Berlian Pecas Ndahe

Juli 16, 2007 § 28 Komentar

Hujan mengamuk. Sesekali garis kilat menyambar dan memecahkan tirai hujan menjadi air terjun berlian yang berkilauan. Matahari bersembunyi di pojok kegelapan …

Hawa dingin pagi hari yang tak tertahankan membuat saya mandi cepat-cepat. Lagi pula saya harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa bagian lagi. Sebentar lagi para bos datang dan menagih semuanya. Bisa gawat urusannya kalau saya melanggar waktu yang sudah mereka tetapkan.

Hampir tengah hari ketika saya membubuhkan titik terakhir sebagai penutup pekerjaan. Tinggal kirim via jaringan. Beres. Saya melirik jam di dinding. Hm, waktunya makan. Tapi, makan apa yang enak buat siang-siang yang mendung begini?

Mendadak telepon di meja berdering berbarengan saat saya hendak angkat pantat dari kursi.

Siapa, sih? Bos? Ada tugas yang terlewat? « Read the rest of this entry »

Daendels Pecas Ndahe

Juli 9, 2007 § 26 Komentar

Pernah dengar Jalan Raya Daendels? Aha, yang rajin buka buku sejarah pasti ingat.

Ya, itu sebuah poros jalan yang dibangun pada masa Hindia Belanda, membentang dari Anyer sampai Panarukan. Pembangunan jalan ini diwarnai oleh peluh dan darah pribumi. Pramudya Ananta Toer menuliskan sebuah novel yang bagus tentang jalan itu, judulnya Jalan Raya Pos.

Tapi, suka ndak suka, jalan raya ini telah menjadi urat nadi Pulau Jawa, membuat roda ekonomi bergulir lancar. Setiap Lebaran, jalan itu bahkan selalu padat oleh pemudik.

Komunitas :wikimu mengajak teman-teman semua, baik itu penulis, pewarta, blogger maupun fotografer meniti tali sejarah masa lalu dengan menyusuri Jalan Raya Pos dalam acara Rally de Bloggers Postweg. « Read the rest of this entry »

Tujuh Pecas Ndahe

Juli 7, 2007 § 27 Komentar

Saya cuma mau mengingatkan betapa uniknya kombinasi angka waktu digital yang menggambarkan hari ini — sesuatu yang tak akan pernah terulang lagi.

Adakah sampean memikirkannya hari ini?

Kinky Pecas Ndahe

Juli 5, 2007 § 27 Komentar

Sejarah bisa dimulai dari sebuah ketidaksengajaan. Hanya butuh satu menit untuk membuatnya.

Tak selamanya Diajeng mengirim email berisi rasa cemasnya, ketakutan, atau kekangenannya pada saya. Sering kali ia juga menulis sesuatu yang remeh temeh atau sebaliknya justru serius. Ia misalnya pernah bertanya, “Mas tahu nggak, butir-butir Pancasila itu apa aja sih?“

Halah. Opo tumon sih? Mosok butir-butir Pancasila ditanyakan? Siapa yang hapal? Lagi pula ketika dia mengirim email waktu itu saya sedang ditunggu-tunggu para bos yang ingin segera tahu hasil proyek yang tengah saya kerjakan. Tapi, Diajeng mendesak, minta emailnya segera dibalas saat itu juga.

Terpaksa saya telepon. Ketika saya tanya mengapa ia menanyakan butir-butir Pancasila dan bukan butir-butir pasir di laut, ia langsung menelepon saya. Sambil ngakak ia menjawab, “Iseng aja, Mas. Abis, Masnya nggak nelepon-nelepon sih …”

Kali lain ia mengajak saya mengulas film yang baru saja kami tonton. Pernah juga ia mengirim email tentang sesuatu yang sangat lain daripada sebelumnya. Sesuatu yang berbeda. A kinky one. « Read the rest of this entry »

Kenangan Pecas Ndahe

Juli 4, 2007 § 18 Komentar

Gambar-gambar kenangan itu hidup lagi
Menari di atas pentas hati. Tapi, ia lekas pergi …

Membuka-buka kembali email-email lama Diajeng sama seperti kita membalikkan album foto masa lalu. Setiap surat seolah potret lama yang mengingatkan saya pada kenangan yang tak mungkin terulang lagi. Benar kata orang, dulu cuma abadi di masa lalu. Dan, tak bisa diapa-apakan.

Ada kenangan yang menyenangkan. Tak sedikit yang menyakitkan. Saya pun paham dan bisa menyesap kegetiran yang sama dengan yang Diajeng rasakan dan bicarakan dengan teman perempuannya itu.

It hurts real bad when you know what you want but you just can’t have it. Saya tahu, Jeng. Been there. Done that.

Siang ini, tujuh tahun kemudian, di pabrik yang mulai berdenyut, saya menikmati setiap lembar kenangan dari email-email yang pernah Diajeng kirim. Well, kenangan memang mengasyikkan untuk diulang-ulang, seperti halnya kita juga masih suka memutar lagu-lagu kelas “melodi memori” itu. « Read the rest of this entry »