Menanti Pecas Ndahe
Desember 10, 2007 § 17 Komentar
Kepada bayangan senja yang bersembunyi di balik cahaya. Yang bersahaja seperti nyanyi. Terima kasihku kepadamu yang telah menanti …
dalam pekatnya selimut malam
dalam dekapan angin yang berhembus hangat
bersama para bidadari yang menari di balik rerimbunan bintang
dalam belitan beban yang menindih pundakmu yang kian kuyu
bersama matahari yang meletek setiap pagi
di tengah pikuknya kehidupan yang membiru
di pinggir jalanan yang terus berlari tanpa henti …
Aku tahu, sungguh bukan pilihan yang mudah menanti seseorang yang bahkan tak pernah kau kenangkan dalam mimpi. Aku mengerti. « Read the rest of this entry »
Fuad Pecas Ndahe
Desember 9, 2007 § 21 Komentar
Fuad Hassan adalah seorang guru dengan jejak panjang.
Ia wafat pada usia 78 tahun, Jumat dua hari yang lalu.
Pagi itu, saya lihat Paklik Isnogud sedang memegang selembar koran di depan pabrik. Matanya menatap lekat-lekat pada larik-larik kalimat yang mengabarkan perginya salah satu tokoh besar yang pernah kita punya: Fuad Hassan.
Sebentar kemudian, Paklik meletakkan koran itu. Matanya ganti melihat saya, lalu ke atas, memandang langit. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendesah perlahan … « Read the rest of this entry »
Gerimis Pecas Ndahe
Desember 7, 2007 § 32 Komentar
Aku tak tahu, sayang … Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu dari mana bait-bait itu kudapatkan, dari mana kalam itu kudatangkan.
Mungkin aku memetiknya dalam perjalananku menyusuri jejakmu ke ujung bintang. Mungkin aku mendulangnya dalam petualanganku mengejar bayangmu sebelum cahaya. Mungkin juga dari dirimulah semuanya berasal.
Tapi, adakah bedanya?
Bila matamu masih kelabu. Jika hatimu tetap biru.
Adakah, sayang? « Read the rest of this entry »



