Pengungsi Pecas Ndahe
Mei 14, 2007 § 8 Komentar
Pabrik saya kedatangan tamu siang tadi. Namanya David Lazarus, Direktur Unic-Jakarta yang baru.
Mas Lazarus itu mantan jurnalis yang sudah berkeliling dunia. Ia sebetulnya orang Malaysia, tapi pernah tinggal di Kanada, juga Nigeria, dan bertugas di seantero belahan dunia lain, sampai akhirnya direkrut Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk ditempatkan di Jakarta.
Dalam obrolan singkat yang hangat, dia bercerita tentang tugasnya di Indonesia, rencananya untuk mengenal persoalan Indonesia lebih dekat, dan sebagainya. Ia juga menyebut-nyebut tentang sesuatu yang baru saya dengar: Environmental Refugee.
Pengungsi korban lingkungan? Halah, opo maneh iki? « Read the rest of this entry »
Penyiar Pecas Ndahe
Mei 14, 2007 § 25 Komentar
Berangkat ke pabrik pagi-pagi dan menemukan kemacetan di jalanan adalah sesuatu yang rutin setiap awal pekan. Saya nyaris hapal di mana titik-titik kebuntuan itu berada dan berapa lama saya akan terjebak di sana.
Ini Jakarta, Bung! What do you expect?
Tapi, pagi tadi ada yang berbeda. Dalam kemacetan yang panjang, saya mendapatkan hiburan ringan berupa cerita dari sebuah acara di iRadio.
Syahdan, Mbak Penyiar radio itu bercerita tentang pengalamannya melewatkan akhir pekan di Bali. Tapi, bukan acara jalan-jalan di pantai Kuta, makan di Legian, dan jojing di bar-bar yang dia ceritakan. Mbak penyiar itu malah mengisahkan bagian akhir perjalanannya, ketika dia di Bandar Udara Ngurah Rai, menjelang kepulangannya ke Jakarta.
Lah, kenapa? « Read the rest of this entry »
Keadilan Pecas Ndahe
Mei 12, 2007 § 16 Komentar
Benarkah kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh hilangnya rasa keadilan, pendapatan yang timpang? Saya ndak tahu.
Pada hari-hari itu, sembilan tahun yang lalu, saya cuma tahu Jakarta mendadak genting. Udara pengap. Gerah. Api di mana-mana. Rusuh.
Saya ingat asap hitam membubung ke angkasa. Saya melihatnya dari kejauhan. Dan malam menjadi sangat mencekam dalam selimut gelap. Sesekali terdengar senjata menyalak.
Hari-hari ini, saya bisa mengenang kembali drama itu dengan lebih tenang, dalam ruangan yang sejuk, kopi hangat, dan teman yang meneduhkan, Paklik Isnogud. Tak ada keringat, darah, api, dan kecemasan.
Suasana enak, menu syedap, apalagi yang kurang? Aha, dongeng Paklik. Rasanya seperti sayur tanpa garam bila duduk berdua tanpa mendengarkan Paklik ngoceh tentang apa saja. « Read the rest of this entry »
Cemburu Pecas Ndahe
Mei 11, 2007 § 18 Komentar
Inilah tikungan mengejutkan yang saya temui di dunia yang semakin tua ini.

`
Tiba-tiba saja ada seseorang kirim SMS begini:
I think I am falling in love with … err, your postings. Not yourself.
Haiyah. Tiwas ge-er. Lama-lama saya bisa cemburu pada posting saya sendiri. Tapi, apa ya saya mesti menghentikan posting hanya supaya dia berpaling?





