Kristina Pecas Ndahe

Juli 21, 2007 § 14 Komentar

Halah, sampean akhirnya mengikuti jejak yang lain. Kenapa, Nduk? Ya sudahlah … Mari kita nyanyikan sama-sama lagu Jeng KD itu:

Maafkan ku harus pergi
Ku tak suka dengan ini
Aku tak bodoh
Seperti kekasihmu yang lain
Terima kasih oh Tuhan
Tunjukkan siapa dia
Maaf kita putus
So thank you so much
I’m sorry good bye …

Uhui … šŸ˜€

Gunawan Pecas Ndahe

Juli 20, 2007 § 6 Komentar

… dan bakal kabur lagikah dia?

PSSI Pecas Ndahe

Juli 18, 2007 § 19 Komentar

Petang nanti, hanya beberapa jam lagi, sebuah tribute mungkin akan ditulis oleh para penyair, pujangga, wartawan, juga para pengeblog untuk tim sepak bola nasional Indonesia (PSSI).

Pasukan yang dilatih Ivan Kolev itu akan menghadapi kesebelasan Korea Selatan di ajang Piala Asia 2007. Kalau menang, berarti ini untuk pertama kalinya tim Merah-Putih lolos ke perempat final. Sebuah rekor baru. Sejarah. Jika kalah, maaf saudara-saudara, kita masuk kotak.

Tapi, rasanya tak penting benar kita menang atau kalah. Hari-hari ini kita telah melihat bagaimana bergeloranya semangat dan manisnya sikap para suporter, fans, pendukung Ponaryo Astaman dan kawan-kawan. Lihatlah ketika mereka ikut menyanyikan Indonesia Raya. Betapa bergemuruhnya teriakan mereka. Betapa hasrat, passion, telah menyatukan mereka dalam sebuah dukungan bersama.

Terus terang, hari-hari ini, saya jadi ikut bergetar karenanya. Belum pernah rasanya, tim sepak bola kita membuat para pendukungnya begitu sensitif. Sentimentil. Benarkah karena ini merupakan semacam simbol dari seberkas cahaya di ujung lorong yang gelap? « Read the rest of this entry »

Bos Pecas Ndahe

Juli 18, 2007 § 16 Komentar

Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana …

Ruangan para bos terletak di belakang pabrik, terpisah dari bangunan utama. Luasnya sekitar dua puluh meter persegi, cukup lapang untuk menampung para bos yang cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki. Bagian luar ruangan mereka berwarna putih. Bersih. Kami, para buruh, menjulukinya White House.

Dinding dalamnya yang tak disemen juga dicat putih. Foto-foto mereka dalam pelbagai ukuran tertempel di dinding kiri dan kanan – di antara lemari kayu berisi ratusan buku dan lemari kaca berisi piala, plakat, dan benda-benda memorabilia lainnya – menyerupai pameran simbol kesuksesan atau narsisme mereka. Ada foto bos sedang bersalaman dengan presiden dan menteri-menteri, bos merangkul seorang pejuang Afganistan, bos menerima penghargaan dari seorang utusan Bank Dunia, bos di atas kapal pesiar seorang taipan, dan banyak lagi.

Di dinding belakang terdapat dua jendela lebar dengan gorden kain broken white tanpa corak. Di tengah ruangan ada dua meja besar dengan masing-masing satu komputer di atasnya. Dari perangkat kerja yang tersambung oleh sebuah sistem jaringan itulah para bos memantau proses kerja para buruh. « Read the rest of this entry »

Bedes Pecas Ndahe

Juli 17, 2007 § 18 Komentar

Kemarin saya ikut terkena Monday rush: ikut repot bangun pagi menyiapkan bedes-bedes cilik itu memulai tahun ajaran baru.

Tak terasa liburan sekolah sudah selesai dan anak-anak mesti masuk kelas lagi. Si sulung naik kelas dua SD, si bungsu masuk TK.

Tapi, bukan persiapan yang penuh gerak akrobatik itu yang bikin saya ngakak. Sepulang sekolah, bedes sulung saya itu tiba-tiba bertanya begini …

Sulung: Ayah tahu nggak bahasa Inggrisnya ibu mendorong sapi?
Saya : Tahu dong, tapi kenapa kamu tanya itu?
Sulung : Ah pokoknya ayah jawab dulu
Saya : Oke deh, bahasa Inggrisnya ibu mendorong sapi ya Mother pushes cow
Sulung : Salah, weeek …
Saya : Kok salah? Emang yang bener apa dong, nak?
Sulung : Mampus kauw (mom push cow) … hahahaha … Ayah aku bohongin …
Saya : ???#$$%??

Rupanya teman sekolah baru membuat anak saya mendapat gojek kere baru pula. Dasar bedes!