Brondong Pecas Ndahe

Agustus 28, 2007 § 34 Komentar

Kali ini saya mau mengajak sampean berbicara tentang brondong. Hohoho … bukan cemilan dari jagung itu, Ki Sanak. Ini tentang pria-pria muda yang mencari [atau sudah punya pasangan] perempuan yang lebih tua itu.

Kenapa brondong? Karena laki-laki usia 20-an itu ‘napsuan’. Beda banget dengan pria-pria di atas 30-an yang lebih matang dan tahu apa yang diinginkan.

“Kalau lelaki twenty something itu berhubungan dengan perempuan thirty something – yang lebih matang dan tahu apa yang dirinya mau – si perempuan jadi merasa ‘capek deh’.”

Itu bukan kata-kata saya lo, Ki Sanak. Itu komentar teman saya, perempuan kemayu tapi baik hati itu. Demi keamanan bersama, nama dan link blognya ndak saya tulis di sini, kecuali dia berubah pikiran, hehehe … « Read the rest of this entry »

PLN Pecas Ndahe

Agustus 27, 2007 § 27 Komentar

SEMENA-MENA | Tanggal berapa batas akhir pembayaran rekening listrik PLN? Pada tanggal 20 bulan berjalan? Salah!

Saya baru tahu pagi ini ketika tiba-tiba melihat ada stiker mencolok warna merah di kaca jendela rumah saya, persis di sebelah meteran PLN terpasang. Ketika saya baca, stiker itu ternyata berisi pengumuman dari PLN, bahwa batas akhir pembayaran diajukan jadi tanggal 10 setiap bulan. « Read the rest of this entry »

Ciuman Pecas Ndahe

Agustus 27, 2007 § 31 Komentar

HALAH | Beginikah kelakuan anak-anak sekolah zaman sekarang, berani berciuman sesama jenis bahkan di depan umum? Saya ndak tahu. Tanyakanlah pada Pujiono yang mengirimkan foto ini ke saya. Mungkin saya saja yang terlalu tua untuk bisa memahami tingkah anak-anak sekolah masa kini. Mungkin juga ini memang tanda-tanda dunia yang semakin tua … Bagaimana komentar sampean, Ki Sanak?

Pohon Pecas Ndahe

Agustus 24, 2007 § 20 Komentar

Sebatang pohon bisa bercerita tentang banyak perkara: seks, kemasyhuran, uang, juga kekuasaan. Saya beroleh kisah ini setelah melihat kiriman foto-foto dari kawan lama saya, Mas Gandrik.

Adalah Paklik Isnogud yang bercerita tentang pohon itu. Seperti biasa, menjelang salat Jumat, sebagai bekal menghadapi siraman rohani dari khatib di masjid nanti, saya memang sering meminta Paklik bertutur tentang hidup dan lain-lain.

“Kalau sampean mau belajar tentang hidup, dengarlah dongeng tentang kalpataru, Mas,” kata Paklik memulai ceritanya.

“Kalpataru? Kenapa, Paklik?” « Read the rest of this entry »

Gogon Pecas Ndahe

Agustus 23, 2007 § 22 Komentar

Sampean tahu Margono alias Gogon kan? Iya, Gogon yang pelawak anggota Srimulat itu. Nah, pelawak yang punya ciri khas jambul di ujung kepalanya itu ditangkap polisi pada Rabu dini hari lalu di rumahnya di Tangerang karena sering ngisep sabu-sabu.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala membaca berita itu. Apalagi setelah tahu pengakuan Gogon bahwa ia bisa terjerat barang laknat itu gara-gara pergaulan di kalangan artis [tuh … kan, makanya saya ndak mau jadi artis, hehehe …].

Dunia artis, dunia yang gemerlap, memang sering disebut-sebut dekat dengan dunia kenikmatan sesaat yang bisa membawa celaka. Gogon bukan yang pertama. Beberapa rekannya sesama pelawak, seperti Polo, Doyok, dan Derry, juga artis lain seperti Roy Marten, sudah lebih dulu masuk hotel prodeo karena tersandung kasus yang sama: narkoba.

Mengapa mereka sampai bisa terjerat narkoba? « Read the rest of this entry »