Drama Pecas Ndahe

Juni 5, 2009 § 87 Komentar

If there’s not drama and negativity in my life, all my songs will be really wack and boring or something. ~ Eminem.

Yeah, hidup memang bisa menyebalkan dan membosankan tanpa drama. Hidup bakal datar-datar saja tanpa tangis dan air mata. Kurang greget. Itu sebabnya kita umumnya menyukai drama. Sesuatu yang dramatik membuat kita bergairah. Membuat kalbu tercabik-cabik. Membuat perasaan teraduk-aduk.

Begitulah pelajaran yang saya peroleh setelah menghadiri persidangan pidana perdana kasus Prita Mulyasari di Pengadilan Negeri Tangerang kemarin. Dalam sidang yang hanya berlangsung 15 menit, Prita didakwa jaksa telah mencemarkan nama baik dokter dan Rumah Sakit Internasional Omni Tangerang.

Sidang kemarin mirip sebuah pentas. Lengkap dengan panggung, lamput sorot, dan kamera-kamera yang siaga menembak setiap adegan. Pengunjung sidang ibarat penonton sebuah pertunjukan. Kilat mata-mata mereka yang penasaran menatap tanpa berkedip, khawatir kehilangan setiap potong adegan. Orang berharap sebuah drama. Sebuah adegan dramatik.

Adakah? « Read the rest of this entry »

Caleg Pecas Ndahe

April 15, 2009 § 105 Komentar

Gagal meraih suara membuat para calon legislator bertingkah aneh. Ada yang gila, bahkan ada pula yang bunuh diri. Tak siap kalah?

Kalah dan menang dalam permainan itu memang biasa. Tapi kalau kalah dalam pemilihan umum, lain lagi ceritanya. Begitulah kisah yang kita dengar hari-hari ini menyangkut para calon legislator yang gagal meraup suara, padahal sebelumnya sudah merogoh modal tak sedikit.

Kisah tentang mereka yang terlempar keluar dari jalan menuju Senayan itu macam-macam. Ada yang unik, lucu, bahkan yang mengenaskan pun ada. Saya mencuplik beberapa, dari kliping daring yang terkumpul beberapa hari belakangan ini — setelah penghitungan suara pemilu dimulai.

Di Bulukumba, misalnya, caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Andi Langade Karaeng Mappangille, bersama tim suksesnya memblokir jalan sepanjang 3 kilometer. Aksi nekat tersebut, menurut situs berita Inilah, diduga akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi menjadi caleg terpilih. « Read the rest of this entry »

PKN Pecas Ndahe

Maret 3, 2009 § 84 Komentar

Kali ini kita ngobrol tentang anak sekolah dan pekerjaan rumahnya. Syahdan ada seorang bocah lelaki dari salah satu kota satelit Jakarta. Dia masih duduk di bangku kelas 3 sebuah sekolah swasta cukup ternama, cabangnya ada di mana-mana.

Pada suatu hari, ibu guru meminta anak itu dan semua murid kelas 3 membuka buku pelajaran PKN atawa Pendidikan Kewarganegaraan. Pagi itu, ibu guru hendak menerangkan materi tentang harga diri. Setelah menerangkan panjang kali lebar, lengkap dengan contoh-contohnya, ibu guru mengambil kesimpulan atas pelajaran itu.

“Jadi harga diri adalah penilaian seseorang terhadap diri orang lain. Orang lain menilai diri kita berdasarkan tingkah laku kita. Paham anak-anak?” tanya ibu guru.

Murid-murid serentak menjawab, “Pahaaaaaaaaaam …”

Ibu guru melanjutkan penjelasannya. “Harga diri seseorang berperan penting dalam pergaulan. Orang yang harga dirinya baik adalah jika orang itu bertingkah laku sesuai norma. Sebaliknya, orang yang harga dirinya tidak baik adalah orang tingkah lakunya tidak sesuai norma. Tahu bedanya anak-anak?”

Anak itu menjawab berbarengan dengan teman-temannya, “Tahuuuuuuuuu …”

“Nah, kalau sudah tahu, sekarang ibu akan memberikan PR untuk kalian. Kalian harus membawa gambar-gambar contoh orang yang harga dirinya tidak baik. Tidak usah banyak-banyak. Satu saja sudah cukup. Besok dikumpulkan ya. Mengerti?” tanya ibu guru.

“Mengertiiiiiiiiiii …” jawab murid-murid. Dan bel tanda pelajaran berakhir pun berdentang. Murid-murid pulang dengan riang. « Read the rest of this entry »

Colonel Pecas Ndahe

Februari 27, 2009 § 65 Komentar

Serupa tapi tak sama. Begitulah penampilan dua blog ini. Yang pertama, kita tahu, adalah Colonel Seven milik Iqbal Prakasa alias Gembul sang juragan angkringan Wetiga.

colonel seven colonel six

Nah, yang kedua ini entah milik siapa. Tapi namanya mirip, cuma beda satu angka: Colonel Six.

Mengapa keduanya menarik untuk dicermati dan ditulis di sini? « Read the rest of this entry »

Facebook Pecas Ndahe

Februari 17, 2009 § 144 Komentar

Ponari punya batu ajaib. Kita punya Facebook. Sama-sama irasional. Mereka yang percaya keduanya tak perlu saling mencemooh.

Begitulah pesan seorang kawan kepada saya pada sebuah pagi yang malas. Saya terhenyak ketika pesan itu memasuki Inbox dan saya membukanya.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa teman saya yang bermukim di sebuah pelosok desa di Bali itu bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

“Itu perlunya Anda membuka cakrawala berpikir yang lebih luas,” kata teman saya itu.

“Oh, baiklah, Guru. Mohon murid yang masih banyak belajar ini diberi pencerahan,” begitu saya meminta pada orang yang sudah saya anggap sebagai guru spiritual pribadi itu.

Maklum, dia petinggi agama. Ia mengajarkan kebajikan dan moralitas. Saya menjura dalam-dalam padanya.

“Begini,” kata kawan saya itu. “Legenda tentang Ponari dan batu ajaib semacam itu ada di berbagai belahan dunia mana pun. Anda boleh percaya, boleh tidak.

Tapi kita hanya akan membuang energi kalau memperdebatkan hal ini sebagai takhayul, mistik, irasional, atau bahkan ‘ajaran sesat’, karena ada ‘dunia lain’ di sekitar kehidupan kita ini. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with parodi at Ndoro Kakung.