Wimar Pecas Ndahe

April 2, 2007 § 25 Komentar

Aksi bredel kembali menimpa sebuah acara di televisi. Kali ini yang ketimban apes adalah Wimar Witoelar, host acara bincang-bincang [talk-show] Wimar’s World di JakTV.

Kabar sangat gres ini saya dapat dari blog sebelah, tulisan Budi Putra dan mendapat konfirmasi dari blog perspektif (update).

Di blog sebelah itu Budi mengabarkan bahwa program Wimar’s World dihentikan tayangannya di JakTV mulai Rabu pekan ini.

Kenapa tayangan yang katanya mendapat rating tinggi (nomor 2) di stasiun itu dihentikan? « Read the rest of this entry »

Rokhmin Pecas Ndahe

April 2, 2007 § 8 Komentar

Entah julukan apa yang pas kita berikan buat Rokhmin Dahuri. Seorang koruptor atau guru berwajah ganda?

Rokhmin Dahuri adalah mantan menteri kelautan (2001-2004). Ia sekarang menjadi pesakitan dalam kasus dugaan korupsi, dan tengah menunggu kasusnya maju ke meja hijau. « Read the rest of this entry »

April Pecas Ndahe

April 1, 2007 § 17 Komentar

Karena hari ini tanggal 1 April, saya ndak mau bikin posting apa pun sekarang [lah ini apa dong?].

Saya khawatir nanti dikira sedang memberi sampean semua April’s Fool. Padahal saya kan priyayi, dilarang ngapusi atawa berbohong. Priyayi harus jujur … πŸ˜€

Jadi silakan balik ke sini lagi besok saja ya …

[picture taken from here]

Yockie Pecas Ndahe

Maret 31, 2007 § 14 Komentar

Seorang empu, salah satu yang terbaik di negeri ini, meramaikan ranah blog. Dia Yockie Suryo Prayogo.

Buat sampean semua yang belum mengenal sosok Yockie, baiklah saya sedikit kasih gambaran berdasarkan ingatan saya yang terbatas ini. « Read the rest of this entry »

Microwave Pecas Ndahe

Maret 31, 2007 § 11 Komentar

<div class=”gambar”

Pria adalah micowave; Wanita itu kompor listrik.

***

Kami, saya dan Paklik Isnogud, sedang mendengarkan album lama Guruh-Gipsy hasil kolaborasi Chrisye dan Guruh Soekarnoputra siang itu ketika Mas Mbelgedes datang tergopoh-gopoh. Keringat berleleran di wajahnya yang bersemu ungu — karena saking hitamnya. Napasnya terengah-engah, nyaris putus.

“Wadoh Paklik, Mas … tobat-tobat. Ketiwasan saya … ” kata Mas Mbelgedes sambil menunduk-nundukkan badannya.

Melihat Mas Mbelgedes yang datang mendadak dan sikapnya yang tak biasa itu, saya kaget campur heran. Selama ini seingat saya ndak pernah Mas Mbelgedes berani masuk ruang kerja Paklik. Ia buruh lapangan, sehari-hari dia jarang di pabrik. Kalaupun tak ada tugas ke luar, Mas Mbelgedes biasanya lebih suka nongkrong di warung depan pabrik, bukan di sini di ruang Paklik. Kenapa tiba-tiba dia menghambur kemari? Ada apa? « Read the rest of this entry »