Haji Pecas Ndahe
Desember 19, 2007 § 22 Komentar
Kepada mereka yang datang menerima panggilan itu,
Ke negeri yang kering, ke kolong langit dalam dengus suhu 40 derajat, ke haribaan Kaabah dalam kelimun jutaan orang, mengikuti perlambang Bapa Ibrahim. Kepada yang datang dan impit-mengimpit di terowongan Al-Muaisim …
Labaik, Allahhumma Labaik …
:: satu hari sebelum hari keikhlasan itu ::
Enigma Pecas Ndahe
Desember 18, 2007 § 29 Komentar
Enigma,
Apa yang kau harapkan dari sebuah sayap yang retak? Hati yang patah? Juga punggung yang rekah?
Aku camar tanpa pantai. Rumahku langit. Pondokku udara. Aku pengelana semesta. Memungut suka selagi bisa. Memulung duka semasa tiba.
Imaji bisa sesat. Lalu janji? Ilusi? Ah sama butanya kukira. Kata-kata bahkan bisa sama berbahayanya dengan tuba yang kau sesap dari ujung rindu.
Enigma,
Apa yang bisa kau sentuh dari sebuah bayangan? Jejakku toh gampang pergi, dihapus kenangan dan masa depan. Kepedihan nama tengahku. Kesepian nama depanku.
Aku tahu, yang tak bisa kau miliki kadang-kadang memang jauh lebih menggoda. Tapi, kamu juga mesti mengerti, lantai harapan sering sama licinnya dengan jalan kehidupan. Kita gampang tergelincir dan kehilangan pegangan.
Bersediakah kau pertaruhkan kartu terbaikmu di atas meja ketika aku berjudi bukan untuk setiap lembar uang yang kumenangkan?
Nina Pecas Ndahe
Desember 18, 2007 § 22 Komentar
Kepada mereka yang serakah. Kepada mereka yang mau membuat manusia dan dunia secara habis-habisan mengikuti satu rumus. Baiklah untuk diingat sebuah sajak penyair Rumania, Nina Cassian …
Aku serakah. Para Puritan pun marah
Karena kukejar meja hidangan
Yang tersaji di kehidupan
Dari semua kuingin dan kuimpikanMereka mencerca aku berpesta
Mereguk yang pahit dan yang meriah
Melulum krim berkendi-kendi
Mengenyam nyaman panasnya rotiMereka kecam jepit dasiku
Dan sunting kembang yang di rambutku …
Gairah Pecas Ndahe
Desember 17, 2007 § 32 Komentar
Dua kelir raksasa baru ditutup dan berlalu, Konferensi Perubahan Iklim di Bali dan Pesta Olahraga SEA Games 2007 di Thailand. Dan, layar gairah baru kembali dibuka Senin ini.
Apa yang bisa kita ceritakan tentang yang sudah lewat? Apa yang kita peroleh? Remah-remah? Kedongkolan? Kegembiraan? Kepahitan?
Paklik Isnogud cuma manggut-manggut ketika saya bertanya. Di mejanya terserak koran-koran dan majalah. Hm, rupanya ia baru saja melalap kabar dari mana-mana. Secangkir kopi tampak masih mengepul.
Ia lalu tersenyum, dan sebentar kemudian melinting tembakau dan kertas Marsbrand. “Tentang reriungan di Bali itu, Mas,” kata Paklik membuka percakapan, “membuat saya teringat pada juragan sampean, Mas Goen.”
“Mas Goen? Kenapa dia? Dia menulis apa, Paklik? tanya saya agak heran.
Ia baru saja membuat ulasan yang bagus — seperti biasanya — tentang bumi, lingkungan yang kian rudin, kerakusan manusia, juga kecemasan.” « Read the rest of this entry »


