Current Pecas Ndahe
Desember 22, 2007 § 18 Komentar
Seseorang bertanya, ke mana perginya current issue dari sini? Lah ini, Mas!
Ini? Iya! « Read the rest of this entry »
Kavadi Pecas Ndahe
Desember 21, 2007 § 19 Komentar
Malam seperti itu, hujan sering turun. Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas. Kulit terasa lekat. Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang. Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap.
Di antara suara sandal itu ada sepasang kaki yang lain. Bukan lain karena telanjang dan tua, tapi karena ritmenya berbeda. Langkah itu mirip langkah seorang penari kavadi. Cekatan, bersemangat, meskipun yang empunya berambut putih meskipun seluruh tubuhnya jembel, meskipun ia seperti sendiri.
Wajahnya adalah wajah tersiksa seorang penari kavadi — tersiksanya seorang kesurupan. « Read the rest of this entry »
Risau Pecas Ndahe
Desember 21, 2007 § 16 Komentar
Ketika matahari menghilang dan rembulan ganti menyembul, saya kerap bertanya-tanya, bakal lebih cerahkah hari esok? Akankah hidup kita jadi lebih baik dari kemarin?
Sampai gelap menelikung badan dan hujan mengguyur peradaban, jawaban tak juga saya dapatkan.
Saya lalu berbincang dengan Paklik Isnogud tentang masa-masa yang kian sulit dan membuat pinggang kita kian lisut seperti sekarang.
Pabrik masih sunyi. Paklik tepekur di mejanya. Ia mengenakan surjan lurik biru kesukaannya. Tangannya melinting tembakau dan kertas Marsbrand. Cangkir kopi dinginnya masih separuh, seperti tak disentuh. « Read the rest of this entry »
Reverie Pecas Ndahe
Desember 20, 2007 § 11 Komentar
Ada yang tak pernah selesai kau bincangkan
tentang hati dan nurani
ketakutan, kepedihan, dan kemuraman — jalan yang panjang
Ada yang tak pernah selesai kita katakan
epos, fabel, prosa
olah, renyut, dan latingku — keluhan yang membeku
Mungkin karena kita tak tahu kapan
air berubah bandang
gerimis menjadi hujan
angin menjelma badai
Dan kamu: sebuah asrar.
Embun pagi, langit lazuardi, yang menari bersama ratri …
:: untuk lamunan yang bisu.
Sekali Pecas Ndahe
Desember 19, 2007 § 27 Komentar
Seseorang pernah berkata:
Laki-laki hanya sekali jatuh cinta. Sebelum dan sesudahnya, ia mencintai bayang-bayang — bayang-bayang perempuan yang telah atau akan menjadi cintanya.
Haiyah! Aku pernah meragukannya, sampai suatu hari …
:: sebuah pesan pendek untuk pelangi di ujung senja.


