Home Pecas Ndahe
Juni 18, 2007 § 23 Komentar
There’s no place like home. Itu sebabnya ada ungkapan home sweet home. Tapi, saya baru benar-benar merasakannya malam itu, setelah mengantarkannya pulang ke rumah ibunya.
Yeah, I am finally home … after all of those jumpin’ around feelin’.
Saya mendapati rumah dalam keadaan gelap. Anak-anak dan ibunya pasti sudah dari tadi terlelap. Saya lirik arloji. Hm, sudah hampir pagi. Pelan-pelan saya membuka garasi dan pintu rumah biar ndak membuat mereka terbangun.
Benar saja. Di dalam kamar, saya lihat anak-anak sudah tidur dengan gaya masing-masing. Si sulung, seperti biasa, bergaya bebas. Ranjangnya berantakan. Bantalnya di mana, gulingnya di mana, dia sendiri telentang ndak keruan.
Si bungsu, juga seperti biasanya, tidur dalam posisi yang tak pernah berubah, nyaris tak bergerak. Saya menduga ini pasti turunan ibunya. Hanya perutnya yang naik turun saja yang menunjukkan bahwa dia masih bernapas. Mungkin memang begitu beda anak perempuan dan anak laki-laki kalau tidur. « Read the rest of this entry »
Ruang Pecas Ndahe
Juni 15, 2007 § 37 Komentar
Hati yang luka. Jiwa yang kosong.
Ke mana harus berlabuh.
Sedang daun-daun kering pun terbawa angin …
Saya pernah membaca bait-bait itu di buku harian kawan perempuan saya itu, bertahun yang lalu. Ia memamerkannya ketika kami sama-sama sedang keranjingan belajar menulis puisi.
Saya lupa kenapa waktu itu kami seperti itu. Mungkin gara-gara kami baru saja menyaksikan sebuah pertunjukkan baca puisi di Taman Ismail Marzuki. Atau barangkali setelah kami menonton DVD lawas, Dead Poets Society untuk yang kesepuluh kalinya. Entah. Saya tak ingat.
Malam itu, anehnya, saya tiba-tiba ingat puisi itu ketika dia meminta saya menemaninya tinggal sejenak di apartemennya. Saya tahu hatinya sedang terluka. Karena itu, ia pasti membutuhkan seseorang untuk berbincang — seperti biasanya dulu. Tapi, menuruti permintaanya cuma akan membuat persoalan kian rumit. Saya ndak mau memanfaatkan kesempatan.
Sesaat, saya tertegun dalam bimbang. Saat itulah, handphone-nya menjerit nyaring. Sebuah SMS masuk. Ia kaget. Aha, saved by the bell. « Read the rest of this entry »
Prada Pecas Ndahe
Juni 14, 2007 § 36 Komentar
Bayangkanlah Anne Hathaway dibungkus Prada. Kulit langsat. Hidung mbangir. Bibir merah merekah. Dada padat.
Malam itu saya akhirnya mengantarkan sosok yang dalam imaji saya adalah Anne Hathaway mencari taksi beberapa meter dari kedai kopi tempat kami bertemu. Jalanan sepi. Sedikit gelap. Kawan perempuan saya itu berkali-kali melirik arloji Bvlgari yang melingkar di tangannya. Sesekali dia menarik dan menengok handphone Nokia merah hati dari tas tangan Prada maroon, barangkali ada SMS yang masuk tapi tak terdengar bunyinya.
“Ada yang ditunggu, Jeng?” saya berbasa-basi memecahkan keheningan di antara kami.
“Ah, enggak Mas,” jawabnya singkat. Tapi saya tahu matanya sangat gelisah.
Setelah hampir setengah jam, yang kami tunggu tak lewat juga. Saya menawarkan diri mengantarnya pulang naik gerobak butut hitam itu. « Read the rest of this entry »
Lajang Pecas Ndahe
Juni 13, 2007 § 24 Komentar
Lelaki yang baik jidatnya udah ada tempelannya, sold out. Yang tersedia tinggal remah-remah, yang ndak mutu, ndesit, katro.
Ups. Itu bukan kata saya, loh. Itu kata seorang teman perempuan saya. Lajang. Umurnya baru thirty something. Smart and charming.
Kami berjumpa di sebuah kedai kopi di jantung Ibu Kota pada sebuah malam. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, wetan-kulon, topik pembicaraan kami sampai ke tema-tema kosmopolitan. Salah satunya ya itu tadi, soal relasi Mars dan Venus. « Read the rest of this entry »
Napi Pecas Ndahe
Juni 12, 2007 § 16 Komentar
Inilah salah satu tikungan mengejutkan yang saya temui di dunia yang semakin tua: Bahkan para narapidana pun sekarang memanfaatkan blog. Saya mengetahuinya lewat Sir Mbilung Mac Ndobos via YM tadi siang.
Wis tau moco blog asosiasi napi indonesia? begitu ia mendadak bertanya.
Halah, blog napi? Antara terkejut dan penasaran, saya langsung menuju ke TKP. Eureka. Benar saja. Begitu saya klik, sebuah blog dengan header mencolok terpampang di layar. « Read the rest of this entry »


