Lanang Pecas Ndahe

Mei 31, 2007 § 18 Komentar

Wong lanang itu sosok yang tangguh, punya jiwa petualang. Lelaki sejati itu harus bebas, lepas, seperti sajak Chairil Anwar.

“Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati.”

Laki-laki juga harus bisa mengajak terbang. The only possible nonstop flight, terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat …

Yang penting bukanlah suatu arah, melainkan keberanian menjelajah. Yang penting bukanlah satu konklusi, melainkan eksplorasi.

Tak penting merpati itu mungkin capek kemudian dan jatuh. Sebab, kita tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Takut boleh. Takluk jangan.

Jadi laki-laki harus berani …

[Catatan harian Paklik Isnogud, tanggal 31 Mei 1970]

Waks! Berarti saya masih bayi waktu Paklik menulis jurnal itu … 😀 … Selamat menikmati libur panjang, Ki Sanak. Semoga kita bisa bertemu di sebuah tikungan perjalanan.

Tanah Pecas Ndahe

Mei 31, 2007 § 16 Komentar

Serombongan warga desa kemarin bentrok dengan prajurit Marinir di Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Peluru menyembur dari senapan serbu para prajurit dan penduduk desa pun tumbang.

Tragedi berdarah berlatarbelakang rebutan tanah garapan itu mengingatkan saya pada cerita Paklik Isnogud tentang Entong Gendut.

Menurut Paklik, lelaki pemberani itu warga Condet, Betawi. Dialah yang memimpin rakyat Condet melawan wedana dan mantri polisi karena ia sedih menyaksikan rumah petani dibakar habis oleh tuan tanah.

Itu terjadi di dasawarsa pertama abad ke-20, dan bukan dalam cerita lenong. Yang menceritakannya adalah ahli sejarah kita yang tersohor itu, Sartono Kartodirdjo, dalam bukunya Protest, Movements in Rural Java. « Read the rest of this entry »

3 Pecas Ndahe

Mei 30, 2007 § 28 Komentar

Pernah naik mobil sendiri dari Jakarta ke Yogya? Berapa lama sampean sampai di tujuan?

Yusuf dan Ambar butuh tiga hari.

Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh selama satu hari tersebut molor menjadi tiga hari karena mereka seringkali mengubah rencana perjalanan dengan berhenti dan menginap di beberapa tempat lain. Dalam perjalanan itulah terjadi beberapa kejadian menarik di antara mereka berdua terkait dengan budaya daerah yang mereka lewati, sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya — Ruang Film.

Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti) adalah tokoh dalam film 3 Hari untuk Selamanya yang sebentar lagi akan diputar di bioskop-bioskop. Ini film yang disutradarai oleh Riri Riza dan produsernya Mira Lesmana. « Read the rest of this entry »

Lelaki Pecas Ndahe

Mei 29, 2007 § 16 Komentar

Tadi malam TransTV memutar ulang sebuah film lawas yang dibintangi si ganteng Mel Gibson dan si seksi-cerdas Helen Hunt. Judulnya What Women Want.

Buat sampean yang belum nonton, mohon maaf saya ndak bisa membocorkan isi film yang disutradarai Nancy Meyers pada 2000 itu. Saya cuma bisa memberikan semacam ringkasan plot film itu, yakni tentang seorang lelaki yang tiba-tiba mendapat kemampuan membaca apa yang dipikirkan perempuan. Finally… a man is listening.

Aha, ternyata selama ini lelaki dianggap makhluk yang mendengar tapi tak pernah menyimak. Sampean tahu beda dan sebabnya? « Read the rest of this entry »

Wadehel Pecas Ndahe

Mei 29, 2007 § 22 Komentar

Tersebutlah sebuah taman. Di dalamnya tumbuh seribu kembang. Ada yang cantik dan menarik kumbang datang. Ada juga yang bahkan kupu-kupu pun enggan menghampiri.

Tak semua kembang di taman bermekaran. Sebagian bahkan mati sebelum kuncup. Ada kembang yang lekas mekar secepat ia layu. Ada yang butuh waktu lama untuk mekar tapi bertahan hingga detik ini.

Seribu kembang terus bermekaran setiap hari. Mati satu tumbuh seribu. Karena hidup jalan terus, dengan atau tanpa kembang. Semoga yang pergi sempat memberi arti …

*) A tribute to Teguh aka Wadehel, a blogger turns a legend.