Kupu-kupu Pecas Ndahe
November 23, 2007 § 27 Komentar
ada kupu-kupu di kepalaku
menari, menggelinjang
tolong … tolong … tangkapkan untukku
satu sajaaku mau berdansa dengannya
Setan Pecas Ndahe
November 23, 2007 § 20 Komentar
Seandainya blog sudah mati, apalagi yang menarik dari permainan ini?
Tiada kata, tiada gambar. Tanpa dia, tanpa kita.
Ah, untungnya, dalam hidup ini ada setan. Dan, sepanjang hidup ini, kita membutuhkan setan. Kalau sedang sepi, tak ada setan, kita masih bisa mengimpornya dari gudang purbasangka atau kerisauan kita sendiri.
Kalaupun tak ada juga, kita dapat mencari musuh. Musuh memberi kita bentuk. Kebencian dan kewaspadaan memberi kita kekuatan.
Dengan cara itulah kita punya cara yang lebih gampang dalam “mengetahui” dunia: ada kawan, ada lawan, ada sana, ada sini.
Tapi, apakah sebetulnya dunia itu? « Read the rest of this entry »
R.I.P Pecas Ndahe
November 22, 2007 § 36 Komentar
The blog is dead. Seseorang mengeluh dengan lirih. Saya tahu, ia seolah hendak melawan, tapi tertahan. Ia kalah, tapi tidak takluk.
The blog is dead … long time ago. Air matanya tertahan di sudut. Bibirnya terkatup rapat. Saya tahu, ia gundah. Tapi, mungkin agak sedikit lega. Akhirnya ia bisa bebas, lepas dari sekat-sekat yang begitu lama membelenggu.
The blog is dead, but not the ideas. Ah, ia sudah bisa tersenyum. Saya lihat matanya menyala-nyala. Ada saga di sana.
Sebab memang, ketika pedang ditanggalkan, dan ilmu tertinggi adalah kekosongan — seperti halnya Bukek Siansu yang bahkan tak berbaju dan tak bersandal — apa lagi yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri? « Read the rest of this entry »
Sabu-sabu Pecas Ndahe
November 21, 2007 § 42 Komentar
Lelaki muda itu datang dengan muka rusuh. Bajunya lecek, kumel, dan apak. Rambutnya acak-acakan tanda sudah sepekan tak dirapikan.
Dan, tiba-tiba dia mengajak saya ngobrol begitu saja.
“Saya lagi mumet nih, Ndoro?” begitu kalimat pembukanya.
“Mumet? Kenapa?” saya bertanya.
“Saya jatuh cinta. Perempuan itu cantik dan pintar.”
“Wah, bagus dong. Kenapa sampean jadi lecek begitu? Bukankah jatuh cinta itu menyegarkan?”
“Seharusnya begitu, Ndoro. Tapi, ini lain.”
“Lain piye?” « Read the rest of this entry »



