Salsa Pecas Ndahe
Januari 24, 2007 § 23 Komentar
Life is so easy with salsa.
Rita, perempuan Puerto Rico yang besar di New York itu, mengatakannya dengan ringan.
Dan, begitu sebuah lagu berirama salsa terdengar dari pengeras suara, ia pun mengajak Miguel suaminya berdansa. Begitu spontan.
Tapi, bukan hanya salsa. Secangkir kopi di Bongos Cuban Cafe yang aroma dan rasanya begitu dahsyat juga bisa membuat hidup saya jauh lebih ringan dan mudah di jantung Orlando.
Terima kasih untuk Keluarga Desindra yang telah mengajak saya melewatkan malam yang menyenangkan itu.
Life is so easy with salsa.
Imigrasi Pecas Ndahe
Januari 23, 2007 § 22 Komentar
Masuk negara yang mengidap paranoid akut memang susah. Dikit-dikit petugas imigrasinya nanya, sampean dari mana? Mau apa ke sini? Pernah ke sini sebelumnya? Bawa duit berapa? Eh, nama sampean kok cuma satu kata? Apa sampean ndak punya nama keluarga?
Halah. Repot bener yack? Mungkinkah karena tampang saya terlalu ndesit? Tak punya nama keluarga seperti umumnya orang Jawa? Atau karena mereka memang menyimpan prasangka pada orang luar? Ah, prasangka … Betapa absurd kata itu buat saya.
Meski absurd, saya mengalaminya juga. Absurditas dimulai di bandara Soekarno-Hatta ketika saya antre di meja imigrasi. Begitu menyerahkan paspor saya dan mas petugas itu memasukkannya di database, eng … ing … eng … muncul data dan foto saya di layar komputer. « Read the rest of this entry »
Armstrong Pecas Ndahe
Januari 23, 2007 § 24 Komentar
Tiba-tiba saja orang tua itu muncul dari belakang panggung. Jalannya agak tertatih, badannya sedikit membungkuk. Begitu sampai di tengah panggung, ia melambaikan tangan. Senyumnya mengembang. Giginya putih bersih dan masih lengkap, tanda selalu dirawat.
“Ladies and gentlemen, please welcome Neil Armstrong.”
Halah. Gendeng. Lelaki sepuh itu ternyata benar-benar si astronot legendaris, orang yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan, Neil Armstrong.
Orang-orang langsung berdiri dan bertepuk tangan panjang. Saya ndomblong. Mulut saya menganga nyaris tak percaya. Waow … sosok tokoh yang dulunya cuma saya kenal di buku-buku sejarah dan sains itu benar-benar di depan saya. « Read the rest of this entry »
Kostum Pecas Ndahe
Januari 22, 2007 § 12 Komentar
Pernah salah kostum? Mengira cuaca bakal dingin, ternyata sumuk pol. Mengira perlu jaket tebal plus sweater, ternyata pakai celana pendek pun ndak apa-apa.
Lah ya itulah yang saya alami sekarang. Untung ndak ada yang tertawa. Untung, tampaknya ndak ada yang memperhatikan. Tapi tetap saja rasanya bagaimana gitu. Salah kostum membuat saya merasa wagu.
Padalah sebelum berangkat saya sudah ngecek situasi dan kondisi calon TKP via internet. Eh, rupanya meleset juga. Lain kali mungkin harus ngecek langsung kepada penduduk lokal ya? Sayang, saya belum kenal satu pun penduduk di sini.
Ada saran, apa yang harus saya lakukan dengan kostum-kostum yang salah itu, Ki Sanak? Sampean sendiri kalau pas “sal-tum” biasanya terus ngapain, sih?






