Puisi Pecas Ndahe

Februari 24, 2008 § 29 Komentar

Seseorang pernah bertanya, “Untuk apa menulis puisi?’

Saya menggelengkan kepala, tak tahu. Saya cuma merasa bahwa pada dasarnya sebaris puisi bisa memukau karena kata-kata yang tertulis secara simultan menggetarkan bunyi dan melontarkan kekayaan gambaran, ke dalam hati.

Ada kalanya puisi sekadar bertutur tentang hal-hal yang remeh — tentang hujan, siput, ombak, lumut, dan kebun masa kecil, perasaan tentang mati, cerita tentang anak tanpa nama, dan entah apa lagi.

Puisi tak seluruhnya jelas, tak ada yang tersusun dalam kisah seperti Romeo dan Juliet, misalnya. Jadi kalau ada yang masih bertanya, saya pasti akan memberi jawaban yang samar.

Sekarang saya ganti bertanya, mengapa sampean menulis puisi, Ki Sanak?

Keberanian Pecas Ndahe

Februari 24, 2008 § 15 Komentar

Apakah keberanian itu? Terbuat dari apakah dia? Apakah pasar-pasar swalayan sudah menjualnya dengan rabat sekian persen?

Aku tak tahu. Tapi, aku ingat, seseorang pernah berkata:

“Keberanian memang bukan milik umum. Tapi itu juga bukan berarti orang-orang rudin bernyali kecil harus bunuh diri atau tak berbuat apa-apa — cuma tinggal dalam kamar menggigit jempol dan bermimpi tentang utopia.”

Ah, seandainya saja aku punya keberanian … aku ingin melipat dunia.

Popularitas Pecas Ndahe

Februari 23, 2008 § 25 Komentar

Jangan mencari popularitas. Begitu kebajikan yang pernah Paklik Isnogud ajarkan kepada saya, pada suatu masa, dulu.

Paklik lalu bercerita tentang seorang pejabat yang jadi pemimpin daerah di satu titik terpencil Republik.

Sang pejabat itu juga pernah mendengar ajakan untuk tak mencari popularitas. Ia lalu menuliskan dalam lubuk hatinya semboyan “jangan-mencari-popularitas” itu.

Ia bekerja tanpa pamrih. Dia selalu bilang kepada para wartawan lokal yang kadang-kadang mendatanginya, “Saya tidak suka publikasi, dik” — maksudnya, tentulah, tidak suka publisitas. « Read the rest of this entry »

Pengecut Pecas Ndahe

Februari 22, 2008 § 51 Komentar

Saya ndak mau ikut-ikut, males. Saya ndak merasa kualitas saya bertambah atau berkurang hanya gara-gara ada pesohor sableng yang dengan gegabah mengatakan:

“Internet itu dunia orang pengecut yang nggak ada kerjaan… “

Apakah termasuk orang-orang yang ada di sinikah? Entah.

Buat saya, Internet, juga blog, itu dunia yang 68% isinya mengasyikkan. Itu saja.

Tafsir Pecas Ndahe

Februari 22, 2008 § 21 Komentar

Kisah roman klasik Romeo and Juliet karya William Shakespeare ternyata tak berakhir tragis. Setidaknya dalam tafsir seorang pengemudi truk, dua tokoh cerita legendaris itu justru hidup bahagia hingga manula …

Walaupun punggungnya sudah terbungkuk, Yuliet [pakai Y] pun masih setia membawa seceret air untuk Romeo kekasihnya yang tengah menunggu burung di sangkar.

Ah, ada-ada saja. Untunglah yang ditafsirkan cuma dongeng rakyat yang kemudian diadaptasi oleh Shakespeare, dan bukan lukisan karya Leonardo da Vinci yang dianggap sakral itu …