Laptop Pecas Ndahe
Maret 22, 2007 § 40 Komentar
Schmutzer Pecas Ndahe
Maret 22, 2007 § 14 Komentar
Birokrasi cenderung mengabaikan perawatan. Di tangan para birokrat, sebuah gagasan bagus berjalan menuju kehancuran.

Saya beroleh kesan itu setelah jalan-jalan melihat Pusat Primata Schmutzer di tengah Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, kemarin siang. « Read the rest of this entry »
Saluran Pecas Ndahe
Maret 21, 2007 § 22 Komentar
Pada suatu malam di sebuah ruang keluarga. Seorang lelaki menatap televisi.
Dia memegang remote control dan sebentar-sebentar menggonta-ganti saluran. Film, sinetron, film kartun, siaran berita, pertandingan basket, balik film lagi … begitu seterusnya.
Sang istri — yang duduk di sebelahnya — terganggu. Acaranya nonton tayangan sinetron favorit jadi berantakan. Maka, ngamuklah sang istri. « Read the rest of this entry »
Ancaman Pecas Ndahe
Maret 20, 2007 § 12 Komentar
Modus baru?
Kok berani ya? Bukankah ancaman lewat website [Internet] lebih gampang dilacak ketimbang, misalnya, surat kaleng tradisional [lewat pos biasa, tanpa nama dan alamat]? Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?
Kesasar Pecas Ndahe
Maret 20, 2007 § 20 Komentar
Syahdan, pada suatu malam di sebuah kompleks perumahan …
Simboke : Mas, kayaknya kita mesti belok kanan di dekat masjid itu tadi deh. Sepertinya kita nyasar terlalu jauh. Kalau nggak, kita berhenti dulu saja dan tanya sama bapak-bapak itu deh.
Saya : Ndak usah, Bu. Aku inget kok, rumahnya ya sekitar sini kok, pasti ndak jauh lagi …
Simboke : Tapi kita sudah terlambat tiga puluh menit. Pestanya pasti sudah mulai dari dari. Ayolah, berhenti dulu saja dan bertanya pada seseorang. Paling cuma sebentar. Daripada muter-muter ndak keruan kayak gini …
Saya : Sudahlah, Bu. Ndak usah cerewet. Aku tahu jalan dan mesti gimana. Atau ibu aja deh yang nyopir, aku gantian duduk di situ …
Simboke : Loh piye to, Mas? Aku kan ndak bisa nyopir, tapi aku juga ndak mau kita muter-muter terus sampai malam. Mosok sudah sejam lebih, tapi rumahnya ndak ketemu. Kesel aku …
Saya : Yo wes, kita pulang sajalah. Capek, dari tadi muter-muter terus …
Simboke : Loh, kok malah marah, mutung …






