Repetitif Pecas Ndahe

November 29, 2007 § 67 Komentar

Tadi malam, di Jalan Raya Daan Mogot, kilometer sekian, dari arah Jakarta ke Tangerang. Saya sedang mengemudikan kendaraan perlahan-lahan. Tiba-tiba dari jauh terlihat ada gerombolan — sekitar 20 orang — petugas berseragam berdiri di pinggir jalan.

Wah, razia nih. Kebetulan. Sudah lama saya ndak mengumbar keisengan. Show time!

Benar saja. Begitu saya mendekat, salah satu petugas itu melambai-lambaikan tangannya yang memegang sentolop, meminta saya ke pinggir dan berhenti. Lalu terjadilah percakapan ini.

Polisi : Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu perjalanan. Boleh lihat surat-suratnya?

Saya : Silakan. Silakan. Sebentar saya cari dulu … Eh, tapi boleh ndak saya tanya dulu?

Polisi : Siap. Silakan, Pak.

Saya : Bener nih? Janji ndak tersinggung?

Polisi : Siap, tidak Pak. « Read the rest of this entry »

Albar Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 30 Komentar

“Dunia ini panggung sandiwara, cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura-pura … “

Ah, Ahmad Albar mungkin memang sudah menujumkan nasibnya seperti lagu itu. One down, many more to go

Al Gore Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 18 Komentar

Bukankah kabar ini ironis?

It said:

The average household in America consumes 10,656 kilowatt-hours (kWh) per year, according to the Department of Energy. In 2006, Gore devoured nearly 221,000 kWh—more than 20 times the national average.

Inconvenient truth, no?

>> Menanti Sir Mbilung Mac Ndobos mengoceh di blognya soal cara paling praktis dan bisa dilakukan semua orang untuk mengurangi carbon footprint. Syokor …

Megatruh Pecas Ndahe

November 28, 2007 § 30 Komentar

Sebuah kisah jatuh dari dahan ke sungai yang keruh. Ia hanyut ke sana-sini. Bunyinya seperti megatruh, dari jenis yang paling ngelangut.

Seorang lelaki memungutnya, lalu membacanya pelan-pelan. Dahinya mengernyit tanda berpikir keras. Mungkin juga dia tengah berusaha meresapi karena tak sepenuhnya ia mengerti.

Kisah itu dimulai dengan sebutir embun yang merambas dari kelopak mata seorang perempuan. Bulir-bulir bercahaya itu melintasi beranda kwarsa biru abu-abu dan ruangan berwarna jingga menuju ke balairung panjang tempat orang berpesta.

Ia pun melihat di atas ranjang kelabu terbaring seseorang dengan rambut bermahkota mawar, dengan bibir yang jadi merah karena anggur.

Ia mendekat, menyentuh pundak lelaki yang terbaring itu. « Read the rest of this entry »

JakJazz Pecas Ndahe

November 27, 2007 § 41 Komentar

Sudahlah Mas, sudah … simpan saja maaf dan penyesalanmu. Aku tahu bahkan sejak kamu belum mengucap janji itu dan akhirnya tak bisa kau tepati.

Tak usah kau pikirkan lagi kesempatan menonton JakJazz yang lewat begitu saja di depan mata kita. Tak usah kau sesali pekerjaan yang menahan langkahmu itu. Tak usah kau ingat lagi perintah tuan-tuan yang membuatmu tak bisa menjemputku itu.

Tahun depan toh JakJazz bakal datang lagi. Daripada kau mengutuk waktu yang lenyap, lebih baik menyalakan harap.

Aku tahu JakJazz itu tontonan yang begitu merangsang sensasi dan menggoda imajinasimu. Aku juga paham betapa kau ingin menunjukkannya padaku.

Tapi, buat aku, kamulah sesungguhnya pertunjukkan hidup yang tak pernah kehabisan pesona. Warna-warni JakJazz bukan apa-apa dibanding seluruh denyut dan gairah kehidupan yang kau tunjukkan setiap hari kepadaku. « Read the rest of this entry »