Sejarah Pecas Ndahe
Agustus 8, 2007 § 14 Komentar
Kontroversi tentang penemuan rekaman video lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza, pernyataan Roy Suryo yang mengklaim telah menemukannya dan menganggapnya penting karena ia ndak tahu persis sejarah lagu itu, dan semua bru-ha-ha lainnya, menyadarkan saya tentang betapa pentingnya sejarah.
Mengapa sejarah penting? Bagaimana pula cara menulis sejarah supaya tak bercampur aduk dengan mitos dan dongeng?
Saya ndak tahu. Untunglah saya punya telaga yang tenang, samudera kebajikan dan kearifan, seorang Paklik Isnogud. Kepadanyalah saya kemudian banyak bertanya tentang sejarah. Apa kata Paklik Isnogud?
Mohon maaf, kelanjutannya ditunda besok …. 😀
Roy Pecas Ndahe
Agustus 8, 2007 § 35 Komentar
Surat Terbuka untuk Roy Suryo
Roy,
Pertama-tama izinkan saya meminta maaf kepada sampean atas semua posting yang saya buat dengan memanfaatkan nama sampean, tanpa minta izin pula, seenak saya sendiri. Padahal, justru berkat nama besar sampean, saya telah mendapatkan banyak keuntungan.
Saya telah memanfaatkan nama sampean yang memang empuk sebagai sasaran kecaman itu dengan semena-mena. Saya meminjam ketenaran sampean demi popularitas saya sendiri. Saya menjadi pendompleng yang tak tahu diri.
Terus terang saya ndak punya masalah pribadi dengan sampean. Begitu pula sebaliknya saya kira. Tapi, lihat betapa jahatnya saya yang sudah memanipulasi sampean. Saya pura-pura menawarkan senyum yang tulus ketika pada saat yang sama hati dan pikiran saya sebenarnya penuh muslihat. Padahal sampean ndak pernah melakukan hal yang sama kepada saya.
Saya jadi merasa kotor, seperti Durna, Yudas, dan para pengecut yang suka menikam dari belakang itu. Betapa tak adilnya saya. Betapa kekanak-kanakannya saya. Padahal apa salah sampean pada saya? Ndak ada sama sekali. Kesalahan sampean cuma satu: sampean sangat kondang, lebih tenar dari saya. Itu saja. « Read the rest of this entry »
Pakar Pecas Ndahe
Agustus 7, 2007 § 50 Komentar
Sampean mau terkenal? Mau jadi pahlawan? Baca dulu 10 tips jadi pahlawan terkenal:
1. Nama sampean harus berawalan R, misalnya Robot Gedek, Rodo Wagu, Rondo Kemul, dll.
2. Sampean harus menjadi pakar, boleh pakar rumput, jagung pakar, atau pakar apa sajalah.
3. Punya kumis, boleh yang warnanya hitam, boleh putih.
4. Menemukan rekaman video — apa pun isinya. Isinya ndak penting, yang penting sampean nemu.
5. Belum pernah baca buku sejarah, terutama sejarah lagu dangdut.
6. Punya teman wartawan, kalau bisa dari media yang beritanya bisa di-link.
7. Siapkan sedikit uang untuk nraktir wartawan yang sampean undang. Pokoknya asal cukuplah untuk nraktir sepiring mie rebus kek, teh manis kek, teh pahit kek.
8. Punya handphpone lebih dari satu, dengan pulsa tak terbatas untuk mengirim kabar penemuan sampean.
9. Siap ditelepon/dihubungi 24 jam sehari. Bila perlu, sampean harus bisa menjawab telepon sambil tidur.
10. Harus bisa bangun siang supaya bisa disebut pahlawan kesiangan. Kalau bangunnya pagi, namanya pahlawan kepagian dong.
Indonesia Raya Pecas Ndahe
Agustus 5, 2007 § 105 Komentar
Namanya Roy Suryo. Now, he is the man on fire — as usual.
Hahaha … Terus terang saya kagum padanya. Di beberapa milis dan blog, namanya kembali disebut-sebut sebagai orang yang sedang mencari sensasi (lagi). Tentu saja bukan kali ini saja Roy menggegerkan publik.
Yeah, he is the man on fire, indeed.
Gegeran kali ini muncul setelah Roy dan Tim Relawan Air Putih mengumumkan penemuan dokumen video lagu kebangsaan Indonesia Raya lengkap dalam tiga stanza berdurasi 3 menit 49 detik, dengan ukuran file sekitar 20 MB (Roy tak ingat persisnya).
Pengumuman mereka dimuat di koran yang ringkas dan cergas itu, Sabtu kemarin. Lalu, orang ribut di milis-milis dan situs berita dotcom. Ada yang menuduh Roy menjiplak temuan yang sebenarnya sudah ada di YouTube dan Wikipedia. Sejarawan Des Alwi juga mengklaim memiliki rekaman asli lagu Indonesia Raya dalam versi lengkap 3 stanza.
Saya penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kebetulan saya mengenal Roy Suryo — kalau dia mengaku ndak kenal, itu urusan dia. Bukan urusan saya. Yang jelas, suatu kehormatan buat saya karena dia mau menerima telepon saya.
Anehnya, dia langsung menjelaskan isu yang kontroversial itu sebelum saya sempat bertanya. Pokoke dia langsung nyerocos begitu saya menyapa, “Halo.”
Nah, beginilah cerita versi Roy. « Read the rest of this entry »
Kuldesak Pecas Ndahe
Agustus 3, 2007 § 19 Komentar
Satu-satunya yang lebih sulit dari menulis adalah mulai menulis.
Saya tahu Ki Sanak karena saya juga sering mengalaminya. Tiba-tiba kita merasa ndak tahu mau nulis apa. Mendadak di depan kita hanya ada selembar kertas putih atau layar monitor yang kosong, tanpa satu kata apa pun.
Saya paham betul masalah sampean. Saya juga sering mengalaminya. Mati ide, gaya, dan kata-kata. Rasanya seperti bertemu kuldesak, jalan buntu, dan ndak tahu mau ngapain.
Untuk sebagian orang, menulis memang lebih sulit dari apa pun. Sampean mungkin lebih jago masak, mengganti kran air yang rusak, memperbaiki sepeda anak-anak, menambal ban kempes.
Tapi, menulis? Halah. Tobat … tobat … « Read the rest of this entry »

