Kenyamanan Pecas Ndahe

Mei 11, 2007 § 16 Komentar

Menu kenyamanan minggu ini: 1 large capuccino, 1 add flavour hazelnut, 1 hot tea peppermint, 1 tuna wrap, 1 beef wrap.

Cukup? Cuma itu? Murah dong?

Eits, tunggu dulu. Sampean mesti menyiapkan sepasang telinga yang bersedia mendengarkan kegembiraan, keluh kesah, kecemasan, ketakutan, cita-cita, masa depan, dan desah manja.

Dengan kata lain: kesabaran. Kedewasaan. Nah, itu yang mungkin susah dibeli — berapapun duit sampean.

O gitu. Lah, lipstik itu buat apa dong? Oh, itu sekadar pemanis fotografi saja kok … 😀

Leak Pecas Ndahe

Mei 10, 2007 § 8 Komentar

Busyet deh, susah bener sekarang nyari duit. Leak Bali pun mesti jauh-jauh terbang ke Jakarta demi melebarkan sayap bisnis di jantung ekonomi republik ini.

Saya ndak tahu siapa yang nyuruh Bli Leak ke Jakarta. Saya ndak tahu apa pula motifnya. Mosok datang jauh-jauh cuma mau nakutin orang? Buat apa? Apa untungnya?

Barangkali Ndas Glundung itu datang sendiri tanpa ada yang memerintahkan atau meminta. Mungkin dia sudah bosen dugem di Pulau Dewata, terus pengen cari hiburan baru di Ibu Kota.

Eh, siapa tahu si rambut gondrong ini mau ngelencer lihat lampu di Senayan City, tapi nyasar di Tomang. Maklum, dia belum pernah ke Jakarta dan ndak bawa peta. Mungkin dia naik bus Transjakarta (d/h busway) koridor III, jurusan Kalideres-Harmoni, dan turun di Tomang.

Ah, dasar Leak gaul … 😀

Mao Pecas Ndahe

Mei 10, 2007 § 9 Komentar

Saya mengetahui selarik kalimat yang menggetarkan itu dari Paklik Isnogud ketika kami mengenang tragedi Mei 1998 [alias revolusi yang tragis itu].

Hari-hari ini hawa Jakarta memang mengingatkan kami pada peristiwa memedihkan sembilan tahun yang silam itu.

Paklik bercerita bahwa kalimat itu sebetulnya pesan berbentuk sajak yang ditulis Mao Tse-tung (Mao Zedong) pada 1976 untuk istrinya, Chiang Ching (Jiang Qing), sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Roxane Witke, setelah wawancaranya yang terkenal dengan wanita itu.

Menurut Paklik, kalimat lengkap dari pesan itu bunyinya begini: « Read the rest of this entry »

Tepi Pecas Ndahe

Mei 9, 2007 § 7 Komentar

“Hidup manusia terbatas, tapi revolusi tak mengenal tepi.”

Kumis Pecas Ndahe

Mei 9, 2007 § 15 Komentar

Percaya atau tidak, ternyata tak ada polisi lalu lintas berkumis di Jakarta.

Kedengarannya memang aneh bin ajaib dan rada-rada kurang meyakinkan. Tapi saya pun baru tahu setelah iRadio tadi pagi mewawancarai dua orang Polwan.

Menurut mbak polisi itu, Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya memang punya aturan yang melarang polisi lalu lintas di jalan memelihara kumis. Aturan itu diteken oleh Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan sudah berlaku kira-kira setahun. Halah!

Kalau ada polisi yang nekat pakai kumis? Kata Mbak Polwan ada sanksinya: push up atau potong gaji. Serius? « Read the rest of this entry »