Nyepi Pecas Ndahe

Maret 19, 2007 § 11 Komentar

Kalau Nyepi itu hakekat, rasanya perlu lebih sering, tak cukup setahun sekali …

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak?

Nikah Pecas Ndahe

Maret 18, 2007 § 15 Komentar

Ki Sanak, dua “ayam” kawan kita ini — Dinda Jouhana dan Teuku Ismail — akhirnya kesasar di jalan yang benar. Mereka sepakat mau ngandang bersama. Kapan?

Hari : Sabtu
Tanggal : 24 Maret 207
Pukul :11.00 – 18.00 WIB
Tempat : Jalan Setia Luhur Gg. Dahlia No. 3-B, Medan 20123

Kalau rumah sampean kebetulan dekat lokasi mereka, silakan mampir. Kalau rumah sampean jauh seperti saya, marilah kita — dengan tidak mengurangi rasa hormat — berkirim doa saja untuk mereka.

NB: Heran, hari gini masih ada yang berani menikah ya … 😀

Fotokopi Pecas Ndahe

Maret 17, 2007 § 21 Komentar

Pada suatu siang, di sebuah perusahaan swasta nasional, di jantung Jakarta. Seorang sekretaris hendak menggandakan selembar dokumen penting perusahaannya. Ia lalu memanggil seorang Opis Boi.

Sekretaris : Mas, tolong difotokopi. Dua ya.

Opis Boi : Iya, Bu!

Lima menit kemudian, Mas Opis Boi itu selesai fotokopi. Ia menghampiri meja sekretaris yang tadi memintanya tolong sambil membawa dua lembar kertas.

Opis Boi : Bu, ini fotokopinya.

Sekretaris : Aslinya mana, Mas?

Opis Boi (bingung) : Aslinya? Anu, Bu … Teghal.

Sekretaris (bingung) : Tegal? Kok bisa?

Opis Boi : Iya, Bu. Mau gimana lagi, di desa ndak ada kerjaan …

Sekretaris : Mas, mas … Saya nggak nanya asal kamu dari mana. Saya nanya surat aslinya tadi mana? Kok ini cuma fotokopinya dua lembar?

Opis Boi : Oooooo … surat aslinya. Masih ketinggalan di mesin fotokopi, Bu.

Sekretaris : Cepet ambil! Dasar orang Tegal ….

Mohon maaf kepada orang Tegal dan sampean yang sudah sering nonton iklan permen itu … 😀

Indonesia Pecas Ndahe

Maret 17, 2007 § 13 Komentar

Saya kehilangan Indonesia. Rasanya baru kemarin saya taruh di sela-sela halaman buku pelajaran sejarah KEBANGSAAN. Tapi, hari ini tak saya temukan lagi bekasnya.

Saya kehilangan Indonesia. Sepertinya kemarin saya masih melihatnya ada di laci kiri, persis di bawah laci HATI NURANI. Tadi ketika saya tengok lagi, eh sudah tak ada.

Saya kehilangan Indonesia. Saya ingat betul pernah menyimpannya di dalam lemari pakaian supaya tak digigit TIKUS dan dijamah ULAR BELUDAK. Kenapa tiada lagi bekasnya di antara gantungan-gantungan baju WARNA-WARNI itu?

Saya kehilangan Indonesia. Saya sudah bongkar tumpukan KEJUJURAN, KERAMAHAN, KEDERMAWANAN, tapi tetap tak ada jejaknya.

Saya kehilangan Indonesia. Padahal waktu itu saya masih sempat menikmati HUTAN, SUNGAI, UDARA, dan GUNUNG, yang melindunginya. Sekarang saya tak tahu ke mana perginya.

Adakah di antara sampean yang tahu di manakah gerangan Indonesia? Apakah kira-kira kita masih bisa membelinya lagi di kios sebelah? Tunai boleh, kredit pun mau.

Selamat hari Sabtu, Ki Sanak. Selamat mencari Indonesia yang doeloe …

Brigadir Pecas Ndahe

Maret 16, 2007 § 25 Komentar

Seandainya sampean seorang polisi provost berpangkat brigadir satu yang bertugas di ibu kota provinsi. Bujangan. Punya pacar tiga. Setoran tiap hari lancar. Yah, ada sih kalau cuma seratus dua ratus ribu perak setiap hari dari kiri dan kanan.

Lalu tiba-tiba sampean mendapat surat mutasi ke kota kecil, jadi petugas jaga gardu monyet. Tanpa setoran, tanpa sogokan. Pacar berat di ongkos.

Bagaimana reaksi sampean? « Read the rest of this entry »