Politikana Pecas Ndahe

Maret 16, 2009 § 64 Komentar

politikanaBinatang apakah gerangan politik itu? Mengapa generasi iPod terkesan ogah bersentuhan dengan politik, dan mereka seolah menganggapnya semacam penyakit menular yang harus dijauhi?

Paklik Isnogud cuma tersenyum geli ketika saya menanyakan perihal politik dan bagaimana generasi muda menilai politik masa kini. Ia malah mengacak-acak kepala saya yang nyaris tiada berambut.

Saya maklum dan menerima nasib diperlakukan seperti itu. Selain usianya jauh di atas saya, Paklik yang telah menelan asam-garam kehidupan dan pentas politik tentu jauh lebih paham soal ini ketimbang saya. Jadi saya cuma bisa mengumpat dalam hati, “Semprul!”

“Begini ya, Mas,” kata Paklik Isnogud seraya menyesap cangkir kopi hitamnya yang pahit.

Aha, akhirnya dia buka suara. Mungkin dia kasihan melihat tampang saya yang tertekuk dan menyimpan dendam ini, hi-hi-hi … Saya pun duduk dengan takzim dan siap-siap mendengarkan ceramah Paklik.

“Oke, jadi bagaimana, Paklik? Tolong kasih saya pencerahan,” saya berharap.

“Politik itu pada hakikatnya adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan. Ia mengandung unsur-unsur negosiasi, taktik, kadang juga muslihat. Dalam politik, ada kalanya kita tak menyampaikan pendapat atau suara secara langsung, melainkan diwakilkan. Ada orang yang menjadi perwakilan. Lalu ada partai. Dan seterusnya.

Nah pendidikan politik itu semacam pelajaran tentang politik. Tapi dia tak bisa diberikan cuma beberapa jam, beberapa hari. Apalagi ketika politik sudah seperti jenazah dalam laboratorium, dan hanya ditiup untuk sebuah upacara lima tahun sekali.

Kampanye, seperti yang hari ini mulai bergemuruh di Tanah Air, juga bukan pendidikan politik yang sebenar-benarnya karena politik — dalam arti kegiatan mencari dan memakai jalan untuk melaksanakan suatu cita-cita yang dianggap baik bagi masyarakat — telah berubah menjadi proses birokrasi.

Dalam proses itu, pendidikan politik memang tak perlu. Yang diperlukan ialah keterampilan merencanakan, mengontrol, dan mencapai target. Masyarakat ibarat sebuah asrama atau kantor, dan anggota masyarakat ibarat prajurit atau pegawai — dan tak ada bayangan bahwa masyarakat adalah sebuah bazar yang centang-perenang.

Pendidikan politik justru bermula dari kesadaran akan kecentang-perenangan. Kita dilatih mendengarkan aneka keluh dan keinginan, yang sering tak akur.

Pendidikan politik adalah latihan merumuskan keluh dan keinginan itu, dan mengujinya dalam perdebatan dan kompetisi. Ia mengajarkan perlunya kekuasaan.

Tapi, karena bermula dari asumsi tentang masyarakat sebagai sebuah bazar, pendidikan politik juga sebuah latihan mengakui keterbatasan kekuasaan itu.

Tidak mudah memang. Di sebuah masyarakat yang dianggap sebagai semacam asrama atau kantor, tak akan cukup tersedia infrastruktur kemerdekaan dan kesabaran, yang memberi saluran juga bagi suara yang aneh dan pada saat yang sama menghargai proses hukum.

Dulu, pada 1960-an, politik ada segalanya. Di masa itu, setiap hal dianggap politik, dan selebihnya hanya ilusi.

Tapi kemudian, Orde Baru membuat politik mati. Maka, politik pun hanya ibarat sebuah keramaian: pidato yang membosankan, yang diselamatkan oleh lagu-lagu merdu para penyanyi dangdut.

Klik dan percaturan pribadi menjadi begitu sentral. Dan publik, sebagai faktor, disisihkan. Politik cuma jadi intrik: hantam-menghantam, di suatu arena nun jauh di luar wilayah orang ramai dan tak pernah dipertanggungjawabkan ke sana.

Pada saat orang pada sibuk dengan urusan masing-masing — karena terdorong oleh kepentingan untuk kaya atau dapat posisi — masyarakat pun berangsur-angsur akan lepas dari proses politik, yakni proses bersama untuk mengatur hubungan-hubungan kekuasaan yang bisa membentuk corak komunitas yang ada.

Banyak hal kemudian hanya diserahkan kepada sejumlah ‘juru atur’, pemegang kekuasaan negara alias spesialis aman dan tertib. Apatisme masyarakat pun meruyak, kesewenang-wenangan penguasa merayap. Politik mati,” kata Paklik mengakhiri penjelasannya.

Pikiran saya jadi melayang ke mana-mana. Lalu hinggap di sebuah situs politik berbasis web 2.0 yang baru hari ini mulai ditayangkan secara daring: Politikana.

Saya merasa Politikana lahir karena tak ingin politik wafat di negeri ini. Bersama publik, Politikana ingin menghidupkan kembali politik. Untuk Indonesia lebih baik. Apakah Politikana berhasil atau gagal, di tangan sampean semualah nasibnya ditentukan. Politikana percaya bahwa politik belum mati. Setidaknya di negeri ini, detik ini.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean masih menganggap politik itu perlu ada?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 64 Responses to Politikana Pecas Ndahe

  • yang pasti politik itu kadang2 bisa bikin kita bingung.. eh, bukan kadang2 lagi deng.. malah seringnya

    dan kenapa generasi iPod ga mau berurusan sama politik? karena nanti kan ga bisa dengerin iPod lagi dongs..

    mending dengerin lagu dibanding pepesan kosong politisi..

  • aRai berkata:

    komentar dolo ah baru baca …

  • antobilang berkata:

    Sementara ini saya cuma bisa nengok Berpolitik.com untuk cari gosip2 seru soal politik, ndoro. Mungkin Politikana bawa warna baru, mari kita lihat, apalagi yang (sekarang) ngisi adalah para begawan blog yang tidak diragukan lagi kualitasnya.

  • Zam berkata:

    blah.. politik.. :p

  • Zam berkata:

    gravatarku kleru!

  • Wahyu Hidayat berkata:

    Politik is Politik ndor !!! Selamat berpolitik !!

  • BayuHebat berkata:

    pusing ndor. politik tuh menurutku macam benang kusut yang kemudian diluruskan dengan cara menarik paksa benangnya

  • hedi berkata:

    punya mainan baru nih ye 😛

  • mas stein berkata:

    saya orang kampung, politisi yang saya liat juga mungkin politisi kampung, tapi mungkin juga yang ada di pusat ndak lebih baik dari yang saya liat di kampung.

    ada mantan guru honorer yang mendadak kaya setelah jadi anggota DPRD, mohon maap bukan bermaksud menuding guru, bapak saya pun guru, ini kisah nyata. ini mbikin saya mati rasa karena mantan guru ini sudah menjadikan anggota dprd sebagai profesi buat nyari nafkah.

    saya pernah ketemu mantan calon bupati yang cerita ke saya kalo dia habis bermilyar-milyar buat biaya kampanye dan nyuap anggota DPRD (ini jaman belom pilihan langsung), waktu saya tanya gimana nanti balik modalnya, dia bilang “kan dana APBD disimpen di bank xxx mas, nanti saya tinggal minta bunga 0,5% lebih tinggi buat saya, kalo dia gak mau ya dananya saya cabut, pindah bank lain. itu baru dari bunga dana APBD…”

    saya sering denger keluhan dari pengusaha jasa kontraktor rekanan pemda yang harus setor 10% dari nilai proyek untuk bisa dapet proyek taun berjalan. itu pun nanti di akhir proyek dia masih harus setor ke salah satu rekanan besar yang jadi broker, yang kebetulan masih sodara kandung dari penguasa setempat.

    kalo yang saya temui seperti itu dan saya milih ndak ikut nyoblos apa berarti saya ndak menganggap politik itu perlu ndoro?

  • omiyan berkata:

    kata orang sunda mah mas

    …POLITIK AYEUNA MAH LIEUR SOALNA POLITIKUSNYA MAKIN LIEUR…

    POLITIK SEKARANG BIKIN PUSING SOALNYA POLITIKUSNYA MAKIN KEBLINGER…

    ya aneh bin ajaib lah

  • rayearth2601 berkata:

    oalah politikana…ana politik opo ora ?…
    lunga nang ngendi bae politik koq ora ana ?

  • Suka atau tidak suka…. susah menghindari fakta bahwa kehidupan kita, dalam sebuah negara macam ini, dipengaruhi atau malah diatur oleh siklus politik. Agaknya yang terpenting itu adalah kesadaran untuk peduli pada politik, karena akan menyangkut masing-masing WNI di negara ini. Sayang sekali… pendidikan politik masih belum merata 😕

    Naiknya harga telur, turun dan naiknya lagi BBM… bukannya semua itu keputusan politik?


    “Turn on to politics, or politics will turn on you”
    . . . Ralph Nader

    🙄

  • Eviwidi berkata:

    Politik adalah seni berbagi kekuasaan…

    Selama ini saya belum merasakan ‘kenikmatan’ politik di negeri ini yang betul-betul pro rakyat. Kalo politik cuma dijadikan ‘jembatan’ untuk bisa korupsi sebaiknya ditiadakan sajalah..gak usah politik-politikan, percuma.

  • arista berkata:

    politikus hanya membuat kasus sementara kita nikmati kakus

  • bodrox berkata:

    yang paling penting sekarang, adalah bisa buat account di Face Book…

  • Bang Fer berkata:

    politik itu ngeri kayaknya…masyarakat skarang masih trauma dengan orba,siapa menjadi oposisi pemerintah…HABIS…!!!

    itulah yang menjadi mindset generasi ipod dan hotspot kayak saya ini…

  • kita berkata:

    duhh..politik…

    hidup saya sudah rumit tanpa harus mikirin masalah politik ndoro….hihihi..

  • Epat berkata:

    saya sudah register (dance)

  • lekdjie berkata:

    saya masih belum suka politik ndoro…

  • Dak perlu mikir politikana sukses atau gagal, Ndoro. Yang penting kan sudah berbuat. Ya, ndak……”forum pecah ndase”.

    “Iyaaaaaaa………….tul,” teriak forum.
    Heheheheheeh….

    Maaf, Ndoro jika komen ini ngelantur.
    Btw, saya sudah register lho. Semoga bisa ikut berpartisipasi aktif.

    kalipaksi
    http://www.kalipaksi.wordpress.com

  • abu salam berkata:

    perlu dibedakan antara politik praktis dan pendidikan politik ndoro, sehingga tidak rancu.

    Kita sebagai warga negara telah sepakat bahwa kekuasaan/pemerintah dipilih oleh rakyat melalui pemilu dan pilkadal, sehingga sebagai warga negara yang baik tentu akan mentaati undang2 yang telah dibuat, terlepas kita lihat saat ini para calon pemimpin yang akan kita pilih sangat tidak memenuhi selera kita.

    Memang meminjam istilah kang Mao (klo ga salah ya ndor) tidak menjadi masalah apakah kucing itu putih atau hitam selama ia dapat menangkap tikus ialah kucing yang hrs dipilih. saya bukan pengagum Mao atau ide-ide yang lain yang kontra demokrasi akan tetapi justru yang menjadi persoalan adalah jika masalah politik ini terus menerus terkondisi sedemikian rupa sehingga timbul apatisme terhadap masalah politik dan lahirlah generasi ke 5 yang tidak mempermasalahkan kucing tadi ndoro…

    Saya rasa menjadi perhatian semua warga blogosphere untuk tetap komit terhadap UU yang telah disepakati bersama dan bahu membahu memberikan nasehat yang baik kepada masyarakat bahwa system inilah yang telah kita sepakati bersama. Dan sudah seharusnya menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat bahwa politik memang biaya yang tidak sedikit sehingga memerlukan ruang komunikasi dari seluruh stakeholder bangsa dan negara ini untuk memberikan contoh yang baik kepada generasi berikutnya. Ingat hanya pahlawan yang akan selalu dipuja oleh rakyat bukan koruptor apalagi pejabat yang bermoral bejat.

    • abu salam berkata:

      maaf sedikit koreksi

      “sangat tidak memenuhi selera kita. ”
      seharusnya “memenuhi selera atau sangat tidak memenuhi selera kita. ”

      “Dan sudah seharusnya menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat bahwa politik memang biaya yang tidak sedikit”

      seharusnya

      Dan sudah seharusnya menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat bahwa politik memang memerlukan biaya yang tidak sedikit

      terimakasih …

  • Abdee berkata:

    Hmmm….
    Saya dulu cuma dapat Nilai C pas mata kuliah Pengantar Ilmu Politik ndoro…

    Jadi ndak bakat jadi Politikus..

  • gilang mahardika berkata:

    yahh,, main kesinii ajah dehhh..
    liat generasi ipod yang ngomong.. hhe..
    http://gilang1st.wordpress.com/2009/03/14/golput-juga-pilihan/

  • DV berkata:

    Wangun, Ndoro!
    Saya jadi mikir, lima tahun lagi, berapa legislatif yang bisa datang dari komunitas itu ya…

    Salut untuk rekan yang membuat Politikana.

  • sanggita berkata:

    Bagi-bagi tugas lah, nDoro.

    Saya bagian Psikologi-nya saja deh ya.

  • si tono berkata:

    politik itu modernisasi kekuasaan.. karena di jaman kerajaan dahulu ngga ada politik tapi hanya kekuasaan tunggal yang dimiliki seorang raja..

    nah pas sebelum orde baru politiknya baru belajar.. masuk orde baru ini yang hebat.. politik seolah hilang dan kekuasaan tunggal muncul kembali..

    yah mau ngga mau sekarang harus belajar lagi..

    untungnya pas pertama kali saya nyoblos udah lewat jamannya trio-partai itu..
    hehe..
    dan sekarang saya belum tau mau pilih siapa karena calonnya ngga ada yang kenal.. mungkin milih sambil merem..???

    yah saya mah tanggung jawab aja atas suara yang cuman sebuah itu..

    he he ,, :mrgreen:

  • mesin kasir berkata:

    politik perlu, namun lebih bagus beretika dan cerdas, bukan pawai arak arakan pajang postek tanpa makna dan visi, dan yang jelas bukan jadi makelar2 proyek serta kasus di pemerintahan, bukan study banding keluarnegeri untuk ngelencer. jangan tambah rakyat semakin skeptis untuk melihat sikap buruk politikus2 opportunis, “denger2 30% lebih caleg itu pengangguran” LOL

  • ariawan berkata:

    ooohh ya ya… ini yang partnetnya tempo dan sahabatnya dagdigdug itu kan? 😉

  • 5 cm berkata:

    mmh… capek ndoro…

  • Abrianto berkata:

    Saya ngga tau politik itu apa, yang jelas hari ini politik udah bikin repot,macet dimana-mana….

  • dobelden berkata:

    kenapa namanya kok politikus?

  • Penyair Manis berkata:

    terjun di arena Politik memang menggiurkan dan menjanjikan, makanya sekarang banyak orang jual tampang di pinggir jalan demi menikmati kue2 politik.

  • candra berkata:

    ‘politik’, mainan yang dibeli dengan harga mahal.
    sekali mereka mendapatkan nya, mana yg lbh dulu jd prioritas?
    balik modal ato kerja dulu?

  • investonyouth berkata:

    wong banyak caleg yang “nyaleg” biar dapat kerjaan,
    jadinya ntar habis kepilih ya mikirin gimana caranya balikin modal
    soal rakyat yang katanye’ di wakili, itu mah nomor sekian, kalau sempat.

    biaya gede’ hasilnya gini-gini aje,

    coba aja lihat tuh, pilkada jatim yang nyedot duit rakyat dan katanye termahal,
    hasilnya ??? rakyat cuman melongo…..

  • samawabalong berkata:

    politik oh politik…

  • Iwan Rystiono berkata:

    Iya ndoro, saya termasuk generasi iPod dan saya begitu alerginya sama yang namanya politik. Gimana ya ngobatinnya, ndoro?

  • Saya ndak punya iPod, tapi saya cuman suka politik kalau dia jadi bahan guyonan di layar kaca :mrgreen:

  • deteksi berkata:

    <- gambar kucingku bagus

  • Apria berkata:

    adakah politik sama dengan pitik ndor..
    dan politikus sama dengan tikus?
    😀

  • ika berkata:

    hmm kapan yah negeri kita isa kayak amrik yang walaupun dalam suasana pemilu tapi ga rusuh dan kayaknya tuh intelek banget

  • Rusa Bawean™ berkata:

    berpolitik praktis ah….

  • dony berkata:

    iPOD saya yang lama ndoro 😛
    masih boleh kan diikutkan generasi iPOD

    btw saya sudah di register dan coba ngasih tulisan di situ hehehe 😀

  • racheedus berkata:

    Ada seorang teman saya yang cerita, ia sudah habis 200 juta untuk jadi caleg. Saat kutanya, bagaimana ia mengembalikan modal sebanyak itu. “Kalo berhasil terpilih, 2 bulan juga sudah kembali,” jawabnya penuh percaya diri. Saya jadi tambah bingung, Ndoro. Gimana caranya, ya?

  • negeri hijau berkata:

    salam kenal….

    negeri hijau

  • yusdi berkata:

    belajar politik seru….udah daftar

  • padahal berkata:

    tanpa adsense blog ini bisa kaya raya..
    buat kampanye gitu..hehe

  • berpantun berkata:

    politik itu seru, apalagi saat masih di kampus. belajar berpolitik dngan teman2 sendiri. tp saat ini…., capek jg berpolitik

  • wini berkata:

    politik.. selalu akan ada!

  • iqbal berkata:

    UIH, UIH, UIH LHA KOK SEMUA MAU PECAH NDASE NGOMONGIN POLITIK, MAU DAFTAR JADI CALON CORUPTOR YA, MENDINGAN DAFTAR PUNYA KIJANG INNOVA DISINI

  • Lowongan CPNS berkata:

    Sayang aye bukan yang pertamax :((

  • dragz berkata:

    politisi dan pampers itu harus sering diganti dengan alasan yang sama – robin williams

  • trisoer berkata:

    politik????? ora gelem melu2 ah…
    http://www.cashswim.com/?id=trisoer
    – Ubah 200rb menjadi 300jt kurang dari setahun.

  • danang berkata:

    berpolitik mah sah2 aja atuh,,cuma yang gak baik ya politik culas, yang cuma mementingkan golongannya sendiri,tanpa melihat kepentingan umum…yang kaya gitu mesti dibasmi..hahaha

  • w4onecom berkata:

    politik ???
    salah satu mata kuliah yg membosankan di kampus ku.. 😀

  • ndahdien berkata:

    kabarnya ndoro baru discuss politik dengan pk JK ya
    hohohooo…. ditawarin jadi wakil presiden kah?
    ayo ndoro nyalon presiden ajah, contreng pecas ndahe!! :))

  • syaifuddin berkata:

    saya masih percaya politik, tapi saya tak percaya politisi. mereka kadang membuat politik itu omong kosong, angin surga, janji-janji palsu, setelah itu pundi-pundi pribadi yang diurusi.
    makanya saya termasuk sangat hati-hati kini bersentuhan dengan politisi.

  • edratna berkata:

    Politik?
    Kompetensi yang tak kukuasai….tapi menurutku perlu tetap ada di sebuah negara.
    Cuma bagaimana agar politiknya santun dan berkualitas

  • cahsholeh berkata:

    *dapat rating +1 menarik

  • […] muda terhadap politik, bukan malah apatis seolah itu penyakit menular seperti yang dikatakan ndorokakung dalam blog pribadinya. Saya sebagai yang seharusnya termasuk generasi yang disebut generasi iPod […]

  • sofwan.kalipaksi berkata:

    Politikana itu ya wadah politik ala gue?
    Politik ala gue? Ya, gitu deh. Lagi pula, jika mau dikutak-katik dengan pendekatan grammar bahasa Arab, politikana kan bisa dijadikan dua kata: Politik dan Ana. Ana dalam bahasa Arab, artinya ya gue.

    Ndoro numpang promo ya… nih aku tulis Politikana.com: Politik ala Gue di sini:
    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/04/28/politikanacom-politik-ala-gue/

  • mr.Dab berkata:

    POLITIK ,udah tentu pool dengan taktik untuk mendapatkan sesuatu ( yang lazimnya ya kekuasaan yang dibungkus dengan plastik bening jabatan).
    karena tujuannya untuk dapat berkuasa ya segala taktik diberlakukan dengan cara masing masing, jadi kita kalo melu2 nggagas yo bisa pecah ndase tenan , kayak caleg-caleg yang gagal, buanyak yang jadi kemplu , sinting, ngengleng, ngah ngoh barang,
    eh, tapi politik itu kadang ya bikin pool nggelitik kok ya. semua sekarang bokoar demi rakyat kecil kecil dan kecil sekali. wis ngantuk.

  • mbahsantosapati berkata:

    Politik itu multi tafsir loh ndor, buat tetua partai, anggota DPR, Bupati yg mau pilihan maka politik itu berdagang, belinya berapa nanti ngembalikannya gimana. Nah buat para kisanak nanti kalo ada yg mberi anggap saja infaq, suara tetap ke pilihan kita uangnya anggap gak ngaruh. wek..wek..wek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Politikana Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: