Pacar Pecas Ndahe
Februari 1, 2012 § 93 Komentar
Laki-laki itu tiba-tiba menyebut akun Twitter saya di linimasa. Tidak hanya itu. Ia juga menggamit nama seorang penyiar televisi perempuan ternama dan memaki-makinya. Lelaki itu bahkan menyebut sang penyiar dengan julukan yang tak senonoh.
Saya kaget, tak menyangka ada orang yang dengan kasarnya mencemooh perempuan secara terbuka di ruang publik. Dan aksi itu dilakukannya beberapa kali. Dengan pesan yang kurang lebih sama: menjelek-jelekkan perempuan itu.
Saya diam saja, tak bereaksi membalas pesan lewat Twitter. Saya hanya membatin, pasti ada sebabnya lelaki itu menuliskan pesan yang tak pantas itu.
Dugaan saya terjawab kemudian. Perempuan itu mengirimkan DM. Ia meminta maaf dan menjelaskan siapa lelaki itu. Rupanya mereka pernah menjalin ikatan suami-istri. Biduk rumah tangga mereka ternyata berhenti di tengah jalan.
Akhirnya mereka bercerai. Sang suami tampaknya tak menerima keputusan pisah itu. Ia berang. Lalu menyerang mantan istrinya secara terbuka di linimasa. Serangan itu berlangsung terus-menerus, nyaris tanpa henti.
Dan saya jadi korban, ikut terseret mengetahui masalah orang lain yang sebenarnya tak perlu saya ketahui. « Read the rest of this entry »
TOA Pecas Ndahe
Juni 6, 2011 § 70 Komentar
Siapakah bintang pasar malam sejati? Badut sirkus, pemain akrobat, penyanyi orkes dangdut yang bergoyang panas di panggung hiburan?
Buat saya, orang yang selalu menjadi bintang di semua pasar malam adalah tukang obat asongan (TOA). Dialah orang yang dengan penampilan begitu unik mampu membuat orang tertarik mendekat. Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, terpesona oleh orasinya yang nyaris tak pernah putus sepanjang malam.
Saya ingat, waktu kecil dulu dulu, setiap kali ada pasar malam di alun-alun, para tukang obat biasanya memakai setelan baju dan celana hitam, kaus dalam putih, serta entah kenapa selalu berkumis. Saat bekerja, dia ditemani satu atau dua asisten. « Read the rest of this entry »
Verifikasi Pecas Ndahe
Maret 25, 2011 § 41 Komentar
Apa yang sampean lakukan bila di Twitter tiba-tiba muncul status seorang kawan berbunyi, “Butuh darah golongan B positif untuk anak penderita kanker di rumah sakit A. Hubungi 0818979xxx”?
Apakah sampean langsung meneruskan pesan itu ke linimasa (timeline) via RT? Mengecek nomor kontak untuk memastikan kebenaran kabar itu? Bertanya kepada si pengirim pesan pertama?
Saya berani bertaruh, sebagian besar dari kita, termasuk saya tentunya, akan dengan gampang memilih menekan tombol retweet tanpa memverifikasi kebenaran kabar itu. Dan tindakan ini terus berulang dan semakin sering terjadi setiap hari.
Jika kabar itu benar sih, tak ada masalah. Bagaimana bila sebaliknya? Mungkin akibatnya tak terlalu serius. Mereka yang tertipu paling hanya akan mengumpat. Tapi bayangkan seandainya kabar itu lebih dari sekadar informasi tentang kebutuhan darah. Bagaimana seandainya informasi palsu yang beredar itu tentang ancaman tsunami? Kebakaran? Kebutuhan dana? Sumbangan? Kematian seseorang? Atau hal-hal genting lainnya? « Read the rest of this entry »
Infotainment Pecas Ndahe
Desember 21, 2009 § 111 Komentar
Makhluk apakah gerangan infotainment itu? Apa motif yang menggerakkan mereka? Apa nilai-nilai yang mereka anut?
Amerika, 1997. Para jurnalis yang bertugas di pos Washington memperoleh bocoran informasi kelas A1. Sebuah berita panas. Kabar yang berembus dari sebuah sudut di Gedung Putih itu menyebutkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menjalin hubungan gelap dengan salah satu staf bernama Monica Lewinsky.
Para jurnalis pun bagaikan tersengat setrum listrik ribuan watt. Ini skandal kakap, Bung! Begitu pikir mereka. Merasa seperti melihat durian runtuh di depan mata, para jurnalis itu pun bergerak cepat. Mereka segera melakukan perburuan informasi sampai ke jantung pemerintahan. Di era Internet, hasil perburuan itu pun langsung dimuat di semua media dalam sekejap.
Semua?
Tidak! Kendati skandal yang dijuluki Monicagate atau Lewinskygate merupakan berita paling panas saat itu, Newsweek memilih menahan diri. Majalah berita ini justru seperti tiga ekor monyet bijaksana yang menutup mata, telinga, dan mulut itu (see no evil, hear no evil, speak no evil).
Mengapa? Apakah Newsweek mempraktekkan swasensor? « Read the rest of this entry »
