Kunang-kunang Pecas Ndahe

Desember 26, 2007 § 23 Komentar

Kunang-kunang datang dan pergi
Tapi, kenapa ada yang berpendar sampai pagi?
Adakah kesetiaan, adakah gelora, yang menahannya hingga ujung hari?

Entah. Mungkin dia sekadar mendustai takdirnya sendiri …

Kenangan Pecas Ndahe

Desember 26, 2007 § 29 Komentar

Setiap kali kalender disobek, dan almanak berganti yang baru, setiap kali pula saya merenung dalam-dalam. Begitu banyak yang sudah lalu, begitu deras yang telah mengalir.

Seperti halnya dengan sampean semua, mungkin juga cuma sebagian, saya sering jadi sentimentil menjelang pergantian tahun. Mengingat waktu yang lewat, mengenang 365 hari yang kemarin.

Saya ingat, Paklik Isnogud pernah menceritakan waktu yang berlalu, juga kenangan, dengan sendu — dulu, di masa lalu.

Ia bilang, “Selalu ada selalu sesuatu yang sentimentil dalam cerita masa lampau yang hilang, Mas. Di sana-sini terasa cengeng dan kelewat manis ketika menengok ke masa ketika banyak hal belum berubah. « Read the rest of this entry »

Bayi Pecas Ndahe

Desember 25, 2007 § 23 Komentar

Hari ini, lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ada jabang bayi lahir di kandang domba. Tapi, siapa sebenarnya yang lahir di Betlehem 25 Desember itu?

Saya ndak tahu. Tapi, Paklik Isnogud pernah bercerita, “Barangkali tak seorang bayi pun, suci atau tak suci, lahir di hari itu, Mas. Sebagian orang yang meneliti perkara ini pernah menyimpulkan bahwa hari kelahiran Yesus ditentukan kemudian dan tidak ada hubungannya dengan catatan dan akurasi sejarah.”

“Kok bisa begitu, Paklik?”

“Bisa saja. Bahkan tanggal yang sekarang menjadi Hari Natal itu pada mulanya ada kaitannya dengan ritual pra-Kristen di Eropa, demikian juga halnya pohon Natal, dan entah apa lagi.

Tapi, pentingkah itu semua? Barangkali juga tidak. Cerita tentang Tuhan, para nabi, cerita tentang mukjizat, tentang pengorbanan jiwa, cerita tentang pengalaman religius dan hidup sebelum dan sesudah dunia, semua itu terlampau dahsyat untuk para penelaah fakta historis yang ketil dan cerewet.” « Read the rest of this entry »

Adab Pecas Ndahe

Desember 24, 2007 § 33 Komentar

Someone has told me this, “Just because we’re on the Internet doesn’t suddenly mean nobody needs manners anymore.”

Setujukah sampean?

Lalu, bagaimanakah sebetulnya adab bergaul di ranah blog, dan Internet? Perlukah kita menenggang rasa? Toleran? Or rejoice?

Ada yang bilang, kita bahkan tak memerlukan apa itu namanya, etika/etiket. Sebab, di sinilah kita bebas dan merdeka, semaunya. Tata krama cuma ada di alam nyata.

Internet itu jagad buram — maya. Jadi buanglah segala aturan, nilai dan norma, pepatah-petitih, petuah, juga basa-basi itu.

Mmm … begitukah?

Iseng Pecas Ndahe

Desember 23, 2007 § 56 Komentar

Singkat saja: Bagaimana seandainya SEMUA orang sudah punya blog?