Alegori Pecas Ndahe

Desember 8, 2008 § 50 Komentar

Pada senja yang muram, perempuan bermafela kelabu itu datang. Hujan baru saja lesap bersama matahari di barat. Rembulan dan bintang sebentar lagi datang. Senja sedang termangu di tepi cakrawala – singgasananya yang nirmala.

Perempuan mafela kelabu itu melangkah gaduh. Kakinya dihiasi giring-giring yang selalu berdering setiap kali melangkah. Parasnya rusuh. Tubuhnya kuyup oleh rindu yang kian membeku.

“Duhai Senja sahabatku, aku datang hendak mencuri waktu dan kesediaanmu mendengar,” perempuan bermafela kelabu itu meminta.

“Ada apa? Angin apa yang mengantarmu ke sini?” Senja bertanya dengan suara baritonnya.

“Aku menunggang badai,” jawab perempuan mafela kelabu itu.

Bibirnya kelu. Dadanya mendadak bergemuruh dipicu resah. Ia merasa tak nyaman.

Senja sejenak terpana. Lalu membasuh perempuan itu dengan warna jingganya yang hangat. Perempuan itu tersenyum memamerkan lumpang di pipi.

Semenit kemudian, perempuan itu pun merawi, tentang cinta, lelaki hebat, dan selembar tipis rasa yang telah terbang bersama kenangan. Senja mendengarkan dengan takzim — betapapun klisenya kisah itu.

“Semuanya berawal dari udara,” perempuan itu memulai dongengnya. “Lalu menjelma jadi kata-kata, tentang rasa, kejujuran, dan petualangan. Mungkin juga sesuatu yang nista.”

Ah, alegori. Senja membatin. “Aku pernah mendengarnya dari angin yang berbisik ke telinga,” kata Senja.

“Bohong. Apa buktinya? Satu petunjuk saja,” perempuan itu menyela.

“Bagaimana kalau kusebut lelaki bulan bulat penuh?”

Aha, skak mat! Perempuan mafela kelabu tersipu. “Kabar rupanya cepat tersebar jauh. Tapi baiklah. Buat apa juga bersembunyi di relung yang pengap. Bacin toh gampang menguar.”

Senja tersenyum. “Aku akan mendengarkan saja … tanpa menghakimi.”

Perempuan mafela kelabu melanjutkan dongengnya.

“Ini kisah tentang rasa. Sesuatu yang kita rasakan ketika bertemu seseorang … seseorang yang sanggup menghentikan detak jantung dan meluruhkan segenap gelisah.

Dan aku terbenam. Begitu saja. Tanpa kami pernah menyadari sedetik pun apa pemicunya.

Aku hanya ingat, dia pernah mengantarku ke dermaga. Lalu memberiku surya. Dan kilauan sejuta gemintang.

Kami musafir sabar yang berkelana dari gurun ke gurun. Terkadang kami saling menyergap bagaikan dua pasukan yang sedang kalap berperang memperebutkan sejengkal oase di padang pasir.

Kami meronce angin. Meniti pasang buritan. Menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan … hingga kemudian terdampar di pantai kepasrahan setelah luluh lantak dihajar gelombang kebahagiaan.

Dia matahari. Aku hujan. Kami melahirkan pelangi.

Dialah satu-satunya lelaki kepada siapa aku pernah menaruh air mata bahagia dan duka sekaligus. Dialah satu-satunya lelaki yang pernah membuatku tidur seraya tersenyum.

Tapi, mimpi rupanya lekas pergi bersama halimun pagi. Memang aku sempat menyesap wangi tubuhnya. Menjilat peluhnya. Dan mendaras doa untuknya. Tidak lebih.

Cinta cuma sebentar singgah. Kami terlalu gugup, takut, dan akhirnya malah tak kuasa menggenggamnya erat-erat. Ia selalu meleleh di antara jemari, juga pori-pori hati.

Lalu semuanya berubah bersama musim yang terus berganti. Rasa itu pergi tanpa pamit. Terbang bersama kenangan. Semua yang pernah ada selesai bersama kemarin.

Ada yang hilang memang, tapi kami harus berhenti sampai di sini. Aku jadi hantu, begitu juga dia. Hubungan kami bukan dari jenis yang bisa dipamerkan ke delapan penjuru mata angin … ”

“Oh aku tahu,” Senja menukas. “Barangkali ini semacam ikhtiar untuk bertukar tangkap dengan lepas. Bahwa sesuatu yang bukan milik kita memang selalu menggoda untuk kita kuasai, meski pada akhirnya toh selalu berantakan.”

“Wahai Senja, kami manusia biasa,” kata perempuan itu lirih, “dengan kelebihan dan kekurangannya. Hari ini aku, dia, kami yang terpeleset. Esok atau lusa barangkali mereka.”

Ah, alegori. Senja mendesah perlahan, lalu terbang di balik bayang-bayang selimut malam …

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah mengorbankan milik sampean yang paling berharga?

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 50 Responses to Alegori Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Alegori Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: