Dishub Pecas Ndahe
Juni 28, 2007 § 11 Komentar
Ya beginilah yang namanya berebut rejeki di jalan. Siapa yang kuat, dia yang menang. Tinggallah pelanduk terjepit di tengah.
Siapa pelanduknya?
Siapa lagi kalau bukan kita Ki Sanak, saya dan sampean, para pengguna jalan. Kita ini cuma dianggap sekadar angka-angka, sasaran rebutan.
Di mata mereka, jidat kita ini ada tulisan besar-besar: DUIT.
Menulis Pecas Ndahe
Juni 27, 2007 § 16 Komentar
Menulis sesuatu yang orisinal untuk blog itu memang pekerjaan yang tak gampang. Butuh waktu, pemikiran, dan energi.
“Writing is 99% perspiration and 1% inspiration” — William Zinsser
Kuncinya: Jangan mudah menyerah. Ayo, sampean pasti bisa!
[untuk seseorang yang tengah berada di simpang jalan]
Tangis Pecas Ndahe
Juni 27, 2007 § 16 Komentar
Mas, Mas, kenapa sih sampean nangis? Wong lanang kok nangisan. Wis gede maneh. Mbok dadi wong lanang ki ojok gembeng, cengeng, dikit-dikit nangis.
Terharu tauuu …
Terharu? Halah. Kok baru sekarang? Memangnya selama ini sampean ke mana saja?
Sibuk dong, banyak kerjaan. Emangnya pengangguran seperti sampean. « Read the rest of this entry »
Kantor Pecas Ndahe
Juni 26, 2007 § 20 Komentar
Batu Pecas Ndahe
Juni 25, 2007 § 22 Komentar
Masa depan merupakan tanah liat. Bisa dibentuk dari hari ke hari. Masa lalu adalah batu padas. Tak bisa diapa-apakan – Sidney Sheldon
“Halo, Yah. Ayah di mana?” terdengar suara anak saya di ujung telepon.”
Deg, hati saya berdebar.
“Eng, eh … Ayah di kantor. Ada apa, Nak?”
“Pulangnya masih lama nggak? Nanti sore kita jadi berenang, kan?”
“Jadi dong, tunggu ya. Sebentar lagi ayah pulang.”
“Ya udah. Cepetan ya. Daag … Ayah.”
“Daag…”
Saya menutup telepon. Ugh, lega rasanya. Saya kira ibunya yang menelepon. Kalau dia yang menelepon, pasti lebih susah menjawabnya. « Read the rest of this entry »





