana Dara]
Benarkah ekspresi kesedihan itu lebih tepat dituangkan dalam bentuk tulisan?
Sebaliknya, saat tertawa, gembira, suka-suka, kenapa orang lebih memilih mengabadikannya lewat foto? Barangkali itu sebabnya pula kita selalu berpose sambil berteriak, ” Cheers …” [© fahmi!]
Benarkah ekspresi keriaan lebih tepat diabadikan dalam bentuk foto?
Bagaimana kalau ekspresi itu sekali-sekali kita balik?
[A tribute to Sarah yang telah bersedia berbagi perasaan dengan jujur dan sederhana. Aku terinspirasi olehmu.]


